31
Aug
09

Jejak Islam : Sejarah Peradaban Islam

Peradaban Islam

By Republika Newsroom
Kamis, 09 Juli 2009 pukul 14:17:00

Berkembangnya peradaban Islam karena dilandasi oleh semangat ketuhanan (tauhid).

Berkembangnya agama Islam sejak 14 abad silam turut mewarnai sejarah peradaban dunia. Bahkan, pesatnya perkembangan agama Islam itu, baik di barat maupun timur, pada abad ke-8 sampai 13 Masehi mampu menguasai berbagai peradaban yang ada sebelumnya.

Tak salah bila peradaban Islam dianggap sebagai salah satu peradaban yang paling besar pengaruhnya di dunia. Bahkan, hingga kini, berbagai jenis peradaban Islam itu masih dapat disaksikan di sejumlah negara bekas kekuasaan Islam dahulu, misalnya Baghdad (Irak), Andalusia (Spanyol), Fatimiyah (Mesir), Ottoman (Turki), Damaskus, Kufah, Syria, dan sebagainya. Menurut Ma’ruf Misbah, Ja’far Sanusi, Abdullah Qusyairi, dan Syaid Sya’roni dalam bukunya Sejarah Peradaban Islam, setidaknya ada dua sebab dan proses pertumbuhan peradaban Islam, baik dari dalam maupun luar Islam.

Dari dalam Islam, perkembangan kebudayaan dan peradaban Islam itu karena bersumber langsung dari Alquran dan sunnah yang mempunyai kekuatan luar biasa. Sedangkan, dari luar Islam, peradaban Islam itu berkembang disebabkan proses penyebaran Islam yang dilandasi dengan semangat persatuan, perkembangan institusi negara, perkembangan ilmu pengetahuan, dan perluasan daerah Islam.

Menurut Ma’ruf Misbah dkk, perkembangan peradaban Islam yang dilandasi dengan semangat persatuan Islam telah ditanamkan Rasulullah SAW sejak awal perkembangan Islam di Timur Tengah. Kemudian, dalam praktiknya, seiring dengan makin luasnya wilayah kekuasaan Islam, gesekan atau kebudayaan masyarakat setempat memengaruhi umat Islam untuk mengadopsi dan mewarnai peradaban lokal yang disesuaikan dengan ajaran Islam.

Dari proses semacam inilah, peradaban Islam terus berkembang dari peradaban kebudayaan, bangunan, bahasa, adat istiadat, hingga pada ilmu pengetahuan. Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), Hamid Fahmy Zarkasyi, mengatakan, peradaban Islam adalah peradaban ilmu.

”Substansi peradaban Islam itu ibarat pohon (syajarah) yang akarnya tertanam kuat di bumi, sedangkan dahan-dahannya menjulang tinggi ke langit dan memberi rahmat bagi alam semesta. Akar itu adalah teologi Islam (tauhid) yang berdimensi epistemologis,” ujarnya.

”Lalu, berkembang menjadi tradisi pemahaman terhadap Alquran sehingga lahir intelektual Islam. Dari tradisi ini, kemudian terbentuklah komunitas sehingga melahirkan konsep keilmuan dan disiplin keilmuan Islam. Dari sini, lalu lahir sistem sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan Islam,” terangnya.

Ma’ruf menambahkan, berkembangnya peradaban Islam itu disebabkan Islam meletakkan dasar-dasar kepercayaan murni. ”Keyakinan manusia hanyalah pada Tuhan, bukan pada benda, hawa nafsu, atau kemegahan. Semua kerja kemanusiaan hanyalah untuk Allah. Tidak ada yang perlu dipertuan dan dipertuhankan, kecuali Allah,” tulisnya.

Karena itu, tak heran bila akhirnya kekuatan Islam yang bersendi pada Alquran mampu menaklukkan berbagai wilayah negara. Di mulai dari masa Rasulullah, kemudian diteruskan di masa Khulafaur Rasyidin, hingga masa tabiin dan munculnya berbagai dinasti Islam di sejumlah negara, seperti Dinasti Abbasiyah, Umayyah, Fatimiyyah, Ottoman, Mamluk, dan sebagainya.

Dari keyakinan itu pula, umat Islam mampu membentuk peradaban baru dan kebudayaan baru hingga menghasilkan berbagai macam peradaban di wilayah kekuasaan Islam tersebut. Seperti diketahui, menyebarnya agama Islam ke berbagai wilayah telah terjadi pertukaran kebudayaan antara satu negeri dan negara lainnya.

Bidang kebudayaan yang mulai tumbuh pada awal permulaan Islam itu adalah (a) seni bangunan sipil, seperti pembuatan gedung, istana, dan kantor pemerintahan; (b) seni bangunan untuk ibadah; (c) seni bangunan pertahanan militer, seperti benteng; dan sebagainya.

Pada masa Khulafaur Rasyidin, dibentuk pula sejumlah departemen untuk mengurus kebutuhan negara Islam, seperti departemen masalah politik (nizham al-siyasyi), departemen administrasi negara (nizham al-Idary), departemen ekonomi dan keuangan (nizham al-Maly), departemen angkatan perang (nizham alHarby), serta departemen urusan peradilan dan kekuasaan kehakiman (nizham al-Qadla). Selain itu, pertumbuhan ilmu pengetahuan juga mulai tumbuh seperti ilmu tafsir, qiraat, ilmu hadis, nahwu, dan sebagainya.

Kehilangan spirit
Sayangnya, kata Hamid, perkembangan peradaban Islam itu secara perlahan kini mulai kehilangan spirit (roh) Islam. ”Arus modernisme dan posmodernisme yang mengalir ke dunia Islam bersamaan dengan globalisasi telah mengakibatkan proses desakralisasi ilmu,” ujarnya.

Menurut Weber, hal itu akibat dari disenchantment of nature dan deconsencration of value. Keduanya merupakan inti dari doktrin sekularisme. ”Dengan sekularisme, Muslim kehilangan spiritualitas dalam berbagai bidang yan pada gilirannya telah membuat hilangnya moralitas (adab),” jelas Hamid.

Belum selesai proses sekularisasi tersebut, kini muncul pula liberalisme, yaitu liberalisasi yang diembuskan oleh Barat. Akibatnya, kata Hamid, intelektual seorang Muslim menjadi ikut berpikir ala Barat (westernisasi). ”Dunia Islam saat ini dikuasi oleh peradaban materi dan hedonisme,” tegasnya.

Ditambahkan Komaruddin Hidayat, rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, untuk mengembalikan kejayaan peradaban Islam itu, dibutuhkan kreativitas dan inovasi dalam membangkitkan semangat umat kembali.

Mengenal Tokoh dan Warisan Peradaban I

Menurut Ma’ruf Misbah dkk dalam bukunya Sejarah Peradaban Islam, peradaban Islam dari masa Bani Abbasiyah hingga Dinasti Umayyah dapat dibagi menjadi beberapa bentuk, yakni kota pusat peradaban Islam, bangunan-bangunan, penemuan, dan tokoh-tokohnya.

A. Kota pusat peradaban
Kota-kota yang terkenal menjadi pusat peradaban Dinasti Abbasiyah antara lain:

Baghdad
Kota ini merupakan yang paling indah karena dikerjakan oleh lebih dari 100 ribu pekerja yang dipimpin oleh Hajaj bin Arthal dan Amran bin Wadldlah. Di kota ini, terdapat istana di pusat kota, asrama pegawai, rumah kepala polisi, dan rumah keluarga khalifah. Istananya bernama Qasruzzabad yang memiliki luas 160 ribu hasta persegi. Dibuat sangat indah dengan membujur empat jalan utama ke luar kota. Di kiri kanan jalan, dibuat gedung bertingkat. Di luar Kota Baghdad, dibangun kota satelit, seperti Rushafah dan Karakh. Kedua kota tersebut dilengkapi dengan kantor, toko-toko, rumah, taman, kolam, dan lainnya. Karena itu, Kota Baghdad menjadi kota impian seluruh dunia.

Samarra
Letaknya di sebelah timur Sungai Tigris, kurang lebih 60 kilometer dari Baghdad. Kotanya sangat indah, nyaman, dan teratur. Nama ‘Samarra’ diberikan oleh Khalifah Al-Manshur. Ketika peresmian kota, banyak orang yang terkesan dengan keindahannya. Hal ini sesuai dengan namanya Samarra yang berasal dari kata ‘Sarra Man Ra’a’ yang berarti senang memandangnya. Di kota ini, terdapat 17 istana yang sangat indah, cantik, dan mungil yang menjadi contoh seni bangunan Islam di kota-kota lainnya.

Sevilla
Kota ini merupakan salah satu kota terindah di Spanyol dan terletak di tepi Sungai Guadal Quivir. Pernah menjadi ibu kota Kerajaan Mulukuththawaif.
Di kota ini, dulu, dibangun sebuah masjid yang sangat megah. Namun, kini masjid itu telah menjadi Gereja Santa Maria. Menaranya mencapai 70 meter dengan dasar sekitar 13,60 meter.

Granada
Kota ini memiliki tanah yang subur. Di kota ini, dibangun sebuah istana yang sangat terkenal sampai kini, yaitu Istana Granada yang dibuat oleh raja-raja Akhmar dan diberi nama al-Hambra.

Cordoba
Kota ini didirikan oleh Abdurrahman Ad-Dakhil (Abdurrahman sang Penakluk, wafat 852 M). Puncak keemasannya dialami pada masa Sultan Abdurrahman III yang bergelar An-Nasyir (w 961 M). Cordoba menjadi kota teladan di seluruh Eropa karena kota lainnya sangat kotor, becek, gelap, serta sepi. Sementara itu, Cordoba sangat indah, terang benderang, bersih, dan indah di pandang mata.

Qahirah atau Kairo
Kota Kairo didirikan oleh Jauhar As-Saqali tahun 358 Hijriyah sebagai pusat Dinasti Fatimiyah di Mesir. Di kota ini, terdapat Universitas Al-Azhar yang menampung ribuan mahasiswa dari berbagai penjuru dunia.
Selain Universitas Al-Azhar, di kota ini juga terdapat Masjid Amru bin Ash.

B. Bangunan-bangunan

Madrasah
Pada masa Dinasti Abbasiyah, ilmu pengetahuan berkembang pesat. Di masa ini, didirikan madrasah yang diberi nama nizhamiyyah dan didirikan oleh Nizamul Mulk, seorang perdana menteri. Tak hanya di Baghdad, sekolah nizhamiyah ini juga didirikan di kota lainnya, seperti Balkan, Muro, Tabrisan, Naisabur, Hara, Isfahan, Mosul, Basrah, dan lainnya.

Kutab
Adalah tempat belajar para siswa (pelajar) dengan pelajaran tingkat rendah sampai menengah.

Masjid
Selain digunakan sebagai sarana ibadah, masjid juga digunakan untuk tempat belajar tingkat tinggi.

Majeslis Munadlarah
Merupakan tempat pertemuan para pujangga, ahli pikir, dan para sarjana untuk mendiskusikan berbagai topik ilmiah. Majelis ini banyak terdapat di berbagai kota.

Darul Hikmah
Adalah perpustakaan terbesar di masa ini. Ia didirikan oleh Khalifah Harun al-Rasyid dan diteruskan oleh khalifah Al-Ma’mun (Almamoon).

Masjid Raya Cordoba
Dibangun pada tahun 786 M. Masjid ini dapat menampung hingga 80 ribu orang. Panjangnya mencapai 175 meter, sedangkan tiangnya berjumlah 1400 buah dengan tinggi mencapai 20 meter. Kubahnya disangga oleh 300 buah pilar marmer. Masjid tersebut kini telah menjadi gereja.

Masjid Ibnu Taulon Kairo
Dibangun tahun 876 M oleh Sultan Ahmad Ibnu Taulon. Di atas dindingnya terdapat balok memmbujur yang dihiasi dengan ayat Alquran. Balok ini diambil dari Gunung Ararat (Armenia, Turki) oleh Ibnu Taulon. Pilarnya menyerupai seni gothik dalam Gereja Masehi. Hiasannya bertuliskan Arab.

Istana Al-Hambra di Cordoba (Spanyol)
Al-Hambra merupakan sebuah istana yang permai. Di dalamnya terdapat masjid yang diberi nama Al-Mulk (Masjid Sultan). Masjid ini didirikan oleh Sultan Muhammad II.

Taj Mahal
Adalah sebuah bangunan indah bertahtakan ratna mutu manikam yang diciptakan oleh Sultan Syekh Jehan (1628-1657). Tempat ini dibuatnya sebagai persembahan untuk permaisurinya yang meninggal dunia. Taj Mahal terdapat di daerah Agra, India.

C. Penemuan dan tokoh-tokohnya

Dalam sejarah peradaban Islam selama lebih kurang delapan abad mengalami masa kejayaan, banyak penemuan yang berhasil dilakukan oleh ilmuwan Islam dalam bidang ilmu pengetahuan, di antara sebagai berikut.

Ilmu filsafat
Tokohnya antara lain Al-Kindi (194-260 H/809-873 M), Al-Farabi (w 390 H/961 M), Ibnu Bajah (w 523 H), Ibnu Thufail (w 581 H), dan Ibnu Sina (370-428 H/980-1037 M). Ibnu Sina, selain dikenal ahli filsafat, ia juga dikenal sebagai bapak kedokteran Islam. Ia banyak menulis karya, seperti Qanun fi Thib, Asy-Syifa, dan lainnya.
Selain nama di atas, tokoh lainnya adalah Al-Ghazali (450-505 H/1058-1101 M). Beberapa karyanya adalah Ihya Ulum Al-Din, Tahafut al-Falasifah, dan al-Munqizh Minadl Dhalal.
Kemudian, ada Ibnu Rusyd (520-595 H/1126-1198 M). Karangannya adalah Mabdiul Falasifah, Kasyful Afillah, dan Al-Hawi dalam bidang kedokteran.

Ilmu kedokteran
Selain Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd, tokoh lainnya adalah Jabir bin Hayyan (w 161 H/778 M), Hunain bin Ishaq (194-264 H/810-878 M), Thabib bin Qurra (w 901 M), dan Ar-Razi (251-313 H/809-873 M).

Ilmu matematika
Dua orang tokohnya antara lain adalah Umar Al-Farukhan (arsitek pembangunan Kota Baghdad) dan Al-Khawarizmi (pengarang kitab Al-Jabar yang juga menemukan angka nol (0)). Sedangkan, angka 1-9 berasal dari India yang dikembangkan oleh Islam. Karena itu, angka 1-9 disebut pula dengan angka Arab. Namun, setelah ditemukan orang Latin, namanya pun disebut dengan angka Latin.

Bidang Astronomi
Tokoh perbintangan atau ilmuwan islam dalam bidang ini adalah Al-Fazari, Al-Battani, Abu Wafak dan Al-Farghoni.

Bidang Seni Ukir
Dalam bidang ini, umat Islam cukup terkenbal dengan hasil seni pada botol tinta, papan catur, payung, pas bunga, burung-burungan dan pohon-pohonan. Tokohnya antara lain Al-Badr dan Al-Tariff sekitar tahun 961-976 M. Seni ukir yang dikembangkan tidak hanya pada kayu tapi juga pada logam, emas, perak, marmer, mata uang, dan porselin.

Pendidikan, Modal Utama Mengembangkan Peradaban Islam
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, disebutkan bahwa peradaban adalah hal yang menyangkut sopan santun, budi pekerti, dan kebudayaan suatu bangsa. Definisi yang cukup singkat dan padat ini punya kemiripan dengan banyak definisi yang diajukan kalangan peneliti dan ilmuwan. Hampir semua definisi menyebutkan bahwa budaya, baik materi maupun nonmateri, termasuk dalam unsur peradaban.

Berkaitan dengan budaya sebagai unsur penting peradaban, Prof Dr Komaruddin Hidayat dalam perbincangannya dengan Republika mengatakan, budaya adalah modal utama peradaban. Suatu bangsa atau masyarakat memerlukan modal untuk maju. Caranya, modal budaya ini dipelihara dan dikembangkan melalui sistem pendidikan yang baik agar melahirkan budaya tinggi (high culture), seperti ilmu pengetahuan.

“Peradaban tumbuh dari kebudayaan yang dikembangkan, dimodifikasi, dan ditingkatkan. Sebaliknya, jika kebudayaan dibiarkan saja tanpa perawatan dan pengembangan, yang terjadi adalah kemunduran peradaban,” kata Komaruddin.

Banyak sudah bukti kemerosotan peradaban yang bisa dijadikan contoh. Dahulu, ada peradaban Mesir, Persia, Yunani, Romawi, India, dan Cina yang pernah mencapai puncak kegemilangan peradaban. Tetapi, peradaban-peradaban itu kemudian tenggelam dan muncul peradaban baru, salah satunya Islam. Adakah sesuatu yang berbeda dari peradaban Islam ini?

Menurut Komaruddin, peradaban umat-umat terdahulu bersifat lokal akibat minimnya kontak antara satu bangsa dan bangsa lain. Setiap peradaban berdiri sendiri-sendiri. Peradaban Mesir tumbuh dan berkembang secara mandiri tanpa pengaruh dari peradaban lain. Demikian juga peradaban Cina, India, Persia, dan Yunani Romawi.

Ini berbeda dengan peradaban Islam yang lahir sebagai ahli waris peradaban-peradaban sebelumnya. Dalam pengamatan Howard R Turner dalam bukunya Sains Islam yang Mengagumkan, umat Islam menerima warisan berharga dari budaya-budaya Asia, Yunani, Romawi, Bizantium, dan Afrika. Sebagian warisan budaya bangsa-bangsa terdahulu itu diterima apa adanya dan sebagian lain diubah.

Islam penerus peradaban lama
Keterbukaan Islam itu menghasilkan khazanah keilmuan dan kebudayaan yang melimpah. Mulai bidang seni, sastra, filsafat, dan ilmu pengetahuan berkembang sangat baik dalam naungan Islam. Menurut Turner, apa yang diwarisi oleh umat Muslim dapat ditelusuri ke masa Yunani kuno. Bahkan, konsep-konsep ilmu pengetahuan yang berkembang diperoleh dari Babilonia dan Mesir Kuno.

Di bidang seni musik, umat Islam meneruskan teori-teori musik dari Bizantium dan Persia. Literatur lengkap yang berkaitan dengan musik Arab mulai dikembangkan pada abad ke-8 oleh para sarjana dan spesialis Muslim. Pada masa itu, muncul nama yang sangat terkenal, yaitu al-Mawsili.

Selain bidang seni musik, sejak abad ke-9, para ilmuwan Muslim secara serius mengkaji warisan pemikiran ilmiah dan filsafat dari peradaban-peradaban terdahulu melalui kegiatan penerjemahan ke dalam bahasa Arab. Umat Muslim tidak hanya menyerap dan menyistemasikan warisan yang berharga itu. Lebih dari itu, orang-orang Islam memperkayanya dengan penemuan-penemuan baru, terutama di bidang ilmu-ilmu pasti.

Turner mengakui apa yang dicapai oleh umat Islam pada masa kejayaannya belum pernah diraih oleh peradaban-peradaban besar sebelumnya. Islam, menurutnya, punya sistem dan tuntunan kehidupan yang tidak pernah dimiliki umat lain, yaitu Alquran dan sunnah Nabi Muhammad SAW. Di sinilah, apa yang dikatakan oleh Komaruddin bahwa kebudayaan harus ditopang dengan sistem pendidikan menemukan korelasinya. Alquran adalah sumber ajaran dan pendidikan bagi umat Islam.

Dalam masalah Alquran sebagai tuntunan dan sumber pendidikan, Turner membuat ilustrasi yang menarik. Ia mengatakan, meskipun dari segi ukuran teritorial tidak ada perbedaan antara Romawi Kuno dan wilayah Islam, perbedaan pada bidang pemerintahannya sangat kentara. Pada masa puncak kejayaannya, kekaisaran Romawi diperintah oleh seorang kaisar melalui sistem hukum sipil yang ia warisi sesuka hatinya.

”Ini berbeda dengan Islam yang diperintah oleh banyak sekali dinasti-dinasti yang merdeka secara politik. Namun, para penguasa tidak menempatkan diri mereka di atas hukum Islam yang telah ditentukan dalam Alquran dan sunnah Nabi Muhammad SAW,” kata Turner.

Apa yang dikatakan Turner diamini oleh Syekh Muhammad Al-Ghazali, seorang ulama asal Mesir. Menurut Ghazali dalam bukunya Berdialog dengan Alquran, Alquran menuntun umat Islam ke arah perenungan sejarah yang mempelajari hukum jatuh bangunnya masyarakat.

Di samping itu, Alquran membeberkan peradaban bangsa-bangsa yang hidup pada masa lalu, ideologi, landasan etis, serta struktur politisnya secara gamblang untuk dijadikan bahan pelajaran.

Pandangan Orientalis tentang Peradaban Islam
Banyak pihak mengakui bahwa peradan yang berkembang di negeri Barat banyak dipengaruhi oleh peradaban Islam. Bahkan, beberapa orang Eropa sendiri sebagian mengakui bahwa mereka tak mungkin mengenal kebudayaan dan peradaban sekarang ini kalau tidak diberikan oleh para intelektual Muslim.

Berikut ini beberapa ilmuwan Barat yang mengakui kemajuan peradaban Islam.
a. Prof Dr Charles Singer (seorang dokter)
”Di Barat, ilmu tasrih (anatomi) dan ilmu kedokteran sebenarnya tidak ada. Ilmu mengenal penyakit dipergunakan dengan cara yang bukan-bukan. Seperti dengan jengkalan jari, tumbuh-tumbuhan, tukang jual obat, dan takhayul sebagai sarana pengobatan.”

b. Prof HAR Gibb (guru besar London University)
”Sastra Barat berasal dari sastra Muslim. Hal itu tidak perlu dipertentangkan atau diperselisihkan lagi.”

c. Prof Leo Weiner (sastrawan Barat)
”Konflik pengaruh sastra Islam dengan sastra Eropa dimulai pada abad ke-8 Masehi.”

d. Dr Peter Du Berg
”Seorang pendeta bernama Peter the Venerable pernah berangkat ke Toldeo hendak menyalin Alquran. Tetapi, pendeta itu takjub ketika melihat orang Yahudi yang beragama Islam sedang menulisnya di atas benda tipis yang halus (kertas). Kemudian, ia membawa kepandaian umat Islam itu dalam membuat kertas di Prancis.”

e. Ibnu Tumlus di Alcira (ilmuwan Barat dalam bidang ilmu ukur, ahli musik, ilmu bintang, dan aritmatika)
”Orang Islam telah jauh melampaui kepandaian orang-orang Barat.”

f. Prof Kodrad dalam bukunya Uber den Usprung Deermite literchen Minnesang yang diterbitkan di Swiss tahun 1918 menulis, ”Eropa yang mendapatkan sastra dan nyala api peradaban modern berasal dari Islam.”

g. Pernyatan sejumlah orientalis
”Ilmu filsafat yang ditulis dua filsuf Barat kenamaan, Raymond Lull dan Raymond Martin, sebagian besar merupakan buah pikiran ahli filsafat Islam, yaitu Ibnu Rusyd dan Al-Ghazali.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa peradaban Islam, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan, telah banyak memengaruhi ilmuwan Barat.

REPUBLIKA – Minggu, 07 Juni 2009
Penulis : sya/rid/dia

About these ads

0 Responses to “Jejak Islam : Sejarah Peradaban Islam”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,133,754 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 116 other followers

%d bloggers like this: