13
Sep
09

Lintasan Sejarah : Napoleon Takluk Akibat Tragedi Gunung Tambora

Tentara Prancis dihadang cuaca buruk

Napoleon & Tambora

KORAN JAKARTA, Minggu, 06 September 2009 00:57 WIB
Posting by : ardawibowo

Letusan hebat Gunung Tambora pada April 1815 bukan saja melumat dan meluluhlantakkan tiga kerajaan kecil di Pulau Sumbawa.

Letusan hebat Gunung Tambora pada April 1815 bukan saja melumat dan meluluhlantakkan tiga kerajaan kecil di Pulau Sumbawa. Lebih dari itu, nun jauh di daratan Eropa, tepatnya di Belgia, pasukan tentara di bawah komando penguasa Prancis, Jenderal Napoleon Bonaparte harus bertekuk lutut di tangan Inggris dan Prussia.
Ya, tiga hari setelah Tambora meletus dahsyat, tepatnya pada 18 Juni 1815, pasukan Napolean terjebak musuh. Pasalnya, di sepanjang hari itu cuaca memburuk. Hujan terus mengguyur kawasan tersebut. Padahal, tentara Prancis itu sedang menuju laga pertempuran.
Akibat cuaca buruk, roda kereta penghela meriam terjebak lumpur. Semua kendaraan tak bisa melaju dengan mulus. Tanahnya licin, berselimutkan salju. Maklum, abu tebal dari letusan Gunung Tambora masih bertebaran di atmosfer sehingga menghalangi sinar matahari yang jatuh ke bumi.
Perang Waterloo itu menjadi kisah tragis bagi Napoleon. Kehebatan Napoleon dalam menundukkan musuh-musuhnya berakhir sudah. Ia pun menyerah kalah.
Jenderal itu lalu dibuang ke Pulau Saint Helena, sebuah pulau kecil di selatan Samudra Atlantik. Di pulau terpencil itulah ia menghabiskan waktunya hingga meninggal dunia pada 1821 akibat serangan kanker.
Kenneth Spink, seorang pakar geologi berteori, bahwa cuaca buruk akibat letusan Gunung Tambora menjadi salah satu pemicu kekalahan Napoleon. Pada pertemuan ilmiah tentang Applied Geosciences di Warwick, Inggris (1996), Spink mengatakan bahwa letusan Gunung Tambora telah berdampak besar terhadap tatanan iklim dunia kala itu, termasuk cuaca buruk di Waterloo pada Juni 1815.
Di Yogyakarta, letusan Tambora mengagetkan Thomas Stamford Raffles. Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa yang berkuasa pada tahun 1811-1816 itu tadinya mengira ledakan itu berasal dari suara tembakan meriam musuh. Wajar saja demikian karena ketika itu teknologi komunikasi (telegram) memang belum tercipta sehingga letusan itu tak bisa disampaikan ke berbagai penjuru daerah dalam waktu yang relatif cepat.
Takut diserang musuh, Raffles pun lalu mengirim tentara ke pos-pos jaga di sepanjang pesisir untuk siap siaga. Perahu-perahu pun disiagakan. Apa boleh buat, dugaan Raffles keliru. Tak ada serangan musuh.
b siswo

Letusannya tercatat sebagai bencana alam terbesar di dunia.

” Gunung Tambora “

KORAN JAKARTA, Minggu, 06 September 2009 01:57 WIB
Posting by : ardawibowo

Sebagian dari kita tentu belum tahu kalau Gunung Tambora pernah tercatat sebagai gunung api tertinggi di Indonesia. Itu terjadi sebelum gunung tersebut meletus dahsyat pada April 1815.

Sebagian dari kita tentu belum tahu kalau Gunung Tambora pernah tercatat sebagai gunung api tertinggi di Indonesia. Itu terjadi sebelum gunung tersebut meletus dahsyat pada April 1815.
Ketika itu puncak Gunung Tambora mencapai ketinggian sekitar 4.300 meter di atas permukaan laut (dpl). Bandingkan dengan daratan tertinggi di Indonesia saat ini, yakni Puncak Jayawijaya, Papua, yang berketinggian sekitar 3.050 m dpl.
Usai Tambora meletus hebat, daratan di bagian puncak itu dimuntahkan ke berbagai arah. Akibatnya, ketinggian gunung api yang masih tersisa tinggal setengahnya, yakni sekitar 2.851 m dpl.
Letusan yang amat mengerikan itu juga menyisakan sebuah kaldera yang sangat besar. Bahkan, menurut catatan, ukuran kaldera tersebut paling luas di Indonesia. Bayangkan, kaldera tersebut memiliki diameter sekitar 7 km, panjang maksimal 16 km, dan kedalaman 1,5 km.
Kini, gunung api yang secara administratif berada di dua kabupaten; Dompu dan Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) itu meninggalkan kisah ajaib, bukan saja di Indonesia namun juga berdampak hingga ke berbagai penjuru dunia.

Sangat Mencekam
Tragedi itu bermula pada awal April 1815. Ketika itu kawasan di sekitar Gunung Tambora mulai bergetar. Getaran itu semakin menguat pada 10 April 1815, pukul 19.00 waktu setempat. Sejak saat itu hingga lima hari, ledakan Gunung Tambora mencapai klimaksnya.
Pada malam hari, dari kejauhan Tambora memang benar-benar terang benderang lantaran api yang terus memancar dari puncak gunung tersebut. Suasananya sangat mencekam. Gunung itu seolah berubah menjadi aliran api yang sangat besar.
Pada saat bersamaan, letusan itu juga memuntahkan gas panas, abu vulkanik, dan batu-batu ke arah bawah sejauh 20 km hingga ke laut. Desa-desa di sekitar Tambora pun musnah dilalap aliran piroklastik tersebut.
Menurut Haris Firdaus dalam bukunya berjudul Misteri-misteri Terbesar Indonesia (2008), tiga kerajaan kecil hangus dan hancur terkena lahar dan material letusan Gunung Tambora. Ketiga kerajaan itu adalah Pekat yang berjarak sekitar 30 km sebelah barat dari Tambora. Lalu, Kerajaan Sanggar berjarak 35 km sebelah timur Tambora, dan Kerajaan Tambora berjarak 25 km dari gunung tersebut.
Hampir semua penghuni di tiga kerajaan tersebut tewas. Hanya dua orang yang berhasil selamat. Padahal, lokasi ketiga kerajaan itu tadinya sudah diusahakan cukup aman dari dampak letusan gunung api.
Letusan Gunung Tambora juga membawa material longsoran yang sangat besar ke laut. Longsoran itu menimbulkan tsunami di berbagai pantai di Indonesia seperti Bima, Jawa Timur, dan Maluku. Ketinggian tsunami tersebut ditaksir mencapai 4 meter.
Bukan hanya itu, ledakan dahsyat tersebut juga menebarkan abu vulkanik hingga ke Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Bahkan bau nitrat juga tercium hingga ke Batavia (kini Jakarta). Hujan besar disertai jatuhnya abu juga terjadi.
Menurut para geolog, letusan itu merupakan bencana alam terbesar sepanjang sejarah. Bayangkan, dibandingkan dengan letusan Gunung Krakatau yang terjadi pada Agustus 1883, ledakan Gunung Tambora lebih dahsat empat kali lipatnya.
Letusan Gunung Tambora itu terdengar hingga ke Pulau Sumatera, Makassar, dan Ternate sejauh 2.600 km. Abunya juga diterbangkan sejauh 1.300 km dengan ketinggian 44 km dari permukaan tanah. Volume debu ditaksir mencapai 400 km3.
Saking tebalnya debu-debu yang berterbangan di langit, sepanjang daerah dengan radius 600 km dari gunung tersebut terlihat gelap gulita selama dua hari. Maklum, sinar matahari tak mampu menembus tebalnya abu-abu tadi.
Daerah paling menderita tentu saja yang berdekatan dengan lokasi Gunung Tambora. Menurut ahli botani Swis, Heinrich Zollinger, dalam seketika letusan ini menewaskan sekitar 10.000 orang.
Setelah itu, jumlah kematian karena kelaparan di Sumbawa mencapai 38.000 orang dan di Lombok 10.000 orang. Sumber lain menyebutkan, letusan itu telah menyusutkan populasi penduduk Sumbawa hingga tersisa hanya 85.000 orang.

Jumlah Korban Meluas
Bukan hanya itu. Jumlah korban tewas juga meluas hingga ke Pulau Bali, yakni mencapai 10.000 orang. Dampak berikutnya, sebanyak 49.000 orang tewas karena penyakit dan kelaparan.
Mengapa terjadi bencana kelaparan yang berkepanjangan? Ada beberapa alasan. Pertama, semua tumbuhan di Pulau Sumbawa ketika itu hancur total akibat tertutup abu tebal dan dilalap api.
Kedua, selama dua minggu awan tebal masih menyelimuti daerah-daerah di sekitar Gunung Tambora, termasuk Bali. Dampaknya, banyak tanaman budidaya hancur dan gagal panen.
Ketiga, partikel-partikel abu itu dalam jangka waktu lama masih berada di atmofer dengan ketinggian 10 – 30 km. Akibatnya, siklus iklim menjadi tak menentu dan petani pun tidak bisa memanen tanaman budidayanya.
Kekacauan iklim juga melanda kawasan Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada. Setahun setelah letusan itu, pada 1816, kawasan tersebut mengalami tahun tanpa musim panas. Cuaca di kawasan tersebut berubah total. Maklum, partikel abu tadi masih membungkus atmosfer bumi sehingga menghalangi sinar matahari menerobos ke permukaan tanah.
Paceklik pun melanda Kanada, AS, Inggris, dan lain-lain. Udara beku yang terjadi di negara-negara tersebut menghapuskan impian para petani. Penduduk pun kekurangan bahan makanan.
Dampak terparah dialami Irlandia. Di sana curah hujan dingin terjadi hampir sepanjang musim panas. Sekitar 65.000 orang mati kelaparan dan terkena wabah tipus. Wabah ini lalu menyebar ke Eropa dan menewaskan 200.000 orang.
Letusan Gunung Tambora memang tragis. Letusan itu melenyapkan ratusan ribu manusia, baik mereka yang terkena dampak langsung maupun tak langsung. Kisah memilukan ini sesuai dengan nama Tambora yang berasal dari dua kata; ta dan mbora yang berarti ajakan menghilang.
Menurut mitos yang berkembang, masyarakat di sekitar gunung percaya, kabarnya ada sekitar 4.500 pendaki, pemburu, dan penjelajah yang hilang. Mereka itu tak pernah ditemukan di Gunung Tambora yang kini diselimuti hutan dengan aneka bunga anggrek yang sangat mempesona.
b siswo

About these ads

25 Responses to “Lintasan Sejarah : Napoleon Takluk Akibat Tragedi Gunung Tambora”


  1. 1 Ferdynand
    October 31, 2009 at 10:22 am

    makasih atas tambahan wawasanya

  2. 2 tracker
    December 28, 2009 at 7:24 pm

    izin coppas ya ^^

  3. 3 kape
    December 31, 2009 at 9:59 am

    baru baca sejarahnya aja udah merinding

  4. 4 said
    January 27, 2010 at 3:48 pm

    waaw…. ternyaa cerita tambora benar2 mengerika… pa lagi dgn namanya sendiri tambora… (ajak menghilang)….

  5. 5 nhiaer
    February 27, 2010 at 5:07 pm

    makasih tas tambahan wawasannya,berkat ini sy bisa menambah bahan proposalku…..

  6. April 4, 2010 at 7:56 pm

    wah sendainya idak ada letusan tu, mungkin peradaban ku lebih maju dari bangsa-bangsa lain…

  7. 7 DAFI
    April 25, 2010 at 8:54 pm

    PERISTIWA TERSEBUT HARUS KITA JADIKAN MASUKAN BIAR KITA HIDUP LEBIH BAIK DAN RAJIN BERIBADAH KEPADA TUHAN YME..!!! KARENA APA YG DIKEHENDAKINYA PASTI TERJADI…OK

  8. June 2, 2010 at 6:03 pm

    sangat mengerikan sekali kisahnya.tapi untung gunung tambora sudah meletus. kalau tidak kta kan jadi was-was.

  9. 9 arif breder
    September 18, 2010 at 3:43 am

    ini adalah catatan penting bagi sejara paradaban kita tnks..smgo tdk ada tambora tdk meletus lg..berrti leluhurku bnyk yg meninggal yaaa??I LOVE DANA MBOJOKU….

  10. October 28, 2010 at 8:34 pm

    moga2 merapi g seperti itu

  11. 11 windy
    November 1, 2010 at 2:22 pm

    subhanallah…. ciptaan-Nya aja dahsyat apa lagi yang menciptakan… ALLAHU AKBAR…

  12. 13 Fia
    November 26, 2010 at 8:16 pm

    Itu kejadian masa lalu yang membuatku merinding.,menakutkan sekali..Kita harus berdo’a agar kejadian itu tidak terulang lagi.,mari saudaraku perbanyaklah beribadah..Semoga tuhan selalu melindungi kita.Amin ya rabbal alamin. ^_^

  13. 14 erwin saputra
    February 14, 2011 at 11:29 pm

    mestinya pengetahuan tentang tragedi tambor ini dipelajari di sekolah,,dan dimasukkan ke dalam kurikulum yang ada di sekolah2.. supaya anak2 bangsa tahu berapa besar efek dari tragedi tambora.

  14. 15 ROBI
    April 6, 2011 at 1:39 pm

    wah… dahsyatt!!

  15. 16 anwar
    June 9, 2011 at 1:06 pm

    gunung tambora.krakatau dan gunung toba merupakan kehebatan gunung indonesia yang maha dahysat .sampai2 seluruh dunia takut akan gunung indonesia.ayo tman2 kita saling gotong royong agar negara kita INDONESIA sehebat gunung2 kita yang mengemparkan seluruh dunia.Sudah saatnya INDONESIA Menjadi NEGARA BESAR DAN KUAT yang di takuti negara lain. BERSATULAH INDONESIAKU

  16. 17 Ianz
    August 31, 2011 at 3:59 pm

    Memang sejarah tambora begitu dahsyat. Tapi skarang, sepertix dia mulai bangun dari tdur panjangx. Coz slama sminggu mulai ada aktivitas vulkanik di gunung tambora. Berharap sejarah tdk terulang. Semoga…

  17. September 11, 2011 at 12:17 pm

    dan sekarang Tambora datang Lagi..hanya bisa berserah diri kepada Sang Khalik ……

  18. 19 rony
    September 16, 2011 at 7:37 am

    …ya kemungkinan tambora bisa meletus lagi,karena di prediksi -+ per 200 th,gunung ber api akan bangun dari tidurnya(meletus)…..tapi semoga tidak meletus

  19. 21 abiyoso
    September 18, 2011 at 6:16 am

    Indonesia memang potensi tinggi bencana gunung api. tak kurang 127 gunung api aktif, pertemuan lempengan. ditambah tingkah polah yang melawan agama. membaca tragedi tambora jadi ingat tragedi pompeii di itali

  20. 22 indah
    July 23, 2012 at 4:01 pm

    sangat salut dan sedih krna sudah bnyak menewaskan bnyak korban bukan hanya di dalam negri tetapi dluar negeri pun jg mersakannya

  21. 23 Merry Chin
    August 14, 2012 at 11:27 pm

    Bencana bisa kpn saja terjadi, tapi untuk satu bencana yg bersejarah ini, cerita letusan gunung tambora bagus untuk dibaca. Thx


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,340,747 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 132 other followers

%d bloggers like this: