17
Sep
09

Hukum Rajam Ternyata Tidak Terdapat di Al Qur’an

“firdaus cahyadi” <firdaus_c@yahoo.com> , MediaCare, 16 September 2009

Hukum Rajam Ternyata Tidak Terdapat di Al Qur’an. Lho lantas mengapa Aceh akan menerapkan hukum rajam ya?

Mungkin tulisan ini dapat memberikan pencerahan bagi kita semua terkait hukum rajam dalam Islam

Menurut Prof. Dr. Azyumardi, ( kini Rektor UIN Jakarta), Rajam hukum sampai mati ( stoning to death ) bagi pezina laki-laki dan perempuan yang sudah atau pernah menikah ( muhshan ) harus diakui merupakan hukum hudud, yang kontraversial, di kalangan ulama dan fuqaha. Terdapat perbedaan pendapat tentang hukum dasarnya ( dalil naql ), baik penetapan hukum rajam, maupun metode pelaksanaannya.

Dalam Al- Quran, tidak ada sebuah ayatpun yang memerintahkan, harus di rajam orang yang telah berzina, jika telah pernah nikah. Yang ada, dalam Al-Quran, hanyalah perintah cambuk, seratus kali. Dapat dilihat pada ayat yang artinya : “ Perempuan yang berzina, dan laki-laki yang berzina, maka deralah keduanya, ( masing-masing ) seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka, disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang beriman “ (QS. Al-Nur ( 24 ) : 2).

Mengenai ayat lain yang ditafsirkan sebagian Ulama yang menggiring kaum penzina di rajam, yaitu : “ Terhadap wanita yang mengerjakan perbuatan “ fahisyah ” (keji), hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu, yang menyaksikannya. Kemudian apabila empat saksi itu telah memberikan penyaksian, maka kurunglah ( wanita-wanita penzina itu ) dalam rumah sampai menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya “ ( QS.al-Nisa’ (4) :l5).

Dari kedua ayat tersebut diatas, ( S. Al-Nur 2 dan S. Al-Nisa l5 ), jelas sekali, tidak menggunakan kata rajam. Yang ada, hanya kata “dera seratus” dan mengurung di rumah sampai ajalnya datang, atau ada cara lain. Disamping itu, khusus surah Al-Nur l5 dengan kata “ fahisyah ” itu, ada dua tafsirnya. Pertama zina biasa, yang kedua, zina luar biasa, yaitu antara perempuan dengan perempuan ( homoseks ). Berarti, belum tentu zina biasa dan itupun hukumannya bukan rajam. Kemudian syarat yang lebih besar dalam persaksian, ada empat orang saksi mata melihat langsung secara transparan, ( maaf ), persis pedang dimasukkan ke dalam sarungnya. Apa mungkin hal ini terjadi bagi orang normal ?. Hampir mustahil. dapat disaksikan.

Hadis dha’if:
Yang digunakan oleh ulama yang cenderung ” menghukum rajam ” kaum penzina muhshsan ( yang sudah kawin), adalah hadis ahad ( dha’if ). Dari seorang perawi Ubadah bin Shamit saja. Katanya Nabi bersabda : “ Ambillah olehmu dariku, Allah telah membukakan jalan bagi mereka; lajang dengan lajang, dicambuk seratus kali, dan dibuang selama setahun, janda dengan duda, dicambuk seratus kali dan di rajam “.

Jika kita perhatikan hukum yang bersumber dari hukum pertama Al-Quran, dan sumber kedua Hadis, jelas ada perbedaannya. Al-Quran hanya menyebut dera (cambuk) seratus kali ( lajang atau janda ), sedang Hadis menambah “ dibuang satu tahun ” ( lajang ), dan di rajam” ( janda ).

Mengenai kedudukan hukum pertama dan kedua, selalu berbeda. Satu dari Allah dan yang satu dari Nabi. Karena Hadis tidak selalu penjelasan dari Al-Quran, dan juga tidak selalu berlaku universal, tapi terkadang hanya local saja. Maka kita harus hati-hati dan memahaminya juga lain. Apalagi kalau Hadisnya ahad ( dha’if ). Mengenai Hadis dha’ifpun, ulama Syafie memakainya, jika menyangkut ibadah atau fadhail amal ( pahala-pahala dalam amal ), supaya merangsang pengamalan. Tapi, jika menyangkut hukum, ulama Sunni termasuk Syafie, juga menolak menjadikan rujukan.

Karena adanya kemusykilah dalam hukum rajam tersebut, maka negeri-negeri Islam terjadi penetrapan hukum ini kontraversial. Negara-negara yang menulis dalam konstutusinya berlandaskan Al-Quran, seperti Saudi Arabiyah dan negara-negara Teluk, berusaha menerapkannya. Sebaliknya, negara-negara yang mengadopsi hukum pidana Barat seperti Mesir, Syria, Aljazair dan Maroko tidak memberlakukan hukum rajam.
Di Pakistan sendiri, pernah terjadi diskusi panjang, tentang hukum rajam dengan mengambil qiyas, di zaman nabi, lalu disepakati, bahwa sebenarnya hukuman rajam, tidak ada dalam Al-Quran. Karena itu hukum rajam yang dijalankan sebagian negeri Islam, merupakan hukuman tambahan berkenaan dengan hak Allah ( hudduullah yang diputuskan secara ta’zir, kebijakan hakim ). Karena kebijakan hakim yang sangat berperanan, maka dera seratus pun dianggap hukum maksimal, lalu memperlakukan yang minimal, yaitu hanya di dera 25 kali, seperti yang dipraktekkan di Sudan.

Yang pernah dipraktekkan Rasul sebelum turunnya Surah al-Nur, sehingga tidak ada ketentuan ini berlaku universal, dan masih harus dilaksanakan yaitu “ Seorang lelaki mendatangi Rasul lalu berkata, “ ya Rasul saya telah berzina “, tapi Rasul tidak menghiraukan dan memalingkan muka, sehingga lelaki itu mengulang sampai empat kali, dan pergi mencari 4 saksi, setelah menghadap Rasul, dengan saksi-saksinya, baru Rasul bertanya, “ apa kamu tidak gila ?’. Di jawab “ tidak “. Kemudian Rasul bertanya lagi, “ apa kamu sudah pernah nikah ?. “ Dijawab “ya”, Kalau begitu, bawalah orang ini dan rajamlah “ ( HR. Bukhari ).

Jika seorang hakim mengambil hukum qiyas dari hadis dhaif dari Ubadah diatas, atau menggunakan hadis yang sudah mansukh dengan turunnya Surah al-Nur dengan menambah kata “ rajam ” atau meyakini bahwa riwayat Bukhari bersifat universal dan bukan local, serta masih berlaku, mengapa Rasul ketika dilapori 4 kali baru mau menoleh menerima laporan ?. Hakikatnya, agar menghindarkan si pelapor, dari hukuman, karena dasar utama Islam adalah etika ( makarim al- akhlaq ). Tapi terlihat sipelaku sendiri terlalu bernafsu mau sekali dihukum, lalu dijalankan.

Seorang hakim perlu mengetahui, bahwa Al-Quran tidak pernah menyebut istilah “rajam” secara akspelisit. Satu-satunya ayat yang ada adalah istilah “ fahisyah ” itupun mutasyabihat ( meragukan )..

Jadi menurut hemat penulis, dalil “merajam” penzina itu lemah sekali. Itulah sebabnya sehingga di Negara Islam Pakistan sudah menghentikan hukum rajam, setelah selesai diskusi panjang ulama, mengenai rajam, yang tidak ditemukan satu ayatpun dalam Al-Quran.

Akhirnya, berdasarkan uraian singkat diatas, yakni alasan rajam, menggunakan ayat “fahisyah” ( mutasyabihat ) atau hadis dhaif atau hadis yang sudah mansukh dengan turunnya surah Al-Nur, maka kita doakan, semoga banding terakhir bagi TKW Kartini, dapat lolos dari hukum rajam maut yang musykil. Apalagi menurut pengakuannya dilakukan karena dipaksa, sekalipun berteriak keras, tidak ada seorangpun yang mendengarnya. Maka kebijakan ta’zir hakim, hendaknya berlaku lunak, terhadap seorang wanita yang terpaksa jadi pembantu. Dan yang lebih penting diketahui, hukum rajam itu sendiri tidak ditemukan secara ekspelisit dalam Al-Quran. ( Wa Allahu a’lam ).

sumber: http://islam- itu-indah. blogspot. com/2007/ 11/hukum- rajam-yang- meragukan. html

About these ads

27 Responses to “Hukum Rajam Ternyata Tidak Terdapat di Al Qur’an”


  1. 1 MIFTAH
    September 18, 2009 at 7:42 am

    PAK, ISLAM ITU MEMANG AGAMA YANG INDAH SERTA TIDAK MENYUKAI KEKERASAN, SAYA SEPAKAT DENGAN HAL TERSEBUT.ISLAM MENGAJARKAN ATURAN-ATURAN YANG BENAR-BENAR SESUAI DAN PAS DENGAN KEHIDUPAN MANUSIA SERTA ALAM SEKITARNYA YANG DENGAN HAL TERSEBUT KITA AKAN MAMPU MENJAGA KESERASIAN SERTA KEHARMONISAN ALAM SEMESTA. DARI MANA ANDA MENGATAKAN BAHWA HADIS YANG MENGHUKUM RAJAM ADALAH HADIS DLO’IF. APAKAH ANDA BENAR2 TELAH MENGECEKNYA?!…
    KALAU BOLEH TAHU,ANTUM MADZHAB APA. PERLU BAPAK KETAHUI, ISLAM ADALAH AGAMA YANG BIJAK. SEKARANG KITA LIHAT SEKARANG, BERAPA BANYAK TERJADI ABORSI DIMANA2 YANG NA’UDZUBILLAH MIN DZALIK, JIKA ANDA TAHU VIDEO2 YANG MENGGAMBARKAN ABORSI TENTUNYA ANDA PASTI BERFIKIR, INI MANUSIA ATAUKAH BINATANG ?! HEWAN SAJA TIDAK ADA YANG BERANI MEMBUNUH ANAKNYA SENDIRI.
    SEDANG HUKUM RAJAM ADALAH UNTUK MENCEGAH DARI HAL-HAL SEPERTI ITU.
    JADI SAYA MAKSUD, ADALAH ANDA LEBIH BERFIKIR KE AKIBAT, JANGAN DITURUTKAN HAWA NAFSU. COBALAH KITA LEBIH MENGKAJI AGAMA ISLAM INI DENGAN LEBIH BAIK SUPAYA KITA TIDAK TERSESAT.
    HIDUP CUMA SEKALI, NAMUN INI MENENTUKAN KEHIDUPAN KITA YANG SELAMA-LAMANYA.

    DARI SAUDARA YANG PEDULI PADAMU.

  2. 2 Saudara
    September 19, 2009 at 4:07 pm

    Dari seorang saudara yang lebih peduli pada sesama saudara Muslim.

    Siapapun yang bicara tentang aborsi di atas, darimana Anda pernah dapat atau lihat video aborsi? Kalau Anda pernah lihat, kenapa Anda lihat? Apa yang membawa Anda sampai menemukan video tentang aborsi tersebut? Anda tahu berapa angka persisnya orang yang melakukan aborsi?

    Anda mengaku Islam, Anda mengaku menyembah Allah yang satu dan berpegang pada Kitabullah Al Qur’an. Anda pikir Tuhan lupa memasukkan hukum rajam ke dalamnya?

    Anda pikir kalau di Qur’an tidak ada harus ditambahi sendiri oleh manusia, karena siapa tahu Qur’an belum lengkap, belum sempurna dan Tuhan lalai?

    Istigfarlah Anda semua yang berpikir bahwa hukum Tuhan (sebagaimana tertera di dalam Qur’an) masih kurang.

    Mohon baca lagi sejarah bagaimana asal-usul munculnya yang namanya hadits. Hadits tidak dibukukan sampai ratusan tahun setelah Rasulullah SAW meninggal. Beliau sendiri pada masa hidupnya melarang membukukan hadits karena khawatir membingungkan umat dengan hukum Qur’an.

    Saya menulis ini juga karena peduli pada umat kita. Umat Islam yang sudah berabad-abad terbelenggu tradisi tidak menentu yang berasal dari “hadits”, dan justru lupa atau malas merujuk pada kitab sucinya sendiri. Mari kita semua kembali ke Qur’an dan memurnikan pengamalannya. Mari kita baca dan MENGERTI BAHASANYA sehingga bisa menerapkannya.
    Allah SWT tidak lupa. Allah memasukkan semua yang kita perlukan dalam kitab-Nya. Tidak ada yang terlewat. Bila ada yang tidak ada di Quran, berarti sengaja ditiadakan-Nya.

    Satu lagi, tolong baca dengan hati-hati di mana para pencabul TKI itu berada?

    Ya betul. Di negara Islam yang menereapkan hukum rajam itu sendiri, di Arab Saudi atau negara tetangga dekat misalnya. Di mana lelakinya berjanggut, bersurban, tetapi merasa memiliki semua perempuan yang menjadi pembantu (“Budak”) mereka. Zina itu perbuatan 2 pihak, ada aborsi, berarti juga ada lelaki yang menjadi biangnya.

    Jadi apakah hukum rajam akan menghentikan zina dan aborsi, TIDAK.

    Memahami Qur’an dan menerapkannya dengan benar itu yang akan mengatasi masalah.

    Mari kita pecahkan masalah tanpa menimbulkan masalah baru. Kalau yang gatal di kaki jangan garuk punggung, ya….

    Salam peduli…

  3. October 8, 2009 at 9:56 pm

    Thank you for your topic and subtraction

    This wedding location in which such and such language in order to benefit all

    And a thousand thanks to you

    Holy Quran translated into English

    http://www.mp3allah.com/Quran-En-Book/index.html

    Holy Quran translated into Spanish

    http://www.mp3allah.com/Quran-Es-Book/index.html

    Holy Quran translated into German

    http://www.mp3allah.com/Quran-Dm-Book/index.html

    Holy Quran translated into French

    http://www.mp3allah.com/Quran-Fr-Book/index.html

  4. 4 andara
    October 18, 2009 at 12:45 pm

    ^
    setuju saya
    TELAH KUSEMPURNAKAN UNTUKMU AGAMAMU…………ini menandakan alquran sudah lengkap
    dan
    satu lagi
    yg paling saya cemas adalah….jika kita menerima hukum rajam = hukum islam, maka kita juga harus menerima adanya ayat yg diganti?
    saya koq jadi teringat

    ayat yg kurang lebih berkata ” belum senang mereka(KAFIR) samapai kamu mengikuti ajaran mereka….

    Alquran sudah dipastikan ke-absahanya, sementara hadist?

  5. 5 sabar
    October 20, 2009 at 1:14 am

    bagaimana dengan ayat yang mengatakan “laki-laki yang telah tua dan perempuan yang udah tua apabila berzina maka rajamlah mereka berdua

  6. 6 Fudd
    November 17, 2009 at 9:00 pm

    ayat berapa dan surat apa itu kang sabar?

  7. 7 Fudd
    November 17, 2009 at 9:03 pm

    marilah kita fahami islam secara kaffah, dan setelah itu kita amalkan.

  8. April 6, 2010 at 4:18 pm

    ya Quran sudah sempurna, kalau Quran tidak membikin ketentuan Rajam kenapa mesti ada rajam? emang Nabi boleh bikin hukum keluar dari Quran, ini loh dasarnya :

    10:15 Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: “Datangkanlah Al Qur’an yang lain dari ini atau gantilah dia”. Katakanlah: “Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)”.

    69: 44 Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami,

    69: 45 Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya.

    69: 46 Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.

    69: 47 Maka sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu.

    69: 48 Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

    orang yang masih percaya dengan hukum rajam hendaklah berhati-hati karena sama halnya kita memfitnah nabi, betul?

  9. 9 obos
    June 25, 2010 at 8:11 pm

    Bagaimana dengan 2 hadist ini..

    Diriwqayatkan dari Abdullah bahwa dia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa Tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah Rasul Allah, kecuali dengan salah satu dari tiga hal berikut ini, yaitu: orang yang menghilangkan nyawa orang lain, orang yang sudah pernah menikah berbuat zina, dan orang yang meninggalkan agama memisahkan diri dari jama’ah (Islam). (H.R. Al Bukhari dan Muslim)

    Abu Hurairah dan Khalid Al Juhani berkata : “Ada seorang A’rab (dari badwi menemui Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: Ya Rasulullah saya meminta kepada Engkau dengan nama Allah agar Engkau memutuskan untuk kami dengan Kitab Allah. Temannya yang lebih faqih (pandai) berkata : “Betul ! putuskan urusan kami dengan Kitabullah dan izinkan kami berbicara.” Rasulullah mempersilahkannya : ”Silahkan”. Orang itu berkata: “Anakku ini bekerja di rumahnya, lalu berzina dengan isterinya. Dan saya diberitahu bahwa anak saya wajib dirajam, lalu saya tebus dengan seratus kambing dan seorang budak perempuan. Kemudian ketika saya bertanya kepada ahlul-ilmi (ulama), ia katakan bahwa anak saya wajib dikenakan hukuman cambuk seratus kali dan diasingkan setahun, sedang bagi wanita itu rajam. Rasulullah bersabda:“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh aku akan memutuskan persoalan kamu berdua dengan Kitabullah. Seratus kambing dan budak perempuan dikembalikan kepadamu. Dan anakmu harus dicambuk seratus kali dan diasingkan selama satu tahun. Dan pergilah kamu, wahai Unais, tanyakan pada wanita itu, jika mengakui maka rajamlah. Dia (rawi hadits ini) berkata : “Maka keesokan harinya Unais berangkat menemui wanita itu, dan dia mengaku. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk rirajam. (Hadits Muttafaq alaih)

  10. 10 Aguscrott
    August 20, 2010 at 8:31 am

    Dasar pendusta agama.

  11. September 1, 2010 at 10:00 pm

    TS katakan : “Yang digunakan oleh ulama yang cenderung ” menghukum rajam ” kaum penzina muhshsan ( yang sudah kawin), adalah hadis ahad ( dha’if ).

    Sejak kapan hadist Ahad = hadits dha’if ?

    Belajar dulu ilmu Mustholahul Hadits, baru anda boleh berkomentar tentang hal di atas.

    Setahu saya, Hadits Ahad = Hadits yang belum mencapai derajat mutawatir

    Hadits Ahad, jika dilihat dari sisi sanadnya bisa terbagi pada 3 bagian : Shahih, Hasan, dan Dha’if.

    Nah, kalau sudah begini, maka tampak jelas tulisan anda ini tidak ilmiah sama sekali.

  12. 12 abu usman
    September 6, 2010 at 9:15 pm

    Hukum dasar agama Islam adalah Alquran dan assunnah, kedua-duanya tidak dapat dipisahkan dan tidak bisa di pertentangkan. kalo kita hanya menggunakan Alquran saja dan meninggalkan sunnah/hadist maka termasuk orang yang ingkar sunnah/hadist,orang yang ingkar sunnah berarti kufur keluar dari islam. perkataan nabi adalah wahyu dari Allah swt jika ingkar dengan hadist Nabi berarti ingkar pula kpd Allah Swt.Hadist Nabi ditulis sejak nabi masih hidup oleh para sahabat Nabi seperti Ali bin abi tholib, Abdullah bin umar, Muawiyyah dan sahabat yg lainnya.Hadist Ahad bisa dipakai jika perawinya terpercaya. menentukan hadist shohih atau dhoif adalah hak ulama hadist/ahli hadist bukan sembarangan orang.Urusan dunia saja harus diserahkan pada ahlinya seperti kesehatn oleh dokter, ekonomi oleh ahli ekonomi, matematik oleh ahli matematik dan lain sebagainya.

  13. 13 muslim aja
    September 28, 2010 at 12:12 am

    Jawabannya ada di Al-Quran
    An-Nissa 15-16-17

    Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan lain kepadanya. [Q.S 4:15]

    16. Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya, kemudian jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. [Q.S 4:16]

    17. Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. [Q.S 4:17]

    Jika Rajam = Hukuman Utk Pezinah Dgn Mengubur 1/2 Badan Kemudian Dilempari Batu SAMPAI MATI..!
    Sebagaimana dijelaskan dalam An-Nissa 16:
    “…..kemudian jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka…..”
    Jika HUKUM RAJAM DITERAPKAN, Maka:
    Mereka TIDAK BISA BERTAUBAT, dan TIDAK MUNGKIN MEMPERBAIKI DIRI

    Wallahu Alam Bishawab

  14. September 28, 2010 at 12:25 am

    Masalah Hadits, sebaiknya kita harus lebih jeli lagi, mengenai matan-nya, sanad-nya (perawinya)..
    Jangan sembarangan membeberkan Hadits.. Banyak pembaca dan umat muslim yang bukan ahli Hadits, dan mereka akan menelan mentah2 semua hadits, baik Hadits Shahih maupun Dha’if..

    Jika salah itu semata-mata datang dari saya, mohon saya dikoreksi..
    Jika benar, itu sungguh datang dari Allah swt..

  15. 15 gugun
    November 15, 2010 at 3:07 pm

    Lha wong jelas hukunm rajam itu biadab kok masih dicari alasan pembenar saja. Lucu………………………….

  16. 16 ahmadinejad
    November 15, 2010 at 3:13 pm

    Hukum rajam ini memang kejam. Sudahlah jangan mencari-cari pembenaran.Kita harus akui bahwa Alqur’an berisi banyak sekali ayat-ayat yang menganjurkan kekerasan. berpikirlah di luar kotak.bukankah ini menunjukan bahwa alqur’an itu sebenarnya bukan berasal dari tuhan yang sesungguhnya.Mana mungkin pesan dari tuhan begitu kabur sehingga manusia bingung dan berdebat tanpa habis, katanya alqur’an itu petunjuk. quran itu bukan pesan tuhan tapi karangan muhammad dan allah itu cuma alter egonya saja makanya kalo diperhatikan baik-baik ayat-ayat di dalam alqur’an itu sebenarnya cuma pembenaran untuk keinginan-keinginan muhammad sendiri. cape deh, mana mungkin tuhan menganjurkan kekerasan dan perang. jadi yang dihardirkan muhammad adalah monster yang suka menghukum.

  17. 17 wong sare
    January 16, 2011 at 9:19 am

    al quran itu ga jelas,,
    klo ente ente semua yg megang,,

    ada yg ngomong,, dalam quran itu ga ada rajam,,

    cengeng betul dah,,
    udah sejauh apa sih diri diri anda yg mempelajari quran,,

    dalam quran pun ada yg nasikh(yg meng hapus) ada juga mansukh(yg di hapus,)
    itu semua pelajaran dasar,,

    klo ga ada ilmu mendingan diem ajah,,

    itu baik bagi anda yg ga tau,,
    daripada sesat menyesatkan,,

    pada ga sadar apa yah,,
    antum semua itu,, ga bakalan lama ada di dunia,,

    sampai jumpa di alam berikutnya,,
    semoga beruntung,,,

    nb:
    buat si penulis,,
    ente melaksanakan quran,, ato hujat isi quran,,
    ato buang quran,,
    semua itu, tak akan mengurangi ato bahkan menambah kemuliaan Alloh swt,,

  18. 18 De Feroz
    April 6, 2011 at 2:35 pm

    wah wah seru pembahasannya…
    saya tidak pernah berzina jadi hanya pembaca yang baik,yang jelas adalah segala sebab akibat rujuklah dari Al Quran resmi beserta tuntunan nabi besar kita Muhammad SAW jadi jangan dengarkan pendapat2x ulama yang menyesatkan atau meragukan…

    setau saya Allah maha pengasih,Allah adalah dzat yang maha penyayang pasti ada hikmah dibalik itu semua walau kita pernah melakukan kejahatan apapun….

    semoga saja kita semua diberikan keselamatan,kesehatan,kebahagiaan,rizki yang melimpah….
    terhindar dari hal2x yang merugikan kita semua….

    diselamatkan oleh Allah SWT dari segala mara bahaya….

    AMIEN YA RABBAL ALAMIN

  19. 19 anti liberal
    April 9, 2011 at 11:44 pm

    assalamu’alaikum…sudahlah wahai saudaraku umat islam. Kita gak kan menang diskusi dg antek2 nasrani orang yg mengatakan islam liberal ni, coba ja…kelmpokxa liberal…sering membuat bgung umat dg berhati2 dg hadits, koreksi alquran, poligami sdah tdk berlaku, menghalalkan kawin sejenis, persamaan gender dsb. Krn mrka sbnarxa propaganda antek2 kafir yg sesungguhxa…seandaixa mereka hdp djaman sahabt, past dpenggallah orang2 lberal ni…anjuran saya tinggalkan berdebat dg jaringan iblis laknatullah ini…

  20. 20 zaiyadi
    June 3, 2011 at 9:56 pm

    Citre

  21. 21 orang biasa
    June 10, 2011 at 4:36 pm

    orang nasrani alias kafir, munafik, liberal emng benar2 bodoh murokat.. lha wong udah jelas ditunjukkan antara yg lurus dan yg sesat kok masih milih jalan iblis…
    selama kalian tidak bertaubat sampe ajal mnjemput.. jahanamlah yempatmu…

  22. 22 SOUL SICK
    July 17, 2011 at 8:36 am

    Yg dikawatirkan hukum rajam disalahgunakan utk menghakimi org yg blm tentu bersalah dg dalih menjalankan hukum islam.

  23. 23 SOUL SICK
    July 17, 2011 at 9:06 am

    Contoh nya.. kalau yg berbuat zinah konglomerat, pejabat, bangsawan dll tdk dihukum rajam tapi kalau yg berbuat zinah rakyat kecil langsung dihukum rajam meski saksi dan bukti blm lengkap.

  24. July 29, 2011 at 11:15 pm

    Hukom al-Qur’an rosak kerana hadis-hadis, sudahlah diberikan kitab petunjuk masih kurang. mereka hendak merosak hukom al-Qur’an dengan memasukkan perkataan ulamak-ulamak, kemudian mereka katakan dari sipolan dari sipolan dari sipolan dari sipolan terkemudian dari rasul. tak ada beda dengan agama sebelah rosak kerana hukom kitabnya telah ditambah-tambahi.

  25. 25 kholilurrohman
    June 27, 2012 at 2:13 pm

    untuk anda yang menulis tulisan di atas,mending baca tulisan saya dulu ya. jangan asal memvonis alqur’an:
    baca tuh melek,jgn ngantuk
    “hukum rajam” ketegori Muslim. Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

    Ustadz, apakah yang di maksud dengan hukum rajam? Apakah benar hukuman ini hanya berlaku bagi wanita? Mohon penjelasannya, terima kasih.

    Wassalam,

    Herlina Melani

    Jawaban

    السلام عليكم ورحمة الله وبركاتهبسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله ، وبعد

    Hukuman rajam adalah hukuman mati dengan cara dilempari batu. Cara menghukum seperti ini tidak dilakukan kecuali dalam kasus yang sangat tercela dan hanya bila penerima hukuman benar-benar terbukti dengan teramat meyakinkan melakukan sebuah larangan yang berat.

    Hukuman rajam sebenarnya sudah ada sejak para nabi dan rasul di masa lalu sebelum era umat nabi Muhammad SAW. Hukuman seperti itu berlaku secara resmi di dalam syariat Yahudi dan Nasrani . Dan tidak dikutuk umat terdahulu kecuali karena mereka meninggalkan hukum dan syariat yang telah Allah tetapkan.

    إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلا وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

    Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya petunjuk dan cahaya , yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.

    Allah SWT kemudian menghapus berbagai macam syariat yang pernah diturunkan-Nya kepada sekian banyak kelompok umat kemudian diganti dengan satu syariat saja, yaitu yang diturunkan kepada umat Muhammad SAW. Namun ternyata Allah SWT masih memberlakukan hukuman rajam. Walaupun dengan pendekatan yang jauh lebih moderat dan manusiawi.

    Secara nalar aqidah, dengan tetap diberlakukannya hukuman rajam oleh Allah pada syariat umat Muhammad SAW, kita bisa meyakini bahwa bentuk hukuman seperti ini memang dalam kasus-kasus tertentu masih diperlukan. Meski umat manusia di abad 20 ini seringkali menginginkan dihapuskannya hukuman mati, namun ternyata hukuman mati itu masih diperlukan, bahkan di beberapa negara yang maju, masih berlaku dan tetap terjadi sampai sekarang.

    Singapura yang sering dijadikan kiblat kemoderenan di Asia Tenggara, hari ini masih saja menghukum mati orang-orang yang dianggap melakukan pelanggaran berat. Demikian juga Amerika yang sekarang mengangkat dirinya sebagai polisi dunia dan simbol HAM, masih tetap memberlakukan hukuman mati. Maka kalau Allah SWT memberlakukan hukuman rajam kepada umat Islam, tentu sangat bisa diterima logika. Jangankan untuk abad ke-7 saat diberlakukan di dalam Al-Quran, bahkan negara-negara modern pada abad 21 sekarang ini masih memberlakukan hukuman mati.

    Dan tentu sangat logis bila umat Islam dengan latar belakang kepatuhan dan ketundukan kepada originalitas agamanya, pada hari ini masih memberlakukan hukuman rajam buat pemeluk agamanya. Tidak ada cela dan cacat dalam pelaksanaan hukuman seperti itu, apalagi kalau dibandingkan dengan tragedi pembantaian massal yang dilakukan oleh negara maju terhadap dunia ketiga, maka pelaksanaan hukuman rajam buat pelanggar kesalahan berat menjadi tidak ada artinya.

    Bandingkan dengan angka-angka pembantaian rakyat Vietnam, Afghanistan, Kamboja, Bosnia, Shabra Shatila dan belahan muka bumi lainnya. Sungguh apa yang dilakukan oleh super power dunia itu jauh lebih kejam dan sadis ketimbang hukuman rajam, yang hanya menyangkut satu orang saja. Itupun pelanggar sulisa berat, yaitu orang yang berzina dimana dia pernah menikah sebelumnya.

    Dalil Tentang Kewajiban Merajam Pezina

    Para ulama sepakat menyatakan bahwa pelaku zina muhshan dihukum dengan hukuman rajam, yaitu dilempari dengan batu hingga mati. Dalilnya adalah hadits Rasulullah SAW secara umum yaitu :

    Dari Masruq dari Abdillah ra. berakta bahwa Rasulullah SAW bersabda, Tidak halal darah seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga hal : orang yang berzina, orang yang membunuh dan orang yang murtad dan keluar dari jamaah.

    Selain itu, sesungguhnya hukuman rajam ini pun pernah diperintahkan di dalam Al-Quran, namun lafadznya dihapus tapi perintahnya tetap berlaku. Adalah khalifah Umar bin Al-Khattab yang menyatakan bahwa dahulu ada ayat Al-Quran yang pernah diturunkandan isinya adalah :

    الشيخ والشيخة إذا زنيا فارجموهما البتة

    Orang yang sudah menikah laki-laki dan perempuan bila mereka berzina, maka rajamlah…

    Namun lafadznya kemudian dinasakh , tetapi hukumnya tetap berlaku hingga hari kamat. Sehingga bisa kita katakan bahwa syariat rajam itu dilandasi bukan hanya dengan dalil sunnah, melainkan dengan dalil Al-Quran juga.

    Zina Adalah Kejahatan Berat dan Sangat Berbahaya

    Berbeda dengan pandangan para penganut hedonisme dan pelaku pola hidup permisif sekarang ini, di mana mereka beranggapan bahwa zina merupakan kebutuhan biologis biasa, sehingga boleh-boleh saja dilakukan asal tidak ketahuan, Allah Tuhan Yang Menciptakan manusia justru menegaskan bahwa zina adalah kejahatan tingkat tinggi dan sangat berat ancamannya. Sehingga hukumannya pun harus dibunuh, yaitu bagi mereka yang pernah menikah sebelumnya, atau dicambuk 100 kali bagi mereka yang belum pernah menikah sebelumnya.

    Dan hak untuk mengatakan suatu tindakan itu adalah kejahatan adalah hak preogratif Sang Maha Pencipta. Bukan hak para seniman, atau ahli hukum, atau pun manusia lainnya. Hak itu adalah hak Tuhan sepenuhnya. Persis sebagaimana ketika Tuhan melarang Adam dan istrinya mendekati pohon. Pelangaran atas larangan itu berakibat fatal sehingga Adam as. dikeluarkan ke bumi.

    Maka meski 6 milyar manusia mengatakan bahwa zina itu bukan pelanggaran berat, tetapi Tuhan Sang Maha Pencipta justru mengatakan sebaliknya. Bahwa zina adalah sebuah kekejian yang nyata, terkutuk dan terlaknat. Pelakunya berhak untuk dihukum seberat-beratnya, yaitu dengan cara dirajam. Berartidiakhiri ajalnya dan harus segera bertemu kembali kepada Pencipta-Nya, untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya.

    Semua itu adalah isi kitab suci buat semua umat manusia, baik Zabur, Taurat, Injil maupun Al-Quran. Semua kitab suci yang turun dari langit sepakat bulat mengatakan bahwa zina adalah kejahatan tingkat tinggi dan pelakunya wajib dihukum mati .

    Rajam dalam Syariat Islam

    Rajam adalah hukuman mati dengan cara dilempar dengan batu. Karena beratnya hukuman ini, maka dalam syariat yang Allah turunkan untuk umat Muhammad SAW, sebelum dilakukan dibutuhkan syarat dan proses yang cukup pelik. Syarat itu adalah terpenuhinya kriteria ihshah yang terdiri dari rincian sebagai berikut :
    #

    Islam
    #

    Baligh
    #

    Akil
    #

    Merdeka
    #

    Iffah
    #

    Tazwij

    Maksudnya adalah orang yang pernah bersetubuh dengan wanita yang halal dari nikah yang sahih. Meski ketika bersetubuh itu tidak sampai mengeluarkan mani. Ini adalah yang maksud dengan ihshan oleh Asy-Syafi`iyah. Bila salah satu syarat di atas tidak terpenuhi, maka pelaku zina itu bukan muhshan sehingga hukumannya bukan rajam.

    Penetapan Vonis Zina

    Dalam syariat Islam, pelaksanaan rajam bisa dilakukan namun harus ada ketetapan hukum yang sah dan pasti dari sebuah mahkamah syariah atau pengadilan syariat. Dan semua itu harus melalui proses hukum yang sesuai pula dengan ketentuan dari langit yaitu syariat Islam. Allah telah menetapkan bahwa hukuman zina hanya bisa dijatuhkan hanya melalui salah satu dari dua cara :

    a. Ikrar atau pengakuan dari pelaku

    Pengakuan sering disebut dengan `sayyidul adillah`, yaitu petunjuk yang paling utama. Karena pelaku langsung mengakui dan berikrar di muka hakim bahwa dirinya telah berzina, maka tidak perlu adanya saksi-saksi.

    Di zaman Rasulullah SAW, hampir semua kasus perzinahan diputuskan berdasarkan pengakuan para pelaku langsung. Seperti yang dilakukan kepada Maiz dan wanita Ghamidiyah.

    Teknis pengakuan atau ikrar di depan hakim adalah dengan mengucapkannya sekali saja. Hal itu seperti yang dikatakan oleh Imam Malik ra., Imam Asy-Syafi`i ra., Daud, At-Thabarani dan Abu Tsaur dengan berlandaskan apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW kepada pelaku zina. Beliau memerintahkan kepada Unais untuk mendatangi wanita itu dan menanyakannya,`Bila wanita itu mengakui perbuatannya, maka rajamlah`. Hadits menjelaskan kepada kita bahwa bila seorang sudah mengaku, maka rajamlah dan tanpa memintanya mengulang-ulang pengakuannya.

    Namun Imam Abu Hanifah ra. mengatakan bahwa tidak cukup hanya dengan sekali pengakuan, harus empat kali diucapkan di majelis yang berbeda. Sedangkan pendapat Al-Hanabilah dan Ishaq seperti pendapat Imam Abu Hanifah ra., kecuali bahwa mereka tidak mengharuskan diucapkan di empat tempat yang berbeda.

    Bila orang yang telah berikrar bahwa dirinya berzina itu lalu mencabut kembali pengakuannya, maka hukuman hudud bisa dibatalkan. Pendapat ini didukung oleh Al-Hanafiyah, Asy-Syafi`iyyah dan Imam Ahmad bin Hanbal ra. Dasarnya adalah peristiwa yang terjadi saat eksekusi Maiz yang saat itu dia lari karena tidak tahan atas lemparan batu hukuman rajam. Lalu orang-orang mengejarnya beramai-ramai dan akhirnya mati. Ketika hal itu disampaikan kepada Rasulullah SAW, beliau menyesali perbuatan orang-orang itu dan berkata,

    `Mengapa tidak kalian biarkan saja dia lari?`
    .

    Sedangkan bila seseorang tidak mau mengakui perbuatan zinanya, maka tidak bisa dihukum. Meskipun pasangan zinanya telah mengaku.

    Dasarnya adalah sebuah hadits berikut :

    Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata bahwa dia telah berzina dengan seorang wanita. Lalu Rasulullah SAW mengutus seseorang untuk memanggilnya dan menanyakannya, tapi wanita itu tidak mengakuinya. Maka Rasulullah SAW menghukum laki-laki yang mengaku dan melepaskan wanita yang tidak mengaku.

    b. Adanya Saksi yang Bersumpah di Depan Mahkamah

    Ketetapan bahwa seseorang telah berzina juga bisa dilakukan berdasarkan adanya saksi-saksi. Namun persaksian atas tuduhan zina itu sangat berat, karena tuduhan zina sendiri akan merusak kehormatan dan martabat seseorang, bahkan kehormatan keluarga dan juga anak keturunannya. Sehingga tidak sembarang tuduhan bisa membawa kepada ketetapan zina. Dan sebaliknya, tuduhan zina bila tidak lengkap akan menggiring penuduhnya ke hukuman yang berat.

    Syarat yang harus ada dalam persaksian tuduhan zina adalah :

    1.

    Jumlah saksi minimal empat orang. Allah berfirman,`Dan terhadap wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu yang menyaksikan`..
    2.

    Bila jumlah yang bersaksi itu kurang dari empat, maka mereka yang bersaksi itulah yang harus dihukum hudud. Dalilnya adalah apa yang dilakukan oleh Umar bin Al-Khattab terhadap tiga orang yang bersaksi atas tuduhan zina Al-Mughirah. Mereka adalah Abu Bakarah, Nafi` dan Syibl bin Ma`bad.
    3.

    Para saksi ini sudah baligh semua. Bila salah satunya belum baligh, maka persaksian itu tidak syah.
    4.

    Para saksi ini adalah orang-orang yang waras akalnya.
    5.

    Para saksi ini adalah orang-orang yang beragama Islam.
    6.

    Para saksi ini melihat langsung dengan mata mereka peristiwa masuknya kemaluan laki-laki ke dalam kemaluan wanita yang berzina.
    7.

    Para saksi ini bersaksi dengan bahasa yang jelas dan vulgar, bukan dengan bahasa kiasan.
    8.

    Para saksi melihat peristiwa zina itu bersama-sama dalam satu majelis dna dalam satu waktu. Dan bila melihatnya bergantian, maka tidak syah persksian mereka.
    9.

    Para saksi ini semuanya laki-laki. Bila ada salah satunya wanita, maka persaksian mereka tidak syah.

    Di luar kedua hal diatas, maka tidak bisa dijadikan dasar hukuman rajam, tetapi bisa dilakukan hukuman ta`zir karena tidak menuntut proses yang telah ditetapkan dalam syariat secara baku.

    Dan syarat yang paling penting adalah bahwa perbuatan zina itu dilakukan di dalam wilayah hukum yang secara formal menerapkan hukum Islam. Syarat lainnya adalah bahwa hukuman zina itu hanya boleh dilakukan oleh pemerintah yang berdaulat secara resmi. Bukan dilakuakn oleh orang per orang atau lembaga swasta. Ormas, yayasan, pesantren, pengajian, jamaah majelis taklim, perkumpulan atau pun majelis ulama tidak berhak melakukannya, kecuali ada mandat resmi dari pemerintahan yang berkuasa.

    Sehingga semua kasus zina di Indonesia ini, tidak ada satu pun yang bisa diterapkan hukum rajam, sebab secara formal pemerintah negara ini tidak memberlakukan hukum Islam. Tentu saja perbuatan itu tetap harus dipertanggung-jawabkan di mahkamah tertinggi di alam akhirat nanti. Baik bagi si pelaku zina maupun di penguasa yang tidak menjalankan hukum Allah.

    والله أعلم بالصواب والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

  26. 26 faizal
    April 14, 2013 at 2:32 pm

    Assalamu alaikum Wr. Wb.

    Menurut saya sih acuan yang paling tepat itu harusnya Al-Quran dan daya nalar masyarakat itu sendiri. masyarakat itu kan juga punya akal sehat, Cukuplah tanpa perlu merujuk pada Hadist2 tersebut, kecuali apabila memang masyarakat tersebut benar-benar tidak mengerti apa yang terdapat didalam Al-Quran, serta meragukan akal sehatnya, baru mereferensi pada Hadist. jangan Hadis digunakan malah jadi membuat sesuatu yang sudah jelas malah jadi abu-abu (fokus bukan pada hadisnya, tapi kita sebagai umat muslim/non-muslim yang membaca serta menafsirkan hadist tersebut) kan jelas tingkatannya Al-Quran diturunkan Allah SWT, sedangkan Hadist itu tafsiran manusia (bahkan tidak melulu merupakan tafsir Al-Quran). Jadi menurut saya bisa dianggap sebagai “additional” saja.

    pengen menyapa yang menyebut dirinya sebagai kafir atau murtad. haloo kafirun, murtadun… (bukan maksud mengejek, tapi memang mereka sendiri yang melabeli dirinya demikian….) …. saya “tertarik” dengan argumen2 kalian… tapi kalo cuma bisa menghina Islam dan Nabi Muhammad SAW sih jadinya agak kurang “menarik”, so jadi sebenarnya APA”objek” yang benar2 kalian tawarkan, dan kalian klaim “lebih baik” dari seluruh agama yang ada? (karena kebanyakan “teman-teman” kafir dan murtadun kita ini dari kalangan agnostik, atheis dan semacamnya).

    maap saya tidak mengutip secara eksplisit kemana-mana, karena pengetahuan Islam saya masih sangat minim modal saya Cuma Al-Quran dan apa yang saya sebut sebagai “akal sehat” (kalo saya tidak keliru), terima kasih hanya beropini. Salam damai, Salam sejahtera untuk kita semua, Wassalamu alaikum Wr. Wb.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,244,312 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers

%d bloggers like this: