10
Aug
09

Nabi Yusuf AS Ekonom Raja Mesir

REPUBLIKA, Minggu, 09 Agustus 2009 pukul 01:53:00

NABI YUSUF AS

SITUS

Gandum yang dipetik bersama tangkainya akan lebih awet dibandingkan gandum yang dipetik tanpa tangkainya.

Kisah Nabi Yusuf Alaihissalam (AS) dapat ditemukan secara terperinci dalam Alquran. Ia adalah salah seorang putra Nabi Ya’kub AS. Yusuf di lahirkan di daerah Palestina sekitar tahun 1745 Sebelum Masehi (SM). Tapi, ada pula yang menyebutkannya lahir di Faddam Aram, Irak.

Yusuf mempunyai saudara kandung yang bernama Bunyamin dari ibu yang bernama Rahel. Adapun saudara tirinya berjumlah 10 orang, yakni Jad, Asyir, Dan, Deftail, Yasyjar, Robalen, Yahuza, Lewi, Syam’un, dan Tobel. Demikian nama-nama saudara Yusuf sebagaimana disebutkan Syauqi Abu Khalil dalam Atlas Alquran.

Sepeninggal ibunya, Rahel, Yusuf sangat dimanja oleh ayahnya, Nabi Ya’kub AS. Di bandingkan saudara lainnya, Yusuf merupakan anak yang paling tampan. Ketampanan Yusuf inilah yang membuat iri saudara-saudaranya hingga dirinya dimusuhi.

Puncaknya, Yusuf dibuang ke sebuah sumur sebelum ditemukan oleh kafilah dagang dari Madyan yang sedang dalam perjalanan menuju Mesir. Dalam Alquran, disebutkan Fi Ghayabati al-Jubb (sumur yang gelap). Menurut qiraat, lafal al-Jub (sumur) dibaca dalam bentuk jamak (supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir) agar Yusuf terpisah dengan ayahnya, Ya’kub.

Di manakah letak sumur itu? Menurut Syauqi Abu Khalil dalam Atlas Alquran, sumur itu terletak di Yerusalem, dekat Baitul Maqdis, Yerusalem, Palestina.

Lalu, oleh para kafilah dagang itu, Yusuf dijual kepada salah seorang pembesar raja Mesir yang bernama Qithfir (menurut Wikipedia) atau Futifar al-Aziz atau Qithfir al-Aziz.

Menurut beberapa riwayat, lokasi Yusuf dijual adalah Kota Hyksos atau Afaris (Tanice), yang sekarang bernama Shan Al-Hajar, di dekat Danau al-Manzilah.

Selama dalam pemeliharaan pembesar raja Mesir itu, Yusuf diangkat menjadi anak. Sebab, istri pembesar raja Mesir itu, Zulaikha, belum dikaruniai seorang putra. Setelah cukup dewasa, istri raja Mesir itu tertarik akan ketampanan Yusuf.

Secara diam-diam, Zulaikha berusaha merayu Yusuf agar mau ‘berselingkuh’ dengannya. Namun, Yusuf selalu menolak, akhirnya Zulaikha menarik baju Yusuf dari belakang hingga robek. Pada saat yang sama, datanglah raja Mesir. Takut perbuatan jahatnya diketahui oleh suaminya, Zulaikha menuduh Yusuf akan berbuat tak senonoh padanya (QS Yusuf: 25).

Namun, Allah SWT menunjukkan kejadian yang sesunguhnya. ”Yusuf berkata, ‘Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya).’ Dan, seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya. ‘Jika baju gamisnya koyak dari depan, wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang yang berbohong. Dan, jika baju gamisnya koyak di belakang, wanita itulah yang dusta dan Yusuf termasuk orang yang benar’.” (QS Yusuf: 26-27).

Mendapati kondisi tersebut, raja Mesir itu berkata kepada Yusuf agar merahasiakan kejadian itu dan meminta istrinya agar bertobat dan memohon ampun pada Allah.

Untuk menutupi keburukannya, Zulaikha mengundang para istri-istri pembesar Mesir untuk melihat ketampanan Yusuf. Mereka pun terkagum-kagum melihat rupa Yusuf yang tampan. Dan, tanpa sadar, mereka mengiris pergelangan tangan mereka sendiri hingga mengeluarkan darah.

”Raja berkata (kepada wanita-wanita itu), ‘Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?’ Mereka berkata, ‘Allah Mahasempurna, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan daripadanya.’ Berkata istri Al-Aziz (Zulaikha), ”Sekarang, jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku) dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar’.” (QS Yusuf: 51).

Ekonom dan penafsir mimpi
Sebagaimana diceritakan dalam Alquran, selain berwajah tampan, Yusuf juga dianugerahi oleh Allah SWT kecerdasan dalam mengelola keuangan negara (ekonomi) dan pandai mengungkapkan tabir mimpi.

Kecerdasannya dalam mengungkapkan takwil mimpi sudah didapatkannya sejak ia masih kecil. Ketika itu, ia bermimpi melihat bulan, matahari, dan 11 bintang bersujud kepadanya. Yusuf menakwilkan, petunjuk itu adalah akan bersujudnya ayah, ibu, dan ke-11 saudaranya kepada Yusuf. Khawatir akan membuat iri saudara tirinya, Ya’kub meminta Yusuf untuk menyimpan takwil mimpi tersebut.

Kenyataannya, ketika Yusuf diangkat menjadi bendahara raja Mesir dan bertugas mengelola keuangan negara serta musim paceklik yang menimpa negeri-negeri sekitarnya, termasuk negeri Ya’kub; ke-11 saudaranya duduk bersimpuh untuk memohon ampun padanya atas perbuatan mereka mencelakakan Yusuf ke dalam sumur.

Selain takwil mimpi itu, ketika berada di penjara, Yusuf juga diminta untuk menakwilkan mimpi dua orang rekannya yang ada di penjara.

Takwil mimpi yang mengantarkan Yusuf menjadi bendaharawan negara adalah ketika menafsirkan mimpi sang raja. ”Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya), ‘Sesungguhnya, aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir yang kering. Hai orang-orang yang terkemuka, Terangkanlah kepadaku tentang tabir mimpiku itu jika kamu dapat menabirkan mimpi’.” (QS Yusuf: 43).

Para orang terkemuka Mesir itu tak bisa menafsirkannya. ”Mereka menjawab, ‘(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menabirkan mimpi itu’.” (QS Yusuf: 44).

Sementara itu, ketika hal itu disampaikan kepada Yusuf, Yusuf mengatakan, ”Supaya kamu bercocok tanam selama tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa, maka apa yang kamu tuai, hendaklah kamu biarkan dibulirnya, kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian, sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit (paceklik–Red) yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun paceklik), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian, setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu, mereka memeras anggur.” (QS Yusuf: 47-49).

Takwil Yusuf tentang mimpi raja ini akhirnya menjadi kenyataan. Penduduk negeri Mesir diperintahkan untuk bercocok tanam demi menghadapi masa paceklik. Ketika musim itu tiba, negeri Mesir dan sekitarnya mengalami masa-masa sulit selama kurang lebih tujuh tahun.

Beruntung, negeri Mesir memiliki persediaan gandum cukup banyak karena mereka menyimpan gandum sewaktu musim subur. Sementara itu, daerah lainnya mengalami kesulitan, termasuk negeri Ya’kub, hingga Nabi Ya’kub mengutus anak-anaknya untuk membeli persediaan gandum di negeri Mesir.

Prof Dr Abdul Majib Balabid dari Universitas Wajdah di Maroko, sebagaimana ditulis Sami bin Abdullah Al-Maghluts dalam bukunya Atlas Sejarah Nabi dan Rasul, melakukan eksperimen (percobaan) untuk memastikan pernyataan Nabi Yusuf AS tentang cara menyimpan gandum yang baik. Yakni, menyimpan sebagian gandum tetap dengan tangkainya dan sebagian lagi tanpa tangkai selama dua tahun.

Hasilnya, biji-biji gandum yang disimpan bersama tangkainya tidak mengalami perubahan sedikit pun, baik isi, unsur kandungan, maupun kemampuannya untuk tumbuh, kecuali hanya mengalami kehilangan sedikit kandungan air.

Sementara itu, gandum yang disimpan tanpa tangkainya mengalami kehilangan 20 persen kandungannya dari unsur-unsur protein selama setahun masa penyimpanan dan 32 persen selama dua tahun. Di samping itu, bulir gandum itu juga mengalami kehilangan kemampuan untuk tumbuh, berkembang, dan berbuah.

Apa yang diperintahkan Nabi Yusuf ini menyalahi kebiasaan orang Mesir yang terbiasa menyimpan gandum dengan melepaskannya dari tangkainya. Karena itu, ketika mereka melakukan perintah Nabi Yusuf dan mendapatkan hasil yang lebih baik, mereka pun kemudian mengikuti cara-cara ini.

Fakta ini menunjukkan sebuah negara agar bisa berhemat dengan cara hidup sederhana. Sebab, ada masa-masa tertentu yang sangat sulit dan pasti akan dihadapi.

Bahkan, Rasulullah SAW pernah ‘bergidik’ saat mengungkapkan peristiwa musim paceklik yang terjadi pada zaman Nabi Yusuf. ”Ya Allah, hindarkanlah penduduk Makkah dari kesulitan seperti kesulitan tujuh tahun yang dialami Yusuf.” (Lihat Penjelasan Alquran tentang Krisis Sosial, Ekonomi, dan Politik karya Ali Zawawi dan Saifullah Ma’shum, 1999, hlmn 143).

Dari takwil mimpinya itu, akhirnya raja Mesir mengangkat Yusuf menjadi bendahara negara. ”Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir). Sesungguhnya, aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” (QS Yusuf: 55).

Langkah raja Mesir mengangkat Yusuf dan menjadikannya sebagai bendahara negara (Mesir) merupakan langkah yang tepat. Ia memilih orang yang tepat untuk menduduki posisi yang vital (penting). Andai diserahkan pada yang bukan ahlinya, tentu akan berbeda pula kisahnya. Bahkan, mungkin kehancuranlah yang akan diterima negara Mesir.

Inilah pesan Alquran dan Rasulullah SAW agar menyerahkan atau memberikan sebuah jabatan pada orang yang ahli di bidangnya. Sebab, apabila diberikan kepada orang yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya. Wa Allahu A’lam. sya/berbagai sumber

Uang Dirham di Zaman Yusuf

Jauh sebelum resmi dipergunakan di dunia Islam, mata uang dinar (emas) dan dirham (perak) telah dikenal di zaman Nabi Yusuf AS. Peristiwanya terjadi ketika Nabi Yusuf dijual kepada raja Mesir oleh kafilah dagang dari Madyan.

Sebagaimana diterangkan dalam Alquran surah Yusuf ayat 20, Nabi Yusuf dijual dengan harga yang murah. ”Dan, mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf.”

Sebagian ahli tafsir mengungkapkan, ketidaktertarikan kafilah dagang ini kepada Yusuf karena Yusuf adalah anak temuan dalam perjalanan. Jadi, mereka khawatir kalau-kalau pemiliknya datang mengambilnya. Karena itu, mereka tergesa-gesa menjualnya sekalipun dengan harga yang murah.

Berkaitan dengan ayat ini, Ustaz Bassam Jarrar berkata, ”Ayat yang mulia ini mengisyaratkan tingkat peradaban bagi masyarakat Mesir waktu itu. Mereka sudah menggunakan dirham, yakni mata uang dari perak sebagai unit alat tukar dalam sistem perdagangan mereka. Kita juga menemukan saudara-saudara Yusuf yang datang dari dusun mengajukan barang-barang untuk membeli bahan-bahan makanan atau pokok,” kata Bassam, sebagaimana dikutip Sami bin Abdullah al-Maghluts dalam bukunya Atlas Sejarah Nabi dan Rasul. (Lihat surah Yusuf ayat 62 dan ayat 88).

Menurut sebagian ahli tafsir, barang-barang saudara Yusuf yang digunakan sebagai alat penukar bahan makanan ialah terbuat dari kulit dan terompah.

Sementara itu, di zaman Kaisar Romawi Julius Caesar telah memperkenalkan dan menggunakan mata uang emas dan perak sebagai alat transaksi sekitar tahun 46 SM dalam bentuk yang sederhana. Standar konversi emas ke perak adalah 12: 1, artinya satu koin emas nilainya sama dengan 12 koin perak.

Pada Desember 2008 lalu, seorang arkeolog pemula asal Inggris, Nadine Ross, berhasil menemukan 300 koin emas 24 karat di lokasi penggalian dekat kota tua Yerusalem.

Koin emas yang ditemukan Nadine Ross, sebagaimana dilaporkan BBC, menurut arkeolog lain, Doron Ben Ami, diperkirakan benda berharga yang disembunyikan seseorang saat Persia menyerang Yerusalem pada awal abad ketujuh. sya/berbagai sumber

Julukan Raja Mesir antara Firaun dan Al-Malik

Mesir adalah sebuah negara yang sangat terkenal dengan Piramida dan museum raja-raja Mesir. Sejak dulu, Mesir diperintah oleh seorang raja.

Dalam Alquran, terdapat dua nama untuk julukan raja yang berkuasa, yakni Firaun dan Al-Malik. Firaun adalah julukan untuk raja Mesir di zaman Nabi Musa AS (1527-1407 SM), sedangkan Al-Aziz adalah julukan raja Mesir pada zaman Nabi Yusuf AS (1745-1635 SM).

Kedua nama ini, menurut para ahli tafsir, ternyata terdapat perbedaan yang sangat mencolok. Al-Malik yang berarti raja adalah sebutan untuk raja Mesir Kuno pada masa Nabi Yusuf. Julukan ini diberikan kepada raja Mesir yang beriman. Sedangkan, gelar Firaun adalah sebutan untuk raja Mesir yang tidak beriman kepada Allah SWT. Adapun sebutan Al-Aziz , ditunjukan sebagai pembesar-pembesar raja-raja Mesir di jaman Nabi Yusuf. Alquran, secara cermat, telah memisahkan istilah itu untuk mereka yang memerintah.

Bahkan, seorang peneliti arkeologi, Hajar al-Rasyid, berhasil mengungkapkan berbagai sumber bahasa-bahasa Mesir kuno berdasarkan kedua istilah tersebut. Hasilnya adalah Mesir pernah mendapat serangan dari bangsa Hyksos, bangsa penggembala yang hidup di wilayah sebelah timur Mesir. sya/berbagai sumber

(-)

About these ads

0 Responses to “Nabi Yusuf AS Ekonom Raja Mesir”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,098,062 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 113 other followers

%d bloggers like this: