DEBAT putaran kedua antarcapres tadi malam cukup menutupi kekecewaan publik yang menyaksikan dua debat sebelumnya. Agaknya kritik pers berhasil mendorong para capres tampil berdebat.
Memang belum ‘sungguh-sungguh’ berdebat, tapi ‘perselisihan pikiran’ sudah cukup terasa. Walaupun pendalaman arah kebijakan belum meyakinkan, tapi keberanian tampil beda sudah cukup ‘menghibur’ publik.
Tema perdebatan adalah soal pengangguran dan kemiskinan. Tentu saja tema ini amat penting karena ia menyangkut setengah jumlah penduduk kita. Ukuran Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang kemiskinan adalah: pendapatan US$2/hari. Itu berarti 120 juta orang Indonesia adalah miskin.
Angka pengangguran kita juga sangat tinggi. Statistik pemerintah menyebutkan sekitar 8%. Tetapi sebetulnya pengangguran terselubunglah yang merupakan soal paling mengkhawatirkan, karena 31 juta orang tidak memiliki pekerjaan tetap. Bila 70% pekerja berada di sektor informal, maka sebetulnya mereka tetap tidak merasa aman dengan masa depannya.
Bahkan dari segi kualitas pekerjaan, lulusan pendidikan tinggi justru mengerjakan pekerjaan yang kualifikasinya cukup dipenuhi lulusan sekolah menengah. Ini berarti kesempatan memperoleh pekerjaan bagi mereka yang putus sekolah makin tidak tersedia, karena mereka harus bersaing dengan lapisan berkualifikasi lebih tinggi.
Pekerjaan sesungguhnya adalah harga diri seseorang. Artinya, orang yang tidak bekerja bukan saja tidak punya pendapatan, tapi juga kurang punya harga diri.
Debat capres tadi malam berupaya menjawab soal-soal tadi. Megawati konsisten dalam mempertahankan ‘garis ideologi’ visi ekonomi, yaitu bahwa ‘kemandirian’ bangsa harus menjadi dasar kebijakan ekonomi pemerintah. Kendati kurang menguraikan cara perwujudan cita-cita itu, tetapi minimal ada yang ditegaskan secara ideologis: negara sepenuhnya bertanggung jawab pada kemakmuran warganya.
Kita boleh berbeda secara ideologis dalam soal itu, tapi sekali lagi ada yang diyakini Megawati. Itu artinya bila Megawati menyimpang dalam kebijakan (bila ia memerintah), maka pihak oposisi dapat segera mempersoalkannya.
SBY tidak tegas mengikuti suatu garis ideologi ekonomi. Ia terlihat akomodasionis antara ‘pasar’ dan ‘negara’. Yang bisa diucapkan SBY adalah ‘melanjutkan’ program-program penanggulangan kemiskinan (BLT, PNPM, UKM). Tentu saja ini memperlihatkan politik keseimbangan, yaitu dalam upaya menetralisir isu neolib, tapi tetap memerlukan pasar sebagai instrumen efisiensi kebijakan.
SBY lebih berupaya mempromosikan apa yang ia sudah kerjakan selama lima tahun, dan dengan itu berharap dukungan publik.
JK berupaya ‘tampil beda’. Kali ini ia memperlihatkan determinasi sebagai seorang ‘capres’ dan bukan lagi ‘wapres’. Ia bahkan mengambil risiko berbeda arah dengan SBY.
Memang dalam garis kebijakan umumnya ia juga masih berupaya menyeimbangkan kepentingan swasta dan negara. Tetapi tampaknya ia berupaya memperlihatkan kehendaknya untuk mereview beberapa kebijakan yang ingin dilanjutkan SBY (kebijakan subsidi, program-program kemiskinan, UU perburuhan, infrastruktur).
Secara umum, sebagai tontonan politik, JK tadi malam menguasai panggung. Pikirannya lincah. SBY memang sejak awal telah berposisi defensif. Dan Megawati bertahan ‘lurus’ dalam ‘nasionalisme ekonomi’.
Debat tadi malam sebetulnya memperlihatkan bahwa kita dapat berselisih pikiran secara argumentatif. Dengan itu kita telah mendidik bangsa ini untuk bebas dari feodalisme.
Juga debat tadi malam cukup memperjelas ‘posisi-posisi’ ideologis para capres. Mungkin saja warna ideologi itu akan kembali menjadi kabur dalam implementasi kebijakan. Itu soal nanti, yaitu menjadi tugas oposisi dan kontrol publik. Tapi paling tidak, dasar visioner dari kebijakan sudah dapat diucapkan: antara yang radikal, moderat dan akomodasionis.
Kita menunggu akibat dari debat tadi malam bagi elektabilitas masing-masing. Para pemilih ragu-ragu tentu juga kini mendapat gambaran lebih memadai tentang ‘isi kebijakan’ pemerintah mendatang.
Juga para pemilih makin paham tentang tingkat kecerdasan para kandidat, juga makin paham tentang ‘karakter emosi’ tokoh-tokoh itu.
Dan bagi para capres itu, masih ada kesempatan memaksimalkan penampilan dan strategi komunikasi politiknya dalam putaran debat terakhir.
Pelajaran penting dalam debat capres kedua adalah: menyelenggarakan negara memerlukan jalan pikiran ideologis yang utuh. Konsistensi itulah yang harus terlihat dalam debat kebijakan. Dari pada mengucapkan daftar keinginan (seolah-olah dalam ekonomi tidak ada trade off), lebih baik meyakinkan publik tentang garis ideologi yang sengaja(!) dipilih para capres. Ini penting untuk mencegah sebuah kabinet gado-gado kelak. [L1]






Recent Comments