08
Jun
09

Kerukunan Antar Umat Beragama

REPUBLIKA, Jumat, 05 Juni 2009 pukul 18:41:00

Ini merupakan kondisi sosial yang memungkinkan semua golongan agama bisa hidup bersama-sama tanpa mengurangi hak azasi masing-masing untuk melaksanakan kewajiban agamanya. Konsep hidup beragama yang digunakan pemerintah mencakup tiga kerukunan, yakni kerukunan intern umat beragama, kerukunan antar umat beragama dan kerukunan antara umat beragama dengan pemerintah.

Konsep kerukunan antar umat beragama muncul dengan latar belakang beberapa peristiwa yang menimbulkan konflik antar umat beragama. Berbagai peristiwa konflik muncul pada tahun 1960-an, seperti pendirian gereja oleh umat Kristen di perkampungan miskin di Meulaboh, Aceh Barat.

Banyak kasus lain yang menyulut konflik antara umat Islam dan Kristen, seperti peristiwa di Slipi (Jakarta Barat), di Pulau Banyak (Jakarta), peristiwa Manado, peristiwa Flores, peristiwa Donggo (Kabupaten Bima), dan banyak lagi.

Dari kejadian-kejadian tersebut, pemerintah mengambil inisiatif agar diadakan musyawarah antar agama yang dilaksanakan pada tanggal 30 Nopember 1967. Dalam kesempatan ini, Presiden Soeharto menyatakan, ”Secara jujur dan dengan hati terbuka, kita harus berani mengakui, bahwa musyawarah antar agama ini justru diadakan oleh karena timbul berbagai gejala di beberapa daerah yang mengarah pada pertentangan agama.”

Musyawarah antar agama ini dihadiri oleh pemuka agama Islam, Protestan, Katolik, Budha dan Hindu. Dalam musyawarah itu, pemerintah mengusulkan dibentuknya Badan Konsultasi Antar Agama dan ditandatangani bersama suatu piagam yang isinya antara lain, ”Menerima anjuran Presiden agar tidak menjadikan umat yang sudah beragama sebagai sasaran penyebaran agama lain.”

Badan Konsultasi Antar Agama berhasil dibentuk, tetapi musyawarah tidak dapat menyepakati penandatangangan piagam yang telah diusulkan pemerintah. Pihak Kristen merasa berkeberatan sebab piagam tersebut dianggap bertentangan dengan kebebasan penyebaran Injil.

Sekalipun begitu, pemerintah mulai tingkat pusat hingga daerah, terus berusaha menumbuhkan saling pengertian atau kerukunan antar umat beragama dan melaukan dialog antar agama yang disponsori Departemen Agama (Depag).

Setelah melalui proses panjang, maka melalui Keputusan Menteri Agama Nomor 35/1980 tanggal 30 Juni 1980, dibentuklah forum Konsultasi Antar Umat Beragama yang bernama ‘Wadah Musyawarah Umat Beragama’. Keanggotaan wadah ini antara lain Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dewan Gereja Indonesia (DGI), Majelis Agung Wali Gereja Indonesia (MAWI), Parisada Hindu Dharma Pusat (PHDP), dan Perwalian Umat Budha Indonesia (Walubi).  yus/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ikhtiar Baru van Hoeve, Jakarta

About these ads

9 Responses to “Kerukunan Antar Umat Beragama”


  1. 1 Rasyid Emilly
    December 27, 2009 at 9:36 am

    Tidak satupun dalam wilayah NKRI ada larangan melakukan syariat agama bagi pemeluknya, termasuk di Provinsi NAD sendiri tidak ada larangan bagi Non Muslim untuk melakukan ajaran agamanya masing-masing. Terkecuali di Papua Barat, tepatnya di Manokwari yang menyebut Provinsi ini sebagai Kota Injil. Disini kaum Muslimah dilarang menggunakan Jilbab. Masjid disini dilarang menggunakan pengeras suara untuk mengumandangkan Azan, dan dilarang membangun masjid yang baru.
    Dalam setiap kesempatan kaum muslimin memberikan bantuan, tidak ada acara pengislaman. Berbeda deengan beberapa kali mushibah bencana alam yang terjadi di Aceh, Sumbar dan beberapa daerah lainnya, yang segera disusul dengan acara pemurtadan.
    Apakah begini yang disebut Kerukunan Umat Beragama. Saya melihat UU Kerukunan Umat Beragama hanya ditujukan khusus untuk golongan Islam saja.
    Atas kasus yang sebutkan diatas, yang sudah diketahui masyarakat secara umum, tidak ada tindakan antisipasi sama sekali dari pemerintah.

  2. 2 Paijo
    January 27, 2010 at 9:56 pm

    Gus Dur (alm) berkata bahwa sesungguhnya Tuhan menjanjikan sorga itu tidak kepada orang muslim saja tetapi juga kepada umat agama lain Kristen Hindu dsb Seandainya kita semua umat beragama bisa menerima fatwa itu juga tidak akan adalah saling kecurigaan itu.

  3. 3 gebrak
    September 13, 2010 at 10:23 am

    Agama bukanlah sesuatu hal yang haqrus diributkan lagi, kapan majunya bangsa ini kalo pemerintah dan rakyat masih sibuk dengan yang namanya agama. biarkan sajalah orang mau beragama apa yang penting bisa saling menghargai. kalo kita semua mengaku orang yang beragama tentu tidak ada lagi yang namanya konflik jadi coba instropeksi diri dan buka mata hati.

  4. 4 bonar
    October 15, 2010 at 3:38 pm

    Dunia ini semakin sulit untuk timbulnya persatuan dan perdamaian, kalau saling curiga kapan kita akan maju dan berkembang serta menghapus kemiskinan. Saya tidak yakin ada permutatan dari agama islam keagama lainnya karena bantuan telah diberikan dalam suatu bencana, terlebih lagi hal itu tidak ada relevansinya.Dikampung saya berdiri mesjid tidak ada izin mendirikan bangunan tidak masalah karena melihat itu hanya masalah administratip saja.Selain itu yg mendirikan masih suku yg sama dan marganya bermacam2 aman2 saja menjalankan ibadahnya. Kalaupun Indonesia menjadi 10O% muslim tidak yakin juga saya akan hebat selai negara ini, dem ikian pula sebaliknya. Jagalah kerukunan tsb ingatlah negara ini dibangun dengan darah dan air mata, bagi mereka yang pernah merasakan pergolakan PRRI/PERMESTA tahu benar betapa sulitnya negara kita pada waktu itu dan akhirnya berdamai setelah Bung Karno memberikan hati yang penuh kasih sayang untuk kembali kepangkuan ibu pertiwi.

  5. November 7, 2010 at 12:33 pm

    salam semua saudara2 sebangsa dan setanah air… menimbang dan memperhatikan masalah diatas,atas kesadaran dan ilmu yang kita dapati dan agama yang kita yakini. Saya atas nama warga negara dan bangsa indonesia yang biasa saja memutuskan bahwa :

    1. Tiap pemeluk agama pasti menyakini apa yang dia imani,dia juga pasti bangga dengan keimanannya karena itu adalah pilihan hati dan fikirannya. jika dia tidak ambil pusing dengan teman seimannya,maka apakah benar dia itu seiman dengan sauadranya itu??? jika tidak,maka patut dipertanyakan keimanannya itu.apakah cuma sekedar punya agama atau identitas semata atau bergama karena dia memang butuh??
    2. Tiap Umat tahu betul bahwa dia atau pemeluk itu membela mati-matian keyakinanya jika diganggu.
    3. Dan yang paling penting adalah, karena syetan itu ada maka terjadilah saling memusuhi dan menyerang satu sama yang lainnya. Kenapa??? karena KAMU, KAMU, KAMU,, KAMU SEKALIAN yang membaca komentarku…

  6. June 13, 2011 at 12:50 am

    * stiap agama adalah dibenarkan oleh pemeluknya, ,
    * stiap agama yg diyakini pemeluknya adlah membwa pmeluknya kearah benar bukan kesesatan, ,,
    * stiap agma yg kta yakini akan membwa kita kedalam JANNAH yg indah kelak, ,,
    # So jadi bwt apa kita ribut” soal bgtuan, ,, semua amal kita hanya IA-lah yg mengetahui, ,,

  7. 7 lesman
    July 19, 2011 at 10:36 am

    Saya sanat tertarik dengan komunitas yang diatas….
    Begitu alangkah baiknya jika kita umat beragama saling memeluk agama sesuai kepercayaan kita masing-masing…
    kita jangan saling membenci, saling menfitnah, saling menggosip dan sebagainya yang menyakut sikap yang tidak memberikan bobot yang baik dengan sesama kita… tetapi mari kita memeluk agama kita masing-masing…. dengan penuh rsa saling menghargai, sebab walau kita berbeda-beda tetapi kita satu jua. Kita sebangsa setanah air, dan seperjuangan…

  8. 9 bella barbie
    August 12, 2012 at 9:24 pm

    good


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,309,832 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 130 other followers

%d bloggers like this: