Hakikat Salat
Jumat, 03 Juli 2009 pukul 16:01:00
WORDPRESS.COMLima belas abad lalu Rasul SAW kembali dari perjalanan Isra’, membawa petunjuk Ilahi tentang salat lima kali sehari, kewajiban yang diketahui oleh semua muslim dari generasi ke generasi. Menghadapkan jiwa raga kepada Tuhan merupakan kewajiban keagamaan, karena diyakini bahwa Tuhan menguasai alam raya. Dia menciptakan, mengatur, dan menetapkan hukum-hukum (alam) menyangkut sistem dan tata kerjanya. Dia menguasai hidup dan kehidupan. Manusia, lebih-lebih para ilmuwan membutuhkan kepastian tentang tata kerja alam ini demi pengembangan ilmu dan penerapannya. Kepastian ini tidak dapat diperoleh kecuali dengan keyakinan adanya pengendalian dan penguasa tunggal yang Maha Esa itu, Allah SWT.
Dengan salat, hati, pikiran, lisan, dan anggota tubuh, mengejawantahkan keyakinan tersebut. Di sini salat telah menjadi kebutuhan bukan lagi beban, atau kewajiban. Manusia adalah makhluk yang memiliki naluri cemas dan harap, ia selalu membutuhkan sandaran, terutama pada saat-saat cemas. Kenyataan membuktikan bahwa bersandar kepada makhluk betapapun kekuatan dan kekuasaannya seringkali tidak membuahkan hasil. ”Hai manusia kamulah orang-orang yang miskin (butuh) kepada Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji (Q. S: 35: 15).
Seorang muslim dalam salatnya menghimpun segala bentuk dan cara penghormatan dan pengagungan yang dikenal umat manusia, di sana ada isyarat penghormatan dengan tangan,.. berdiri tetak, menunduk (ruku’), sujud,.. ada puji-pujian, ada doa dan harapan. Penghormatan dan pengagungan ini merupakan salah satu esensi salat. Di sisi lain salat secara harfiah berarti permohonan. Ini berarti yang salat melakukan permohonan kepada Allah. Tidak adil bagi yang salat, bila hanya permohonannya yang dia harapkan terkabul, sedang orang lain yang meminta kepada si pemohon itu, dia abaikan. Bahkan orang semacam ini kata Quran bakal celaka hidupnya. ”Celaka yang salat tapi lengah akan salatnya, mereka yang riya’ bermuka dua dan enggan memberi pertolongan.” (Q. S: 107: 5-7).
Hanya lima kali sehari Allah mengundang kita menghadap kepadaNya. Malu rasanya kita, yang memperoleh anugerahNya yang tak terbilang, mengabaikan ajakan itu, apalagi salat merupakan kebutuhan kita sendiri. Malu pula rasanya apabila hanya pada saat-saat terdesak, pada saat cemas dan mengharap, kita baru berkunjung ke hadiratNya. - ahi

0 Responses to “Hikmah : Hakikat Salat”