29
Aug
09

Bahan Bakar : Tempurung Alternatif Memasak

KOMPAS/AGNES RITA SULISTYAWATY
Briket tempurung kelapa bisa digunakan untuk memasak. Bahan bakar ini diharapkan bisa menggantikan bahan bakar minyak. Selain briket, kompor khusus juga didesain untuk penggunaan briket kelapa ini.

Tempurung Alternatif Memasak

Sabtu, 29 Agustus 2009 | 03:17 WIB

Oleh Agnes Rita Sulistyawaty

Tempurung kelapa bisa menjadi alternatif bahan bakar. Briket yang terbuat dari tempurung kelapa mampu menghasilkan panas 6.000 hingga 7.000 kalori, cocok untuk kebutuhan memasak. Selain daya panas tinggi, briket juga awet sehingga lebih efisien untuk memasak.

Briket tempurung kelapa dan satu set kompornya merupakan hasil penelitian dosen Universitas Ekasakti, Padang, serta pengusaha CV Roda Banting di Pariaman, Sumatera Barat.

Pembuatan briket hanya butuh waktu 10-15 menit, dengan catatan, arang batok telah tersedia. Proses pertama adalah menggiling arang batok menjadi tepung arang. Penggilingan menggunakan mesin dengan kapasitas produksi 10 kilogram per mesin per menit.

Setelah itu tepung arang dicampur lem perekat dengan mesin pengaduk lalu dicetak dengan alat pencetak briket. Briket tempurung kelapa yang diproduksi berwarna hitam pekat dan berbentuk kubus dengan ukuran sisi 3 sentimeter (cm)

Seluruh mesin yang digunakan untuk memproduksi briket dirancang dan dihasilkan oleh CV Roda Banting. Satu-satunya proses manual dalam pembuatan briket adalah pengolahan batok kelapa menjadi arang batok.

Di Pariaman, pengerjaan arang batok banyak dilakukan masyarakat dengan pembakaran lubang tanah selama 24 jam. Proses ini perlu waktu lama karena sistemnya manual.

Dari sisi harga, briket tempurung kelapa agak mahal, yakni Rp 4.000 per kilogram, sedangkan harga minyak tanah adalah Rp 3.500 per liter. Namun, briket mempunyai kekuatan pembakaran lima kali lebih besar dibandingkan dengan minyak tanah sehingga briket lebih ekonomis.

Pemakaian briket tempurung kelapa—cocok untuk pemasakan yang butuh waktu lama seperti memasak rendang—sudah diujicobakan di dua rumah makan di Pariaman. Hasilnya, seorang pemilik rumah makan bisa berhemat, dari dana membeli minyak tanah Rp 350.000 per hari menjadi Rp 80.000 per hari.

”Pemilik rumah makan itu merasakan keuntungan dan efisiensi pemakaian briket tempurung kelapa dibandingkan dengan bahan bakar lain,” ujar I Ketut Budaraga, peneliti dari Universitas Ekasakti.

Di sisi lain Ketut menjamin briket tidak berbahaya bagi kesehatan karena tidak meninggalkan residu berupa gas sulfur, sesuai dengan hasil uji coba di laboratorium Sucofindo, 28 Oktober 2008. Penelitian ini juga menunjukkan briket mengandung kadar air 6,37 persen, kadar abu 19,33 persen, serta kadar karbon 63,04 persen.

Energi tempurung kelapa ini memberikan nilai tambah pada produk yang berasal dari kelapa. Apalagi selama ini tempurung kelapa belum dimanfaatkan maksimal dan hanya menjadi limbah. Padahal, di Kota Pariaman dan Kabupaten Padang Pariaman, kelapa menjadi salah satu komoditas unggulan. Kedua daerah di Sumatera Barat itu dikenal sebagai penghasil kelapa dengan luas areal tanaman kelapa lebih dari 40.000 hektar di tahun 2006. Di Kota Pariaman per tahun terdapat 11,7 miliar butir kelapa dari 260.000 batang pohon.

Kompor briket

Penelitian dan uji coba Universitas Ekasakti serta CV Roda Banting tidak hanya menghasilkan briket, tetapi juga kompor khusus untuk penggunaan briket ini. Kompor yang terbuat dari besi ini didesain khusus untuk mempermudah penggunaan.

Kompor briket tempurung kelapa dibuat dengan tiga ukuran, yakni diameter 15 sentimeter, 25 sentimeter, dan 40 sentimeter. Kompor ukuran terkecil mampu menampung sekitar 1 kilogram briket, ukuran sedang untuk menampung 1,5 kilogram briket, dan yang besar sanggup sampai 2 kilogram briket.

Setiap badan kompor dilengkapi dengan pintu kecil yang bisa dibuka-tutup. Pintu ini terhubung dengan rongga penampung briket. Dengan pintu ini, juru masak bebas menambah kapasitas briket tanpa harus mematikan api.

Untuk menghidupkan kompor, satu balok briket harus direndam sebentar di minyak tanah. Briket ini akan memancing api yang cepat menjalar ke briket lain yang disiapkan di kompor. Bisa juga menggunakan parafin untuk memancing api.

Kompor dihubungkan dengan pipa ke kipas angin (blower) untuk menambah oksigen, terutama saat memulai pembakaran. Kipas angin juga dibutuhkan apabila juru masak ingin memperbesar nyala api. Pasokan angin dari kipas ke kompor diatur dengan sebuah tuas. Dengan tuas ini, juru masak bisa mengecilkan atau memperbesar nyala api.

Ada satu kendala yang masih dalam tahap penyempurnaan, yakni cara mematikan api sebelum briket habis terbakar. Satu-satunya cara yang bisa ditempuh adalah memercikkan air ke briket yang masih menyala. ”Walaupun diperciki air, briket bisa langsung digunakan lagi karena air langsung diuapkan oleh briket yang masih membara. Ini cara satu-satunya untuk mematikan api,” papar Jamaluddin, pemilik CV Roda Banting.

Selain didesain untuk menggoreng, kompor briket ini juga dapat digunakan untuk membakar makanan. Setiap kompor dilengkapi dengan dua penyangga yang berbeda untuk menggoreng dan membakar. Kedua penyangga ini mudah ditukar-tukar.

Dengan produksi yang menggunakan mesin, Jamaluddin sanggup memproduksi 30 unit kompor per hari dengan ukuran yang bervariasi.

Harga satu unit kompor bervariasi antara Rp 150.000 sampai Rp 350.000 per unit. ”Sebenarnya banyak warung yang tertarik memakai kompor model ini. Hanya saja, kami masih terbentur modal lantaran sebagian calon pembeli mempunyai kemampuan ekonomi yang pas-pasan sehingga mereka berharap bisa membeli kompor secara kredit,” ujar Jamaluddin.

Pengembangan massal briket tempurung kelapa beserta kompornya masih membutuhkan peran serta pihak lain, demi memberikan pilihan alternatif bahan bakar bagi masyarakat.

About these ads

0 Responses to “Bahan Bakar : Tempurung Alternatif Memasak”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,247,874 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers

%d bloggers like this: