13
Aug
09

Islamia : Orientalis dan Sejarah Indonesia

REPUBLIKA, Kamis, 13 Agustus 2009 pukul 01:16:00

ORIENTALIS

M Isa Anshory
Peserta Program Kaderisasi Ulama Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia

Sejarah membuktikan, penjajah Belanda datang ke Indonesia bukan hanya mengeksploitasi kekayaan alam. Tapi, mereka juga berharap bisa menghilangkan pengaruh Islam terhadap bangsa Indonesia. Bersama para orientalisnya, kaum kolonial Belanda berusaha memperkecil arti dan peran Islam dalam sejarah Melayu-Indonesia.

Dalam bukunya Nederland en de Islam (hlm. 1), tokoh orientalis Belanda, Christian Snouck Hurgronje mengatakan bahwa Islam baru masuk ke kepulauan In do nesia pada abad XIII setelah mencapai evolusinya yang lengkap. Snouck Hur gronje juga menyatakan dalam bukunya, Arabie en OostIndie (hlm. 22), bahwa orang Islam di Indonesia sebenarnya hanya tampaknya saja memeluk Islam dan hanya di permukaan kehidupan mereka ditutupi agama ini. Ibarat berselimutkan kain dengan lubang-lubang besar, tampak keaslian sebenarnya, yang bukan Islam.

Orientalis lain, J.C. Van Leur, bahkan menyimpulkan bahwa Islam tidak membawa perubahan mendasar sedikit pun di kepulauan Melayu-Indonesia dan tidak juga perabadan yang lebih luhur daripada peradaban yang sudah ada. Benarkah Islam hanya merupakan penampilan luar dan tidak membawa perubahan mendasar bagi masyarakat Melayu-Indonesia? Snouck Hurgronje datang ke Indonesia pada 1889 di saat umat Islam Indonesia memasuki masa transisi.

Akhir abad XIX mulai terjadi kebangkitan agama di kalangan umat Islam. Ketakutan Pemerintah Hindia Belanda terhadap kebangkitan Islam melatarbelakangi pengangkatan Snouck Hurgronje sebagai penasihat pemerintah untuk urusan pribumi dan Islam. Proses Islamisasi di kepulauan Melayu-In donesia, menurut pakar sejarah Melayu, Syed Muhammad Naquib Al-Attas, meng alami kemunduruan sejak datangnya kolonialisme Barat. Sebagaimana orientalis lainnya, Snouck Hurgronje menilai umat Islam dari praktekpraktek mereka pada saat kemunduran itu, sehingga memberikan pemahaman keliru tentang Islam.


Dimana Islam?

Penggambaran kurang tepat tentang peradaban Islam dalam sejarah Indonesia juga bisa dijumpai pada sejumlah penulis Kristen, seperti T.B. Sima tu pang dan Eka Darmaputera. Dalam bukunya, Iman Kristen dan Pancasila (hlm. 11), ia menjelaskan, bahwa Indo nesia tidak pernah mengalami sebuah kerajaan Islam yang mencakup seluruh Indonesia, seperti di zaman Mogul di India.

Menurutnya, Kerajaan Sriwijaya yang Budha dan Majapahit yang Hin du, pernah mempersatukan sebagian besar wilayah Nusantara. ¡°Tetapi tidak pernah ada jaman Islam dalam arti kerajaan yang mencakup seluruh negeri,¡± tulis TB Simatupang. Begitulah, lanjutnya, dalam arti tertentu, yang menggantikan Majapahit adalah pemerintahan kolonial Belanda dan yang menggantikan yang terakhir tersebut adalah pemerintahan Republik Indonesia.

Tokoh Kristen lain, Eka Darmaputera, dalam bukunya, Pancasila: Identitas dan Modernitas (1997:41), juga membuat paparan yang kurang tepat tentang sejarah peradaban Islam di Indonesia. Ia mengakui, dibanding kan dengan kebudayaan asli dan Hin du, Islam jauh lebih berhasil me na nam kan pengaruhnya pada seluruh lapisan masyarakat. Ia berhasil mencapai rakyat biasa dan menjadi agama dari mayoritas penduduk Indonesia. Namun demikian, ia tidak menciptakan suatu peradaban baru.

Sebaliknya, dalam arti tertentu, ia harus menyesuaikan diri dengan peradaban yang telah ada,¡± tulis Eka Darmaputera. Bahkan, untuk mendukung asumsinya tersebut, Eka menunjuk contoh Sunan Kalijaga, yang meskipun sempat memeluk agama Islam, tetapi tetap menjadi Jawa, dan tidak menjadi Hindu atau Islam. Eka menulis: Ia adalah seorang Hindu, bangsawan Majapahit, tetapi toh bu kan itu, sebab Majapahit adalah masa lampaunya.

Ia adalah seorang Islam, menjadi Islam di pusat peradaban Is lam yang tengah menyingsing pada wak tu itu, Demak ¡ª tetapi toh tidak se luruhnya, sebab akhirnya Demak pun ia tinggalkan, bahkan ia memainkan peranan yang penting dalam kekalah annya. Ia pada akhirnya adalah se orang Jawa, yang merangkul semua, tan pa pernah sepenuhnya menjadi sa lah satu. Di Mataram-lah ¨C sebuah Ke rajaan Jawa, yang tidak sepenuhnya Hindu maupun Islam ¨C ia memainkan peranannya yang terpenting di dalam mengislamkan Jawa.¡± (hlm. 34).

Tentu saja, cerita Eka Darmaputera ten tang Sunan Kalijaga tersebut sulit dilacak kebenarannya. K.H. Saifuddin Zuhri, tokoh NU, dalam salah satu tulisannya tentang Wali Songo memberikan gambaran tentang Sunan Ka lijaga yang jauh berbeda dengan gambaran Eka Darmaputera. Sunan Ka li jaga adalah seorang yang sangat aktif berdakwah, yang seluruh hidupnya di abdikan hanya untuk menyiarkan Is lam.(Lihat, KH Saifuddin Zuhri, Sejarah Kebangkitan dan Per kem bangan Islam di Indonesia, 1981:310-329). Sebuah kisah populer di Jawa ¨C yang banyak dirujuk oleh para seja ra wan dalam melihat sejarah Islam, Ma japahit, dan para wali adalah Serat Dar magandul.

Buku Darmagandul ini penuh dengan caci maki terhadap Islam dan Wali Songo. Di sisi lain pengarang Darmagandul (yang tetap misterius sampai sekarang) sejak awal memiliki itikad un tuk menampilkan agama Kristen (Nas rani) lebih memiliki keunggulan dibandingkan Islam. Buku ini juga secara sistematis menanamkan kebencian orang Jawa terhadap Islam. Misalnya ditulis: ¡±Wong Djawa ganti agama, akeh tinggal agama Islam bendjing, aganti agama kawruh, ….(Artinya : Orang Jawa ganti agama, besok banyak yang meninggalkan Islam, berganti (menganut) agama kawruh …). (Lihat, Noname.

Darmagandul. Cetakan IV. (Kediri : Penerbit Tan Khoen Swie, 1955). Juga, ungkapan Darmagandul: Kitab Arab djaman wektu niki, sam pun mboten kanggo, resah sija adil lan ku kume, ingkang kangge mutusi pr akawis, kitabe Djeng Nabi, Isa Ra hu¡¯llahu. (Artinya : Kitab Arab ja man waktu ini, sudah tidak terpakai, hukumnya meresahkan dan tidak adil, yang digunakan untuk memutusi per kara adalah kitab Kanjeng Nabi Isa Ra hullah). Cerita-cerita dalam Dar ma gandul yang menyudutkan Islam dan mengadu domba antara Islam de ngan Jawa ini memiliki banyak kesamaan cerita dengan Babad Kadhiri yang diakui penulisnya ditulis atas permintaan pemerintah kolonial Belanda. (Lebih jauh, lihat artikel Darmagandul dan Orientalisme karya Susiyanto di halaman 3).

Penulisan sejarah sangat tergantung pada perspektif penulisnya. Simaklah sejarah Kerajaan Majapahit. Sekali-ka li perlu dipertanyakan, benarkah seja rah telah membuktikan bahwa Ma ja pahit pernah menguasai seluruh wi layah Nusantara? Prof. Dr. C.C. Berg melalui tulisan-tulisannya telah mengungkapkan, bahwa wilayah Majapahit hanya meliputi wilayah Jawa Timur, Bali, dan Madura.

Masuknya wilayah-wilayah lain di Nusantara, hanya me rupakan cita-cita, dan tidak pernah ma suk ke dalam wilayah Majapahit. (Li hat, Hasan Djafar, Masa Akhir Ma japahit, 2009: 47-48). Ada juga ce rita yang memposisikan Majapahit sebagai ¡°penjajah¡±, sehingga muncul perlawanan dari wilayah yang ditaklukkan. Babad Soengenep, misalnya, menceritakan bagaimana proses pe nak lukan Majapahit atas Soengenep yang berdarah-darah dan bangkitnya pah lawan setempat yang bernama Jaran Panole dalam melawan agresi militer Majapahit yang dipimpin oleh Gajah Mada. Juga cerita yang mendasari Perang Bubat yang merupakan kesalah an besar dalam diplomasi Majapahit.(Terkait dengan perang Bubat lihat H. J. Van Den Berg,, et all, Dari Panggung Peristiwa Sedjarah Dunia Jilid I: India, Tiongkok, dan Djepang, Indonesia. Cetakan II. (Jakarta ¨C Groningen: J. B.Wolters, 1952).


Islam: Jati Diri Bangsa

Pakar sejarah Melayu, Prof. Naquib al-Attas menolak keras teori para sarjana Barat yang menganggap kehadiran Islam di wilayah Melayu-Indonesia ini tidak meninggalkan sesuatu yang berarti bagi peradaban di wilayah ini. Ia me nulis, Banyak sarjana yang telah memperkatakan bahwa Islam itu tidak meresap ke dalam struktur masyarakat Melayu-Indonesia; hanya sedikit je jak nya di atas jasad Melayu, laksana peli tur di atas kayu, yang andaikan dikorek sedikit akan terkupas menonjolkan ke hinduannya, kebudhaannya, dan animis menya.

Namun menurut saya, pa ham demikian itu tidak benar dan ha nya berdasarkan wawasan sempit yang kurang dalam lagi hanya merupakan angan-angan belaka.¡± (Lihat, Syed Mu hammad Naquib Al-Attas, Islam da lam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, 1990:41). Al-Attas juga menekankan kekeliruan hasil penelitian ilmiah Barat yang meletakkan serta mengukuhkan kedaulatan kebudayaan dan peradaban Jawa sebagai titik tolak permulaan kesejarahan Kepulauan MelayuIndonesia.

Anggapan seperti inilah hingga dewasa ini masih merajalela tanpa gugatan dalam pemikiran kesejarahan kita.¡± (ibid, hlm. 40-41). Al-Attas bahkan menyebutkan, kedatangan Islam di wilayah Nusantara merupakan peristiwa paling penting dalam sejarah kepulauan MelayuIndonesia. M.C. Ricklefs dalam bukunya, A History of Modern Indonesia, memulai penulisan sejarah Indonesia modern dengan kedatangan Islam. Islam, tulisnya, membawa banyak perubahan penting dan mendasar dalam masyarakat kepulauan Melayu-Indonesia.

Menurut Al-Attas dalam Preliminary Statement on a General Theory of the Islamization of the Malaysia Indonesian Archipelago, Islam datang ke kepulauan MelayuIndonesia membawa semangat religius yang amat intelektual dan rasionalistis, sehingga mudah masuk ke dalam pikiran rakyat. Ini menyebabkan kebangkitan rasionalisme dan intelektualisme yang tidak dinyatakan dalam masa-masa pra-Islam. Timbulnya rasionalisme dan intelektualisme ini dapat dipandang sebagai semangat yang kuat yang menggerakkan proses revolusi dalam pandangan dunia MelayuIndonesia, dan mengelakkannya dari dunia mitologi yang rontok.

Semangat rasionalisme dan intelektualisme ini bukan saja di kalangan is tana dan keraton, bahkan juga merebak di kalangan rakyat jelata. Banyak ri salah tentang falsafah dan metafisika khusus ditulis bagi keperluan umum. (hlm. 5-6) Risalah-risalah yang dihasilkan oleh para ulama Melayu-Indonesia ditulis dengan huruf Arab meski tidak selalu berbahasa Arab. Bahasa bisa saja Jawa atau Melayu, tetapi hurufnya Arab. Tulisan semacam itu disebut dengan tulisan Arab pegon. Menulis dengan huruf Arab telah menjadi tradisi umat Islam di kepulauan Melayu-Indonesia jauh hari sebelum mereka mengenal tulisan latin yang dibawa oleh kolonialis Barat.

Peristiwa penting lain yang secara langsung digerakkan oleh proses seja rah kebudayaan Islam, menurut Al-Attas, adalah penyebaran bahasa Me layu sebagai bahasa pengantar, bukan saja dalam kesusastraan epik dan ro man, akan tetapi ¨Clebih penting¨C dalam pembicaraan falsafah. Bahasa Melayu mengalami suatu perubahan revolusioner; di samping pengayaan sebagian be sar perbendaharaan kata-katanya yang berasal dari kata-kata Arab dan Per sia.

Bahasaitu menjadi media uta ma untuk membawakan Islam ke seluruh kepulauan sehingga pada abad XVI, selambat-lambatnya, telah mencapai kedudukan sebagai bahasa religius dan kesusasteraan menggantikan, hegemoni bahasa Jawa. Kesusasteraan Melayu berkembang dalam periode Islam. Abad XVI dan XVII menyaksikan berlimpahnya tulisan Melayu mengenai mistisisme filosofis dan teologi rasional yang tidak tertandingi. Ter je mahan Al-Quran yang pertama ke dalam bahasa Melayu dengan tafsiran yang didasarkan atas tafsiran termasyhur dari Al-Baidhawi, dan terjemahan-terjemahan, tafsirantafsiran dan kar ya-karya asli mengenai mistisisme filosofis dan teologi rasional juga muncul selama periode ini yang menandai kebangkitan rasionalisme dan intelektualisme yang tidak dimanifestasikan di mana pun sebelumnya di kepulauan. (hlm. 27)

Bahasa Melayu kemudian menjadi bahasa Islam dan berhasil menggerakkan ke arah terbentuknya kesadaran nasional. Untuk menghilangkan pengaruh Islam, sampai-sampai beberapa sekolah di Jawa yang didirikan oleh misionaris pada awal abad XX menghindari penggunaan bahasa Melayu sejauh mungkin. Imam Yesuit Frans van Lith, pendiri sekolah Muntilan berpendapat, ¡±Dua bahasa di sekolah-sekolah dasar (yaitu bahasa Jawa dan Belanda) adalah batasannya.

Bahasa ketiga hanya mungkin bila kedua ba hasa yang lain dianggap tidak mema dai. Melayu tidak pernah bisa menjadi bahasa dasar untuk budaya Jawa di sekolah-sekolah, tetapi hanya berfungsi sebagai parasit. Bahasa Jawa harus menjadi bahasa pertama di Tanah Jawa dan dengan sendirinya ia akan menjadi bahasa pertama di Nusantara.Penolakan terhadap bahasa Melayu menjadi kebijakan tetap misi Yesuit di Ja wa Tengah. Salah satu alasannya, khawatir promosi bahasa Melayu akan menyiratkan dukungan terhadap agama Islam.

Pengaruh Islam yang sangat besar dalam sejarah Melayu-Indonesia merupakan fakta keras (hard fact) yang tidak bisa dipungkiri. Pengaruh itulah yang selama berabad-abad dicoba dihilangkan oleh kolonialis dan orientalis Belanda. Wajar, jika penjajah melakukan re kayasa sejarah. Tentu, kemudian, tergantung umat Islam sendiri ¨C apapun suku bangsanya ¨C apakah mau sadar atau tidak, bahwa mereka adalah MUSLIM!

About these ads

2 Responses to “Islamia : Orientalis dan Sejarah Indonesia”


  1. August 15, 2009 at 6:37 pm

    Rekan-rekan yth.

    Bagi rekan-rekan pemerhati sejarah dapat berkunjung ke

    http://pelabuhankecil.blogspot.com/

    terima kasih atas Pak Panji yang membolehkan saya mempublikasikan blog saya

    regards,
    budi

  2. October 10, 2009 at 7:16 am

    thanks atas sharing infonya pak,


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,249,138 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers

%d bloggers like this: