19
Jul
09

SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI : Mujahid dan Mujaddid Pelopor Sufisme Thariqati

REPUBLIKA, Minggu, 19 Juli 2009 pukul 01:14:00


Hujjatul islam

Dalam lembaran sejarah Islam, setiap abad kita akan menemukan tokoh besar yang mendapatkan status mujaddid. Ini sesuai dengan hadis Rasul yang menyatakan bahwa setiap 100 tahun, Allah akan mengirimkan pembaru di kalangan umat Islam (Sunan Abu Daud, jilid II: 424).

Jika mujaddid Islam pada abad ke-11 M/5 H adalah Imam al-Ghazali dan mendapat julukan hujjatul Islam karena keberhasilannya menggabungkan syariat dan tarekat secara teoritis, mutiara sejarah abad ke-12 M/6 H diduduki oleh seorang ulama yang berhasil memadukan antara syariat dan sufisme secara praktis-aplikatif. Karena itu, ia mendapat julukan  quthubul auliya’ serta ghautsul a’dzam , orang suci terbesar dalam Islam. Dia adalah Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

Jika nama al-Ghazali dikenal dalam studi-studi tasawuf secara akademik melalui kitab-kitab teori sufinya, nama al-Jailani lebih membumi karena ajaran amaliahnya. Sehingga, dalam masyarakat Muslim, namanya sangat populer, dijadikan sarana  wushuliyyah , serta selalu disebut dalam setiap acara-acara keagamaan, di samping manakib-nya yang juga banyak dibaca tentang riwayat hidup sang tokoh.

Sebagian besar umat Islam Indonesia pernah mendengar nama tokoh ini. Demikian pula para pengkaji tasawuf di Barat dan Timur yang sangat menaruh hormat kepadanya karena keberhasilannya membumikan tasawuf bagi masyarakat Muslim hingga saat ini.

Nama lengkapnya adalah Sayyid Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qadir ibn Abi Shalih Musa Zangi Dausat al-Jailani. Syekh Abdul Qadir dilahirkan di Desa Nif atau Naif, termasuk pada distrik Jailan (disebut juga dengan Jilan, Kailan, Kilan, atau al-Jil), Kurdistan Selatan, terletak 150 kilometer sebelah timur laut Kota Baghdad, di selatan Laut Kaspia, Iran. Wilayah ini dahulunya masuk ke bagian wilayah Thabarishtan, sekarang sudah memisahkan diri, dan masuk menjadi suatu provinsi dari Republik Islam Iran.

Ia dilahirkan pada waktu fajar, Senin, 1 Ramadhan 470 H, bertepatan dengan tahun 1077 M dan wafat di Baghdad pada Sabtu, 11 Rabiuts-Tsani 561 H/1166 M.Kebanyakan biografi (dikenal sebagai manakib) tokoh sufi terpopuler ini penuh dengan fiksi, tanpa mendasarkan pada fakta-fakta sejarah. Padahal, ulama ini merupakan tokoh sejarah yang cukup besar dalam wacana pemikiran Islam, terutama sejarah tasawuf. Sehingga, para ulama banyak mengungkapkan bahwa Syekh Abdul Qadir merupakan mujtahid abad ke-14.

Menurut Walter Braune dalam bukunya  Die ‘Futuh al-Ghaib’ des Abdul Qodir (Berlin & Leipzig, 1933), ia adalah wali yang paling terkenal di dunia Islam. Sedangkan, penulis Muslim Jerman, Mehmed Ali Aini ( Un Grand Saint del Islam: Abd al-Kadir Guilani , Paris, 1967), menyebut al-Jailani sebagai orang suci terbesar di dunia Islam.

Ia lahir sebagai anak yatim (di mana ayahnya telah wafat sewaktu beliau masih dalam kandungan enam bulan) di tengah keluarga yang hidup sederhana dan saleh. Ayahnya, al-Imam Sayyid Abi Shalih Musa Zangi Dausat, adalah ulama fuqaha ternama, Mazhab Hambali, dan garis silsilahnya berujung pada Hasan bin Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah SAW.

Sedangkan, ibunya adalah Ummul Khair Fathimah, putri Sayyid Abdullah Sauma’i, seorang sufi terkemuka waktu itu. Dari jalur ini, silsilahnya akan sampai pada Husain bin Ali bin Abi Thalib. Jika silsilah ini diteruskan, akan sampai kepada Nabi Ibrahim melalui kakek Nabi SAW, Abdul Muthalib. Ia termasuk keturunan Rasulullah dari jalur Siti Fatimah binti Muhammad SAW. Karena itu, ia diberi gelar pula dengan nama Sayyid.

Keistimewaan Syekh Abdul Qadir al-Jailani sudah tampak ketika dilahirkan. Konon, ketika mengandung, ibunya sudah berusia 60 tahun. Sebuah usia yang sangat rawan untuk melahirkan. Bahkan, ketika dilahirkan yang bertepatan dengan bulan Ramadhan, Syekh Abdul Qadir al-Jailani tidak mau menyusu sejak terbit fajar hingga Maghrib.

Namun, kebesaran Syekh Abdul Qadir al-Jailani bukan semata-mata karena faktor nasab dan karamahnya. Ia termasuk pemuda yang cerdas, pendiam, berbudi pekerti luhur, jujur, dan berbakti kepada orang tua. Selain itu, kemasyhuran namanya karena kepandaiannya dalam menguasai berbagai ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang agama. Ia menguasai ilmu fikih dan ushul fikih. Kendati menguasasi Mazhab Hanafi, ia pernah menjadi mufti Mazhab Syafi’i di Baghdad.

Di samping itu, ia juga dikenal sangat alim dan wara. Hal ini berkaitan dengan ajaran sufi yang dipelajarinya. Ia suka tirakat, melakukan riyadhah dan mujahadah melawan hawa nafsu. Selain penguasaannya dalam bidang ilmu fikih, Syekh Abdul Qadir al-Jailani juga dikenal sebagai peletak dasar ajaran tarekat Qadiriyah. Al-Jailani dikenal juga sebagai orang yang memberikan spirit keagamaan bagi banyak umat. Karena itu, banyak ulama yang menjuluki ‘Muhyidin’ (penghidup agama) di depan namanya.

Jujur
Ada sebuah cerita mengenai kejujuran al-Jailani. Disebutkan bahwa watak tersebut sebagai buah pendidikan orang tuanya sekaligus sebagai rasa tanggung jawab untuk berbakti kepada orang tuanya, terutama ibunya. Ibunya berpesan agar ia selalu berkata jujur.

Diceritakan bahwa ketika berangkat ke Baghdad guna menuntut ilmu, kafilah yang membawanya dihadang perampok. Ketika diminta oleh para perampok itu, dengan jujur ia mengatakan bahwa ia membawa uang emas yang disimpan di kantong bajunya. Ketulusan dan kepolosannya itu membuat para perampok ini kaget karena jarang ada orang yang akan dirampok mengatakan yang sebenarnya. Singkat cerita, para perampok ini akhirnya menjadi murid-muridnya.

Setibanya di Baghdad, al-Jailani tidak langsung memasuki gerbang kota, namun memilih tinggal di gurun pasir di luar Kota Baghdad pada sebuah kastil (reruntuhan istana raja-raja kuno Persia) di daerah Karkh untuk melakukan khalwat. Menurut beberapa riwayat, hal ini dilakukan atas petunjuk nabi atau guru spiritual, Nabi Khidhir. Selama masa khalwatnya, ia selalu dikunjungi Nabi Khidhir untuk memberikan pendidikan dan bimbingan. Setelah beberapa tahun, baru al-Jailani memasuki Kota Baghdad untuk menuntut ilmu.

Guru-guru Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam bidang tahfiz Alquran dan tafsir adalah Syekh Ali Abu al-Wafa al-Qail. Dalam bidang fikih, tercatat nama Syekh Abi al-Wafa’ Ali bin ‘Aqil (Ibn ‘Aqil), Syekh Abi al-Khaththab al-Kalwadzani Mahfudz bin Ahmad al-Jalil. Dalam bidang sastra dan bahasa Arab, ada nama Abi al-Husain Muhammad bin Al-Qadli Abi Ya’la.

Di Baghdad, dia berniat masuk di perguruan Nizhamiyyah yang waktu itu merupakan perguruan tinggi prestisius. Namun, dia ditolak oleh Ahmad al-Ghazali yang menggantikan posisi Abu Hamid al-Ghazali–karena perbedaan mazhab yang dianut. Maka, dia mengikuti semacam kursus fikih Mazhab Hambali di Madrasah Babul ‘Ajl yang dipimpin oleh Abu Sa’id al-Mukharrimi.

Penolakan Ahmad al-Ghazali terhadap Al-Jailani untuk menuntut ilmu di perguruan Nizhamiyah membawa hikmah baginya. Sebab, hal ini makin membuatnya banyak bertafakur dan berkhalwat. Ia berhasil mengombinasikan antara hukum-hukum legal objektif keagamaan (dalam hal ini fikih) dan kondisi kegembiraan jiwa pribadi luar biasa, yakni aspek spiritual-tasawuf yang merupakan pengalaman keagamaan subjektif ( combines religion of the law with ecstatic individualism ).

Menruut GE Von Grunebaum dalam  Classical Islam: A History 600-1258 (Chicago, 1970), Al-Jailani terus menjaga kedudukannya sebagai orang yang suci. Selain itu, Al-Jailani-lah yang pertama kali memegang posisi sebagai pemadu syariah dan tarekat sehingga menjadi harmonis dalam tataran aplikatif. Inilah yang membedakannya dengan al-Ghazali yang dipandang para pengamat sebagai pemadu syariat dan tarekat, namun hanya secara teoritis, maka al-Jailani yang kemudian mewujudkannya.

Imam al-Ghazali, setelah mengalami transformasi spiritualnya, mencoba melaraskan ajaran dan spiritualisme Islam. Tetapi, karena ia lebih sebagai seorang ilmuwan daripada pemikir kerohanian, ia terbatas pada ajaran dan aturan, bukan penerapan spiritualisme. Maka, Julian Baldick ( Mystical Islam: An Introduction to Sufism , London, 2000) menyebut, al-Jailani sebagai seorang sufi yang selalu menghindari teoretisasi yang abstrak sebagaimana terdapat dalam karya-karya al-Ghazali dan penulis sufi lainnya. sya/berbagai sumber


Suka Mengamalkan Zikir dan Wirid

Syekh Abdul Qadir al-Jailani dikenal sebagai pelaku sufi yang mukhlis (ikhlas). Ia juga rutin mengamalkan wirid dan zikir. Hal itu telah dilakukannya sejak masa muda hingga namanya makin masyhur. Kegiatan wirid dan zikir biasa dilakukan setelah shalat sunah, baik pada siang hari maupun malam hari. Namun demikian, ia juga sering melakukannya setelah shalat fardhu.

Muhammad Sholikhin, pemerhati dan penulis buku tentang Syekh Abdul Qadir al-Jailani dan tarekat di Indonesia, mengatakan, shalat sunah yang biasa dikerjakan tokoh sufi ini setiap hari meliputi shalat tahajud (minimal 12 rakaat), shalat witir (3 rakaat), shalat fajar, shalat isyraq (setelah matahari terbit beberapa saat), shalat isti’adzah, shalat istikharah, shalat dhuha, shalat kaffarah li al-baul, dan shalat tasbih.

Sedangkan, zikir kesehariannya, kata dia, antara lain membaca Alquran paling sedikit 200 ayat, surah Al-Ikhlas 100 kali, shalawat 100 kali, sayyidul istighfar 100 kali, dan tahlil 100 kali. ”Kalau masih ada sisa waktu, digunakan untuk membaca Alquran serta menelaah kembali berbagai ilmu keislaman. Tentu saja semua itu di luar kesibukannya sebagai seorang wiraswastawan (pedagang kain sutra) sukses di Baghdad,” ujarnya.

Solikhin menambahkan, seiring dengan semakin menyebarnya ajaran tasawuf yang dikembangkannya, lambat laun pencitraan terhadap dirinya hanya terbatas pada potret kesufiannya. Padahal, antara konsep teologi, fikih-ushul fikih, dan tasawuf menjadi seimbang pada pribadi, intelektualitas, atau pola akademis.

Sementara itu, J Spencer Trimingham ( The Sufi Orders in Islam , New York, 1971) mencatat, salah satu kesuksesan besar atas reputasi syekh adalah menjadikan masyarakat biasa memiliki tanggung jawab untuk berpartisipasi dalam wawasan, pengetahuan, dan pengalaman-pengalaman kesufian. Sebuah prestasi yang jarang bisa dilakukan oleh imam-imam sufi sepanjang zaman.

Karya-karyanya
Karyanya yang paling masyhur adalah  al-Ghunya li Thalibi Thariqi al-Haqq (Kecukupan bagi Pencari-pencari Kebenaran). Salah satu edisinya terbit di Mesir pada tahun 1288. Di dalamnya memuat khotbah sang sufi mengenai ibadah dan akhlak, cerita-cerita tentang etika, serta keterangan mengenai 73 aliran-aliran Islam yang terbagi dalam 10 bagian.

Intinya adalah pendidikan untuk menjadi Muslim yang baik. Karya ini dikenal sebagai fikih-tasawuf yang mencerahkan. Keteranganya ringkas, namun menyeluruh dan mudah dipahami oleh orang ‘awam sekalipun dan juga tidak kehilangan bobot ilmiah dan intelektualitasnya.

Beberapa karya lainnya adalah  al-Fath al-Rabbany yang berisi 62 khotbah yang disampaikan dalam tahun 545-546 H (1150-1152 M). Kitab kesufiannya yang terkenal adalah  Futuh al-Ghayb , berisi 78 buah khotbah mengenai berbagai macam subjek keagamaan. Kitab ini berisi antara lain ajaran-ajarannya seputar akhlak (tasawuf ‘amali) disertai dengan silsilahnya dan keterhubungannya dengan Abu Bakar serta Umar. Secara khusus, kitab ini dianalisis oleh Walter Braune dengan judul  Die Futuh al-Gaib” des Abdul Qadir (Berlin & Leipzig, tahun 1933).

Karya utuhnya mengenai seluk-beluk tasawuf berjudul  Sirr al-Asrar fi ma Yahtaju Ilayhi al-Arbar (rahasia terdalam dari segala rahasia dalam menjelaskan yang diperlukan oleh ahli kebajikan). Di dalamnya dibahas secara menyeluruh tentang syariat, tarikat, dan hakikat. Berisi satu mukadimah beserta 24 pasal, baik teologi-kalam, fikih-syari’at, maupun tasawuf (tarikat, hakiqat, dan makrifat). Kitab ini menjadi rujukan pokok pada pengajian tasawuf pada ribath Qadariyyah-Naqsyabandiyyah Jabal Qubais, Makkah.

Selain karya tersebut, kitab lainnya adalah  Al-Mawahib al-Rahmaniyya wa al-Futuh al-Rabbaniyya fi Maratib al-Akhlaq al-Sawiya wa al-Maqamat al-’Irfaniyyat; Djala’ al-Khatir , yaitu berupa kumpulan khotbah yang diperkirakan disampaikan pada tahun-tahun setelah 546 H;  Yawakit al-Hikam; Malfudzat-I Jalali; Syarh-I-Ghautsiya va Ghayra; Al-Fuyudhat al-Rabbaniyyah fi al-Aurad al-Qadariyyah , koleksi mengenai sembahyang dan praktik ritual (salah satu edisinya terbit di Kairo, 1303 H); dan  Hizb Basha’ir al-Khayrat , berisi doa-doa dan penjelasan masalah shalat syariat dan tarikat (salah satu edisinya terbit di Alexandria, 1304 H).

Dibanding ajaran-ajarannya, justru pengenalan masyarakat terhadap Syekh Abdul Qadir lebih dominan pada keajaiban-keajaiban, keluarbiasaan, dan kesaktian/keampuhannya yang bersumber pada kitab-kitab manakib yang beredar di kalangan masyarakat.

Kisah hidup pertama (mengenai keajaiban al-Jailani) terdapat dalam kitab  Bahjah al-Asrar karangan Ali bin Yusuf al-Syattanaufi (w 713/1314).  Taqiy al-Din Abdurrahman al-Wasithi (w 1343) menulis manakib al-Jailani dalam kitab  Tiryaq al-Muhibbin fi thabaqat khirqat al-masyayikh al-arifin (masih terbit di Kairo tahun 1305/1888).

Tidak lama kemudian, muncul ‘Afif al-Din al-Yafa’i (w 1367) yang mengarang kitab yang makin memantapkan nama al-Jailani sebagai ahli keajaiban yang terbesar dalam kitab  Khulashah al-Mufakhir fi Ikhtishar Manaqib al-Syaikh Abdul Qadir . Kitab terakhir ini menjadi dasar beberapa versi manakib yang beredar di Indonesia.

Setelah Yafi’i, beberapa ulama mengarang kitab yang lebih ekstrem lagi dan yang paling penting di antaranya adalah kitab  Lujjain al-Dani oleh Ja’far bin Hasan al-Barzanji (w 1766), pengarang yang dikenal di Indonesia dengan kitab  Maulid al-Barzanji -nya. Syekh Abdul Qadir al-Jailani wafat pada tahun 1168 (11 Rabiul akhir 561) dalam usia 91 tahun setelah menderita sakit beberapa hari. Ia memiliki 20 putra dan 29 putri dari empat orang istrinya.

Para pengikut Al-Jailani biasanya memperingati hari wafatnya tersebut pada setiap 11 Rabi’ al-Tsani yang diadakan acara haul (peringatan kematian) disertai pembacaan manakib Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Sedangkan, untuk mengenang secara kecil-kecilan, umumnya masyarakat melaksanakan acara  sewelasan , acara ritual atau tradisi keagamaan setiap malam pada 11 bulan Qomariyyah.

Yang patut disayangkan adalah selama ini apa yang dikenalkan dan dikenal oleh masyarakat (terutama kaum awam) hanyalah mengeksploitasi segi-segi kemukjizatan dan karamah Syekh Abdul Qadir, yang justru kebanyakan berupa mitos. Informasi yang berlebih-lebihan mengenai Syekh Abdul Qadir ini berasal dari berbagai kitab manakib (riwayat hidup) yang hanya mengungkap kebaikan-kebaikannya tanpa didasarkan pada fakta historis, Biasanya, hal itu ditulis oleh para pengagumnya yang tentu saja otentitas sejarah dan validitasnya masih banyak yang meragukan dan perlu diteliti lebih lanjut.  Wa Allahu A’lam . sya/berbagai sumber

About these ads

0 Responses to “SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI : Mujahid dan Mujaddid Pelopor Sufisme Thariqati”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,097,693 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 113 other followers

%d bloggers like this: