Archive for June, 2009

30
Jun
09

Debat Capres : Babak Ideologis [27 Juni 2009]

27/06/09 10:37
Debat Capres: Babak Ideologis?
Rocky Gerung

DEBAT putaran kedua antarcapres tadi malam cukup menutupi kekecewaan publik yang menyaksikan dua debat sebelumnya. Agaknya kritik pers berhasil mendorong para capres tampil berdebat.

Memang belum ‘sungguh-sungguh’ berdebat, tapi ‘perselisihan pikiran’ sudah cukup terasa. Walaupun pendalaman arah kebijakan belum meyakinkan, tapi keberanian tampil beda sudah cukup ‘menghibur’ publik.

Tema perdebatan adalah soal pengangguran dan kemiskinan. Tentu saja tema ini amat penting karena ia menyangkut setengah jumlah penduduk kita. Ukuran Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang kemiskinan adalah: pendapatan US$2/hari. Itu berarti 120 juta orang Indonesia adalah miskin.

Angka pengangguran kita juga sangat tinggi. Statistik pemerintah menyebutkan sekitar 8%. Tetapi sebetulnya pengangguran terselubunglah yang merupakan soal paling mengkhawatirkan, karena 31 juta orang tidak memiliki pekerjaan tetap. Bila 70% pekerja berada di sektor informal, maka sebetulnya mereka tetap tidak merasa aman dengan masa depannya.

Bahkan dari segi kualitas pekerjaan, lulusan pendidikan tinggi justru mengerjakan pekerjaan yang kualifikasinya cukup dipenuhi lulusan sekolah menengah. Ini berarti kesempatan memperoleh pekerjaan bagi mereka yang putus sekolah makin tidak tersedia, karena mereka harus bersaing dengan lapisan berkualifikasi lebih tinggi.

Pekerjaan sesungguhnya adalah harga diri seseorang. Artinya, orang yang tidak bekerja bukan saja tidak punya pendapatan, tapi juga kurang punya harga diri.

Debat capres tadi malam berupaya menjawab soal-soal tadi. Megawati konsisten dalam mempertahankan ‘garis ideologi’ visi ekonomi, yaitu bahwa ‘kemandirian’ bangsa harus menjadi dasar kebijakan ekonomi pemerintah. Kendati kurang menguraikan cara perwujudan cita-cita itu, tetapi minimal ada yang ditegaskan secara ideologis: negara sepenuhnya bertanggung jawab pada kemakmuran warganya.

Kita boleh berbeda secara ideologis dalam soal itu, tapi sekali lagi ada yang diyakini Megawati. Itu artinya bila Megawati menyimpang dalam kebijakan (bila ia memerintah), maka pihak oposisi dapat segera mempersoalkannya.

SBY tidak tegas mengikuti suatu garis ideologi ekonomi. Ia terlihat akomodasionis antara ‘pasar’ dan ‘negara’. Yang bisa diucapkan SBY adalah ‘melanjutkan’ program-program penanggulangan kemiskinan (BLT, PNPM, UKM). Tentu saja ini memperlihatkan politik keseimbangan, yaitu dalam upaya menetralisir isu neolib, tapi tetap memerlukan pasar sebagai instrumen efisiensi kebijakan.

SBY lebih berupaya mempromosikan apa yang ia sudah kerjakan selama lima tahun, dan dengan itu berharap dukungan publik.

JK berupaya ‘tampil beda’. Kali ini ia memperlihatkan determinasi sebagai seorang ‘capres’ dan bukan lagi ‘wapres’. Ia bahkan mengambil risiko berbeda arah dengan SBY.

Memang dalam garis kebijakan umumnya ia juga masih berupaya menyeimbangkan kepentingan swasta dan negara. Tetapi tampaknya ia berupaya memperlihatkan kehendaknya untuk mereview beberapa kebijakan yang ingin dilanjutkan SBY (kebijakan subsidi, program-program kemiskinan, UU perburuhan, infrastruktur).

Secara umum, sebagai tontonan politik, JK tadi malam menguasai panggung. Pikirannya lincah. SBY memang sejak awal telah berposisi defensif. Dan Megawati bertahan ‘lurus’ dalam ‘nasionalisme ekonomi’.

Debat tadi malam sebetulnya memperlihatkan bahwa kita dapat berselisih pikiran secara argumentatif. Dengan itu kita telah mendidik bangsa ini untuk bebas dari feodalisme.

Juga debat tadi malam cukup memperjelas ‘posisi-posisi’ ideologis para capres. Mungkin saja warna ideologi itu akan kembali menjadi kabur dalam implementasi kebijakan. Itu soal nanti, yaitu menjadi tugas oposisi dan kontrol publik. Tapi paling tidak, dasar visioner dari kebijakan sudah dapat diucapkan: antara yang radikal, moderat dan akomodasionis.

Kita menunggu akibat dari debat tadi malam bagi elektabilitas masing-masing. Para pemilih ragu-ragu tentu juga kini mendapat gambaran lebih memadai tentang ‘isi kebijakan’ pemerintah mendatang.

Juga para pemilih makin paham tentang tingkat kecerdasan para kandidat, juga makin paham tentang ‘karakter emosi’ tokoh-tokoh itu.

Dan bagi para capres itu, masih ada kesempatan memaksimalkan penampilan dan strategi komunikasi politiknya dalam putaran debat terakhir.

Pelajaran penting dalam debat capres kedua adalah: menyelenggarakan negara memerlukan jalan pikiran ideologis yang utuh. Konsistensi itulah yang harus terlihat dalam debat kebijakan. Dari pada mengucapkan daftar keinginan (seolah-olah dalam ekonomi tidak ada trade off), lebih baik meyakinkan publik tentang garis ideologi yang sengaja(!) dipilih para capres. Ini penting untuk mencegah sebuah kabinet gado-gado kelak. [L1]

30
Jun
09

Kampanye Mega-Pro di Gelora Bung Karno [30 Juni 2009]

30/06/09 17:43
Mega-Pro Kembali Permalukan SBY-Boed
R Ferdian Andi R
Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto
[inilah.com/ Wirasatria]

INILAH.COM, Jakarta – Pasangan Megawati-Prabowo kembali permalukan pasangan SBY-Boediono dalam kampanye pilpres pekan terakhir di Gelora Bung Karno (GBK) Selasa (30/6). Munculnya sejumlah kader dan bendera partai PAN, PPP, dan PDS di ajang kampanye terbuka itu jadi bukti bahwa koalisi SBY-Boediono benar-benar tidak solid.

Tak hanya kehadiran partai pendukung SBY-Boediono di ajang kampanye Mega-Prabowo yang dijadikan senjata pasangan yang diusung PDIP-Gerindra itu. Konfrontasi pasangan Megawati-Prabowo dengan capres incumbent SBY-Boediono juga dikukuhkan melalui isu serangan yang selama ini disuarakan Mega-Prabowo.

Dalam orasi politiknya cawapres Prabowo Subianto menyinggung isu penting seperti soal paham ekonomi neoliberal, utang, pengangguran, kemiskinan, pencabutan UU Badan Hukum Pendidikan (BHP), dan penghapusan tenaga kontrak (outsourcing).

“Kami satu-satunya capres yang mau melakukan kontrak politik,” tandas Prabowo Subianto di hadapan ratusan ribu pendukungnya di GBK, Selasa (30/6). Isu yang dimunculkan Prabowo jelas ditujukan kepada capres incumbent SBY-Boediono.

Hal yang sama juga disuarakan capres Megawati Soekarnoputri. Dalam orasi politiknya, Megawati menyoroti proses pemilu yang jujur dan adil (jurdil). Persoalan Daftar Pemilih Tetap (DPT), penghapusan 68 ribu Tempat Pemungutan Suara (TPS).

“Apa maksud dan tujuannya? Kalau langkah ini hanya untuk memenangkan calon tertentu, maka proses demokrasi 2009 ini tidak berhasil dilakukan dengan baik,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Megawati meminta kepada seluruh kadernya untuk mengawasi proses pilpres 8 Juli mendatang serta menjaga TPS dan mengawal suara. “Saya instruksikan untuk menjaga suara dengan baik sampai di tempat, sehingga suara kita terjaga dengan baik,” ujarnya.

Isu-isu yang disuarakan Mega-Prabowo dalam kampanye di pekan terakhir ini memang fokus pada isu-isu aktual. Megawati lebih memfokuskan pada isu pemilu jujur dan adil. Sedangkan Prabowo Subianto lebih menyoroti isu ekonomi dan pendidikan.

Sasaran tembak dari isu-isu tersebut, tak lain ditujukan kepada pasangan SBY-Boediono. Melalui kampanye terbuka yang disiarkan secara langsung oleh beberapa stasiun televisi itu, Mega-Prabowo semakin memantapkan untuk melakukan konfrontasi dengan capres incumbent.

Selain melalui isu aktual, Mega-Prabowo juga tertimpa ‘durian runtuh’ untuk mempermalukan SBY-Boediono. Dalam kampanye tersebut juga berkibar tiga bendera partai politik peserta koalisi SBY-Boediono, yaitu PAN, PPP dan PDS.

Cawapres Prabowo pun tak lupa berucap terimakasih atas kehadiran partai yang secara formal tak mendukung Mega-Prabowo. “Saya berterimakasih kepada partai-partai yang ada di sini. Saya lihat ada bendera PAN. Padahal PAN itu pendukung sebelah sana (SBY),” ujar Prabowo.

Menurut Prabowo, meski para elit partainya di kubu SBY, namun bagian bawahnya, yaitu anggota dan hati mereka, berada di Megawati-Prabowo. “Ada juga organisasi F-PPP juga bendera PDS, yang ada di sini juga sama. Bos-bosnya ada di sebelah sana (SBY), tapi anak buahnya ke sini semua, ke Mega-Prabowo,” tambah Prabowo.

Peristiwa di GBK seolah mengulang kejadiaan saat deklarasi Mega-Prabowo di TPS Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, Mei lalu, yang juga dihadiri beberapa partai pendukung SBY-Boediono seperti PAN dan PPP. Kini, SBY-Boediono untuk kesekian kalinya dipermalukan Mega-Prabowo. [P1]

30
Jun
09

Gunakan Ikon Kesantunan Tapi Tak Sejalan dengan Prakteknya

Pencitraan SBY-Boediono Gagal :
Menggunakan Ikon Kesantunan Tapi Tak Sejalan dengan Prakteknya

INILAH.COM, Jakarta – Kesantunan kini menjadi ikon dari capres SBY yang acapkali menggembar-gemborkannya. Namun ternyata, apa yang digemborkan tak sejalan dengan apa yang dilakukannya. Ada apa di balik kesantunan itu?

Berdasarkan riset Strategy Public Relations (PR) terhadap 1.689 berita dalam kurun 1 Juni hingga 22 Juni 2009 dari delapan koran terbitan Jakarta dan tiga media online menunjukkan, SBY-Boediono mendapat serangan kampanye negatif sebanyak 163 kali dan menyerang 128 kali, sedangkan Jusuf Kalla-Wiranto (JK-Win) 89 kali menyerang dan diserang, serta Megawati-Prabowo (Mega-Pro) menyerang sebanyak 78 kali dan diserang 67 kali.

Hasil analisa Strategy PR, berita-berita yang berisi kampanye negatif terhadap JK-Win bersumber dari kubu SBY-Boediono dengan prosentase 79,8 persen dan dari kubu Mega-Pro hanya menyumbang 4,5 persen. Sementara, berita yang bermuatan kampanye negatif terhadap SBY-Boediono ternyata sumber terbesarnya dari JK-Win yaitu 52,1 persen dan dari kubu Mega-Pro sebesar 45,4 persen.

Sedangkan 85,1 persen berita yang bermuatan kampanye negatif terhadap Mega-Prabowo disumbang oleh kubu SBY-Boediono. Dan dari kubu JK-Wiranto hanya menyumbang 3% bagi kampanye negatif Mega-Prabowo.

Di mata pakar filsafat politik UI Rocky Gerung, hasil survei itu menunjukkan selama ini kesantunan yang selalu diucapkan SBY tak lebih dari sekadar topeng belaka. Apa yang diucapkan SBY ternyata tidak sejalan dengan fakta di lapangan.

“Memang kesantunan itu hanya sebuah topeng saja jadinya, untuk menyembunyikan kebenaran yang ada. Demi kemenangan strategi kompetitor dihalangi dan demi yang substansial, yang kultural menjadi pagar,” kata Rocky.

Ia menilai, dengan adanya hasil risat Strategi PR itu juga menunjukkan kegagalan dari tim kampanye SBY-Boediono dalam menjalankan strategi kampanye. Sebagai incumbent, SBY itu seharusnya lebih banyak bertahan ketimbang menyerang.

Untuk itu, sambungnya, bila selama ini SBY ditampilkan sebagai objek penzaliman tapi ternyata paling banyak menyerang, telah menunjukkan ada kekeliruan pencitraan yang dilakukan SBY. “Tim suksesnya perlu dievaluasi itu dan memang kalau dilihat dari pemberitaan di media, JK yang paling menahan diri,” paparnya.

Berbeda dengan Rocky, pengamat politik LIPI Lili Romli berpendapat apa yang dilakukan SBY bersama timnya selama ini bukanlah merupakan sesuatu yang melanggar etika kesantunan. Sebab, yang terjadi saat ini adalah kampanye sebatas perang kata dan simbol.

“Ini hal yang wajar dilakukan oleh para kubu capres dan cawapres dalam kampanye negatif. Dimana persoalan menyerang dan diserang merupakan bagian dari pendidikan politik yang tidak melanggar etika kesantunan,” ungkapnya

Wakil Ketua Partai Demokrat Achmad Mubarok sendiri menampik bila kesantunan SBY hanyalah sebuah topeng. Sebab, yang paling banyak menyerang itu adalah tim kampanye SBY-Boediono bukan SBY secara pribadinya sendiri.

“Kalau dari SBY itu yang menyerang bukan dari Pak SBY-nya langsung tapi timnya dan itu bukan kehendak Pak SBY. Pak SBY sendiri selalu menegur timnya yang kurang proporsional. Kalau dari kubu JK-Wiranto, justru yang paling banyak menyerang itu JK-nya langsung. Sama halnya dengan kubu Mega-Prabowo yang menyerang langsung itu adalah Mega dan juga Prabowo-nya langsung,” katanya Guru Besar Psikologi Islam UIN Jakarta ini.

Untuk itu, menurutnya, kalau yang dipakai ukurannya adalah serangan kandidat terhadap kandidat, maka SBY akan jadi yang paling sedikit menyerang. Mubarok mengakui, penyebab banyaknya serangan dari kubu SBY-Boediono itu berasal dari Jubir SBY-Boediono, Rizal Mallarangeng.

Selama ini, lanjut Mubarok, internal Partai Demokrat selalu merasa resah dengan manuver-manuver yang dilakukan Rizal. “Rizal itu telah dianggap merusak citra SBY, mungkin karena itu SBY-Boediono jadi yang paling banyak menyerang. Kita juga sudah minta agar Rizal mengubah gaya berkampanyenya,” cetusnya.

Batas kesantunan dalam berpolitik memang tidak jelas. Sesuatu yang dianggap santun belum tentu dianggap sama oleh pihak lainnya. Terlepas dari itu, seyogianya seorang pemimpin harus satu kata satu perbuatan, tanpa harus memakai topeng.[L4]

30
Jun
09

Kisruh DPT Ancaman bagi Demokrasi

30/06/09 20:43
Kisruh DPT Ancaman bagi Demokrasi
Ahluwalia
Ray Rangkuti
[inilah.com /Raya Abdullah]

INILAH.COM, Jakarta – Pemilihan presiden yang jujur, adil, dan bersih, akan menghasilkan kepemimpinan nasional yang bermartabat. Karena itu, kisruh DPT mestinya dituntaskan secepatnya oleh KPU. Apa lagi ada kekhawatiran, para elite politik yang berkuasa akan mengorbankan kualitas demokrasi dalam pilpres demi kepentingan sempit.

Anggota tim advokasi Badan Pemenangan Megawati-Prabowo, Gayus Lumbuun menilai, kisruh Daftar Pemilih Tetap (DPT) dalam pemilu legislatif dan Pilpres 2009 sebagai kejahatan serius terhadap Hak Asasi Manusia (HAM).

“DPT yang kisruh ini merupakan kejahatan terhadap HAM. Nanti kita cari siapa yang salah. Ini melanggar tiga undang-undang, termasuk UU Hak Asasi Manusia,” kata Gayus.

Para analis menyatakan, kisruh DPT tidak dapat dibenarkan karena menghalangi masyarakat menggunakan hak mereka untuk memilih dalam pemilu. Di samping itu, anggaran dari APBN yang telah dikucurkan untuk medukung penyusunan DPT terbilang besar, namun hasilnya justru tidak memuaskan.

“Ini persoalan mendasar dan harusnya dipecahkan lebih cepat,” kata Umar S. Bakry, Direktur Lembaga Survei Nasional. “Anggaran dari APBN itu besar, hampir Rp 1 triliun. Itu besar sekali. Tetapi kok hasilnya karut-marut?”

Dalam pilpres kali ini, kita memang menghadapi masalah serius akibat persoalan DPT. Sampai hari ini, DPT bermasalah ternyata yang belum selesai masih 16 provinsi. Sementara penutupan 68.000 tempat pemungutan suara (TPS) juga dikhawatirkan bisa mempersulit pemilih sekaligus mengurangi dukungan kalau dilakukan di daerah basis.

Penutupan TPS-TPS itu dinilai para pengamat, akan menguntungkan calon incumbent, namun merugikan para pesaing politiknya dalam pilpres saat ini. “Ini soal politik sekaligus soal moral dan etika,” kata Ray Rangkuti, pengamat pemilu.

Dalam hal ini, pada orasi politiknya di Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (30/6) capres Megawati Soekarnoputri mengajak semua pihak untuk terus menegakkan demokrasi. Keinginan menang dalam pemilihan umum tidak boleh mengorbankan kualitas demokrasi.

Mencermati pemilu legislatif 9 April 2009, banyak pihak merasa khawatir. Apalagi sampai sekarang proses sengketa hasil pemilu di Mahkamah Konstitusi pun belum semuanya terselesaikan, akibat banyaknya gugatan dan protes politik.

Situasi ini tak menguntungkan banyak pihak. Proses demokratisasi di Indonesia, utamanya dalam pilpres sekarang yang mengandung berbagai masalah, ditengarai pada akhirnya pasti mengundang reaksi berupa konflik-konflik akibat persaingan dan perseteruan politik.

Persoalannya, bagaimana elit dan publik menyikapi situasi ini? Dalam hal ini, secara normatif Prof Bahtiar Effendy dari UIN Jakarta melihat, semua itu merupakan bagian dari proses transformasi politik yang mesti ditata ulang dan diperbaiki. Proses-proses politik yang berjalan pada era reformasi belum sepenuhnya sesuai harapan.

“Saya melihat, masih banyak anomali dan distorsi dalam kehidupan politik yang perlu ditata ulang untuk menuju demokrasi yang lebih berkualitas,’” kata doktor lulusan Ohio State University, AS, itu.

Barangkali, inilah makna dari artikulasi masyarakat politik dan intelektual mengenai singifikansi pemilu jurdil, damai, dan bersih, agar bobot demokrasi kita kian terjaga sebagai prasyarat bagi langkah maju dan pendalaman demokrasi ke depan. [P1]

30
Jun
09

Wiranto Marah Indonesia Ditempatkan sebagai Negara Tertinggal

Selasa, 30/06/2009 20:13 WIB

Wiranto Marah Indonesia Ditempatkan sebagai Negara Tertinggal
E Mei Amelia R – detikPemilu


Foto: Dok.detik.com

Jakarta – Cawapres Jusuf Kalla, Wiranto merasa prihatin dengan penempatan Indonesia sebagai negara tertinggal. Padahal seharusnya Indonesia ditempatkan sebagai negara maju karena negara yang kaya akan sumber daya alam.

“Saya merasa sedih dan kesal karena menurut MDGS, Indonesia masih ditempatkan sebagai negara tertinggal seperti Laos, Vietnam,” ujar Wiranto dalam Debat Cawapres Putaran Kedua di TV One, Selasa (30/6/2009).

Menurut Wiranto, sebagai negara yang memiliki kekayaan alam yang tak terbatas termasuk flora dan faunanya, tingkat perekonomian Indonesia jauh lebih baik. Namun kenyataannya, Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan.

“Logikanya negara ini bisa mendapatkan pendapatan yang baik,” lanjutnya.

Guna meningkatkan perekonomian bangsa, Wiranto berjanji meningkatkan lapangan pekerjaan lebih dari 20 juta. Selain itu, dirinya pun berjanji akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi diatas 18 persen.

“Dengan demikian diharapkan ada penurunan kemisikinan di bawah 8 persen,” tegasnya. ( mei / yid )

30
Jun
09

TVOne : Debat CaWaPres 30 Juni 2009

Selasa, 30/06/2009 22:10 WIB
Debat Cawapres
Disebut Tebar Impian, Prabowo Protes Boediono
Shohib Masykur – detikPemilu

Jakarta – Prabowo Subianto memprotes penilaian Boediono yang mengatakan dirinya hanya menebar impian. Cawapres Megawati ini mengatakan program-program yang ia sampaikan adalah hal yang terukur, bukan suatu angan-angan.

“Pak Boediono yang mengatakan saya menebar satu impian. Saya mengatakan yang kami katakan adalah suatu startegi baru, suatu haluan baru,” kata Prabowo dalam closing statement putaran terakhir Debat Cawapres di Hotel Bidakara, Jaksel, Selasa (30/6/2009).

Debat dengan tema ‘Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia Indonesia’ ini dimoderatori oleh Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dr Fachmi Idris.

“Yang kami sampaikan adalah suatu koreksi terhadap suatu keadaan yang tidak bisa membawa kesejahteraan bagi rakyat indonesia,” imbuhnya.

Prabowo mengungkapkan, dirinya juga sudah konsultasi ke beberapa ahli soal realisasi visi misi dan program yang ingin dilakukan.

“Dan mereka mengatakan jika kami serius, ini bisa terealisasi,” katanya.

Dalam closing statementnya, Boediono mengatakan akan mengedepankan cara-cara preventif dalam meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia di bidang kesehatan.

Sedangkan Wiranto, menekankan perlunya sebuah loncatan dan terobosan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa.

“Pada saat langkah kita normatif, kita tidak akan bisa mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain. Kita buituh loncatan. Lebih cepat lebih baik,” pungkasnya. ( sho / lrn )

30
Jun
09

SBY : Pemerintah Telah Melindungi TKI

KOMPAS/BENNY DWI KOESTANTO
Penari kecak dan hanoman menjunjung gambar SBY-Boediono yang telah dicontreng pada kampanye di GOR Lila Bhuana, Denpasar, Bali, Minggu (28/6). Selain calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam kampanye itu, hadir pula calon wapres Boediono dan sejumlah anggota tim sukses mereka.

SBY-Boediono
SBY: Pemerintah Telah Lindungi TKI

Senin, 29 Juni 2009 | 03:43 WIB

Balikpapan, Kompas – Calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono meyakini, Pemerintah Indonesia dan dirinya sebagai presiden lima tahun terakhir telah mengambil langkah-langkah yang tepat dan cepat untuk melindungi tenaga kerja Indonesia di luar negeri.

Ia juga optimistis, TKI di luar negeri akan bekerja dengan keterampilan dan kesejahteraan yang lebih tinggi di masa mendatang. Pandangan itu disampaikan capres yang diusung koalisi Partai Demokrat dan 23 parpol lain ini dalam kampanye di Balikpapan, Kalimantan Timur, Minggu (28/6).

SBY memaparkan, wajib hukumnya seorang presiden melindungi setiap warga negara yang ada di luar negeri. Oleh karena itu, jika terjadi masalah terkait dengan TKI di luar negeri, pemerintah bekerja dengan cepat dan tepat untuk menanganinya.

Galang dukungan

Untuk mendukung pasangan SBY-Boediono, DPW Partai Kebangkitan Bangsa Jawa Tengah, Minggu, di Solo menggalang dukungan para kiai di eks Keresidenan Surakarta dan sekitarnya. Ketua DPW PKB Abdul Kadir Karding sesuai pertemuan menyatakan, pertemuan yang dihadiri ratusan kiai di sejumlah desa di wilayah Surakarta, termasuk pengasuh pondok pesantren, itu semuanya menyatakan siap mendukung SBY-Boediono,

Selain dihadiri para caleg PKB dari Jateng, pertemuan juga dihadiri para tokoh PKB dan kiai-kiai di beberapa daerah, seperti KH Mahfud Ridwan (Salatiga) dan sejumlah kiai di Solo, Boyolali, Sragen, dan Sukoharjo.

Merebut Bali

Di Bali, pasangan SBY-Boediono yakin mendapatkan suara mayoritas di Pulau Bali pada 8 Juli nanti. Pasangan itu berjanji akan menjaga dan meningkatkan keamanan Bali sebagai barometer pariwisata nasional.

Berorasi dikelilingi puluhan penari kecak dan hanoman di Gedung Olahraga Lila Bhuana, Denpasar, Minggu (28/9), Boediono menyatakan kemenangan itu akan direbut secara santun dan bermartabat. ”Saya bahagia ada di Bali karena Bali memiliki kekhasan yang sangat luar biasa. Kita akan menang dengan cara-cara yang benar, santun, sekaligus bermartabat,” katanya.

Di Yogyakarta, Partai Amanat Nasional DI Yogyakarta berkomitmen setidaknya mampu menyumbangkan 100.000 suara untuk pasangan SBY-Boediono. Suara itu teruta ma disumbangkan pengurus dan keluarganya.

Sedangkan di Cirebon, Sabtu, ribuan warga memadati kampanye dialogis SBY-Boediono. SBY yang hadir bersama Ny Ani Yudhoyono dalam kampanyenya menyatakan lima tahun ke depan ia ingin fokus ke peningkatan bidang pertanian, perikanan, dan usaha mikro kecil menengah dan meneruskan program prorakyat. (DAY/FUL/SON/BEN/ RWN/NIT/WIE)

30
Jun
09

Menakar Cakupan Pemilih SBY-BOEDIONO

Survei Pemilu “Kompas”
MENAKAR CAKUPAN PEMILIH SBY-BOEDIONO

KOMPAS, Selasa, 30 Juni 2009 | 04:57 WIB

BAMBANG SETIAWAN

Dua pencapaian penting dalam pemilihan umum presiden 2009, yaitu elektabilitas dan cakupan wilayah perolehan suara, tampaknya bukan persoalan yang begitu sulit untuk diraih pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono.

Berdasarkan survei lapangan yang dilakukan Litbang Kompas di 33 provinsi pada awal hingga pertengahan Juni, pasangan tersebut diperkirakan akan unggul dengan meraih suara di atas 50 persen. Sementara, jika dilihat dari cakupan wilayah, pasangan ini diperkirakan mampu memenuhi syarat minimal perolehan suara 20 persen di setengah jumlah provinsi yang ada di seluruh Indonesia.

Dengan jumlah calon hanya tiga pasang, syarat yang digariskan Undang- Undang No 42 Tahun 2008 tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden tidak terlalu sulit untuk dilalui. Undang-undang itu menyebutkan, pasangan calon terpilih adalah pasangan calon yang memperoleh suara lebih dari 50 persen dari jumlah suara dalam pemilu presiden dan wakil presiden dengan sedikitnya 20 persen suara di setiap provinsi yang tersebar di lebih dari setengah jumlah provinsi di Indonesia.

Pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono diperkirakan akan meraih suara mayoritas (sekitar 66,6 persen suara—berdasarkan hasil survei dengan metode simulasi pencontrengan). Jika ini terjadi, komponen penilaian berikut akan mengarah pada sebaran suara yang diraih. Seberapa berat bagi pasangan ini melampaui penguasaan wilayah?

Ketika pilpres putaran pertama 2004, dengan hanya meraih 33,57 persen saja, pasangan SBY-Jusuf Kalla waktu itu mampu melewati syarat 20 persen suara di 29 provinsi dan menang di 18 provinsi. Dalam putaran kedua, pasangan SBY-JK juga meraih 28 dari 32 provinsi.

Bagaimana dengan pilpres putaran pertama 8 Juli nanti?

Kalau dilihat dari suara yang diraih oleh koalisi Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) saja dalam pemilu legislatif yang lalu, pasangan SBY-Boediono mampu mengumpulkan 20 persen suara di semua provinsi. Meski demikian, soliditas pemilih partai dalam pilpres mendatang akan tetap diuji.

Dari mana datangnya dukungan untuk SBY?

Jika dilihat karakteristik yang melekat pada sosial ekonomi responden, pasangan SBY-Boediono cenderung memiliki dukungan yang luas dari semua segmen. Meski demikian, dukungan paling kuat terhadap pasangan ini terkonsentrasi pada kelompok menengah dengan pengeluaran rata-rata per bulan sekitar Rp 900.000. Kelompok dengan pendidikan antara SD dan SMA juga menjadi pendukung terkuat pasangan ini dibandingkan pasangan calon lainnya.

Berbeda dengan pasangan lainnya, responden pada kelompok pekerjaan yang mendukung pasangan SBY-Boediono lebih dicirikan oleh karakteristik pelajar/mahasiswa, ibu rumah tangga, pegawai swasta, dan kalangan wiraswasta. Kalangan dengan karakteristik seperti ini, dalam survei ini mencapai sekitar 53 persen.

Dukungan juga tampak cukup solid dari partai-partai koalisi pengusung pasangan ini, seperti Partai Demokrat, PKS, PAN, PKB, dan PPP. Gerakan-gerakan politik sejumlah elite partai pengusung yang menyeberang ke kubu lawan tampaknya tidak membuat dukungan pemilih partai terpengaruh. Bahkan, pasangan ini diprediksi mendapat limpahan suara yang cukup signifikan dari partai-partai pengusung lawan politiknya.

Citra SBY sosok yang diusung oleh Partai Demokrat yang lekat dengan massa dari perkotaan tampaknya mulai mencair dengan menguatnya basis pedesaan dalam pilpres kali ini. Suara yang diberikan untuk pasangan SBY- Boediono cenderung merata, baik dari wilayah dengan karakteristik pedesaan maupun perkotaan.

Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu legislatif lalu juga mendorong pemilih kian memantapkan dukungan kepada calon petahana (incumbent) ini. Mereka yang terpengaruh hasil pemilu cenderung memilih pasangan SBY-Boediono. Hal ini ditunjukkan kesepakatan 82,8 persen responden yang menyatakan, SBY sebagai calon dari partai pemenang pemilu yang harusnya menjadi presiden.

Selain itu, unsur primordialitas yang paling berpengaruh besar dari segi modal sosial, yaitu kelompok etnis Jawa dan Sunda serta pemeluk agama Islam yang beraliran Nahdlatul Ulama (NU), juga menjadi karakteristik yang kini melekat pada pasangan SBY-Boediono. Dukungan juga sangat menonjol dari pemilih yang beretnis Aceh. Sebelumnya, wilayah Aceh memang menjadi lumbung suara bagi Partai Demokrat. Di sini perolehan suara dua kali lipat dari rata-rata suara nasional yang dicapai Demokrat.

Selain beberapa unsur di atas, pasangan SBY-Boediono juga diuntungkan oleh dukungan kaum perempuan dan mereka yang berusia muda hingga matang (17-49 tahun).

Sosok militer yang disandang SBY menjadi keuntungan dalam percaturan perebutan kursi presiden saat ini dan terutama bagi mereka yang menginginkan figur presiden dari militer kecenderungan memilih pasangan SBY-Boediono jauh lebih besar daripada terhadap pasangan lainnya.

Citra

Citra SBY terbentuk oleh beberapa perspektif. Tidak hanya kinerja, tetapi publik menilai sosoknya dari bermacam pandangan. Keragaman pandangan itu tampak dalam apa yang dipikirkan publik secara seketika manakala kepadanya disebutkan nama SBY. Kinerja hanyalah salah satu hal yang langsung diingat, tetapi bukan yang utama bagi publik. Kinerja yang dibalut kepribadian, tingkah laku, kemampuannya memimpin, dan sosok fisik menjadi kekuatan yang menyatu dengan popularitasnya.

Aspek kepribadian, seperti ketegasan, keramahan, kejujuran, kesabaran, kesederhanaan, dan kerendahan hati, diungkapkan 20 persen responden. Sementara aspek yang terkait dengan kinerja, seperti pemberantasan KKN, BLT, sekolah gratis, prorakyat, raskin, mengatasi kemiskinan, menciptakan perdamaian, perekonomian, kesehatan gratis, turunnya harga BBM, konversi minyak, dan kesejahteraan PNS, disebutkan oleh 11,7 persen responden.

Pertautan citra dan tren elektabilitas yang melekat pada pasangan SBY-Boediono memang cenderung mengokohkan diri sebagai calon terkuat untuk unggul di putaran pertama dengan mudah, tetapi bukan tidak mungkin terjadi perubahan arus politik dalam beberapa hari ke depan.

(BAMBANG SETIAWAN/Litbang Kompas)

30
Jun
09

Boediono, Ini Bagian Akhir dari Masa saya

HORIZON
BOEDIONO: INI BAGIAN AKHIR DARI MASA SAYA

Selasa, 30 Juni 2009 | 04:58 WIB

Sri Hartati Samhadi/Tri Agung Kristanto

Nama Boediono semula memang tidak diunggulkan, bahkan tak mencuat, dalam percaturan mengenai calon pendamping Susilo Bambang Yudhoyono dalam Pemilu Presiden, 8 Juli 2009. Banyak kalangan masih mengharapkan SBY, begitu Yudhoyono biasa disapa, berdampingan kembali dengan M Jusuf Kalla, yang kini masih menjabat Wakil Presiden.

Sejarah memang tampaknya menggelinding pada mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Boediono disebut SBY sebagai calon terbaik pendampingnya sebagai wapres pada periode mendatang jika terpilih kembali sebagai presiden. Penolakan pun segera bermunculan terhadap Boediono.

”Ini adalah bagian akhir dari masa saya,” katanya dalam percakapan dengan Kompas di kediamannya beberapa waktu lalu.

Kapan Anda tahu diminta sebagai calon wapres?

Sebenarnya sudah tiga-empat minggu ketika saya bertemu dengan beliau dan membahas kemungkinan saya mendampingi beliau dalam pemilu presiden ini. Pertemuan itu dilanjutkan dengan pertemuan lainnya. Jadi, tidak sekali jadi. Finalnya saat Partai Demokrat melakukan tasyakuran pascapemilu legislatif yang lampau.

Pada awalnya, Anda tahu akan ke sana?

Ya enggak. Saya menduga-duga saja karena jarang sekali beliau memanggil saya sendiri, apalagi sebagai Gubernur Bank Indonesia biasanya bersama-sama dengan menteri yang lain. Bukan langsung ditawari. Saya menduga-duga, mesti akan ada sesuatu yang di luar bidang saya yang menyangkut personalia, kabinet, atau yang lain. Saya tak tahu waktu itu secara jelas.

Pada saat pertemuan dengan SBY, Anda terasa akan diminta menjadi sesuatu dan membicarakannya dengan keluarga?

Setelah itu. Bagi saya, keluarga itu nomor satu. Tidak mungkin saya mengambil keputusan tanpa diketahui keluarga. Saya pasti tanyakan kepada istri saya dan itu dipikirkan beberapa waktu. Saya juga berbicara dengan anak-anak setelah beberapa waktu. Anak-anak itu yang selalu saya jadikan konsultan.

Dulu Anda setelah tak lagi menjadi Menko ada keinginan kembali ke kampus. Tetapi, kini tampaknya semakin larut di pemerintahan atau politisi?

Waktu menjadi menteri kan juga politisi dari satu segi karena harus berdiskusi, berdialog, serta bernegosiasi dengan elemen politik dan masyarakat. Ini sesuatu yang lebih intens pasti. Saya tidak berangkat dari nol. Tetapi, kalau dikatakan politisi penuh, saya memang bukan. Saya akan tetap sebagai teknokrat, tetapi akan lebih banyak menangani aspek politik. Saya yakin Pak SBY akan memberikan pedoman.

Berminat masuk politik?

Saya tidak berminat masuk partai politik. Politik akan saya gunakan untuk pekerjaan saya yang utama, apakah nanti di bidang ekonomi atau sosial, seandainya kami terpilih.

Sekarang banyak nonpolitisi masuk ke politik, membangun jaringan. Selama ini kami tak melihat Anda melakukan hal itu….

Saya juga membangun jaringan ke politisi, tetapi kecil-kecilan. Ya, secara informal. Tetapi, secara sistematis, kayaknya memang belum. Politik itu, menurut saya, merupakan soal human approach. Memang ada hal-hal yang mendasar, seperti perbedaan ideologi yang harus dijembatani dengan ideologis lain. Namun, sebenarnya banyak persoalan politik yang bisa diselesaikan dengan human approach, membangun komunikasi dengan saling percaya. Kalau kita bicara jujur, dia tidak merasa saya membicarakan yang lain di belakang dia. Hal seperti inilah. Simpel saja. Setiap hubungan manusia, kalau kita tak pernah ngrasani orang, itu sudah kunci untuk trust. Ada kejujuran untuk bicara di antara kita. Akhirnya, manusia itu kan entitas yang baik. Good entity. Basically, human being is good. Ini mungkin nasib dari segi politik, tetapi so far sampai sekarang dengan politik terbatas yang saya alami, cukup berjalan.

Apakah kesederhanaan Anda itu menjadi kekuatan untuk menaklukan politik?

Ah, tidak juga. Saya menjumpai, kalau saya menggunakan approach dengan saling percaya, kejujuran, dan keterbukaan, kok tetap jalan. Saya tidak tahu apakah itu kekuatan atau bukan. Suatu saat, bisa saja saya melihat ini semua tidak jalan. Bisa saja. Tetapi, sampai sekarang saya masih percaya.

Pernah terpikir akan menjadi calon wapres?

Terus terang tidak. Saya tidak pernah menjadikan jabatan sebagai sasaran atau rencana hidup saya. Itu mengalir saja. Saya tidak tahu, mungkin hidup saya begitu, semua mengalir. Saya ikuti aliran itu. Kadang kala ada arus yang datang kepada saudara. Bukan mencari arus, tetapi datang. Kalau melawan arus, malah tidak baik. Itu pengalaman saya dalam hidup ketika menerima berbagai jabatan itu. Saya menoleh ke belakang, ini juga arus. Kalau saya lawan, nggak tahu.

Sekarang Anda sudah menjadi calon wapres. Apakah terlintas untuk jabatan yang lebih tinggi lagi?

Nggak. saya sudah pada bagian akhir dari masa saya. Saya menyadari itu dan saya menginginkan sebenarnya dari awal, waktu menjadi Menko atau Gubernur BI, yang mudalah yang maju. Tetapi, memang yang muda harus disiapkan. Jangan maju hanya karena muda. Siapkan diri. Saya sangat senang kalau yang muda mengambil alih. Kalau ke depan, saya tidak ada ambisi sama sekali.

Sudahkah ada tawaran untuk menjadi fungsionaris atau kader suatu parpol?

Belum. Kayaknya mereka tahu karena jawaban saya dari awal tidak. Sampai sekarang, saya juga tidak berminat. Kemungkinan besar, saya juga tidak akan ke sana. Catat saja sekarang, tidak ada ambisi sedikit pun. Coba saja nanti saya akan buktikan.

Apakah yang Anda pikirkan, jika terpilih, terutama karena sebelumnya ada resistensi terhadap Anda?

Resistensi bagaimana? Jadi, kalau seandainya kami terpilih dan mendapatkan mandat dari rakyat, tentu kami membentuk kabinet. Kabinet ini diharapkan lebih solid sebagai tim. Sebagai orang kedua, di mana presiden sebagai penanggung jawab akhir, tentu saja tim harus kompak. Artinya, harus bisa bekerja sama. Ini kuncinya, tentu saja harus bisa menampung elemen-elemen politik yang bisa memperkuat. Ini tatanan di kabinet. Kalau kita harus solid, portofolio yang ada di dalamnya satu sama lain harus sinergi. Jangan jalan sendiri. Saya kira itu yang mungkin dipikirkan oleh Presiden, yaitu sebuah kerja tim.

Dengan SBY, ada semacam kontrak politik yang Anda tanda tangani?

Saya tidak menandatangani apa pun. Saya percaya Presiden dan saya percaya bisa merumuskan mana-mana yang menjadi bagian tugas saya dan mana yang harus ditangani langsung oleh Presiden. Kalau didasarkan pada saling percaya dan saling mendukung, tidak perlu ada kontrak tertulis.

Tak adakah kekhawatiran apa yang direncanakan akan jalan jika tak ada kontrak yang ditandatangani?

Apakah yang tertulis di atas kertas sudah pasti jalan? Saya kira lebih mendalam kalau didasarkan pada rasa saling percaya. Saya merasa punya hal itu dengan Presiden.

Dahulu ada keluhan, karena saling percaya, banyak kebijakan yang tidak jalan di tingkat Menko….

Saya kira tidak. Tetapi, insya Allah tidak akan ada persoalan kalau kita saling percaya. Inilah pentingnya. Karena itu, menteri-menteri itu harus benar-benar menjadi komponen dari tim. Karena itu, mereka harus dipilih benar-benar atas dasar kemampuan untuk bekerja sama.

Menurut Anda, apa tantangan ke depan bangsa ini, terutama di bidang ekonomi?

Saya kira tinggal menyiapkan landasan untuk bergerak maju lebih cepat dan menyiapkan landasan agar gerakan maju lebih cepat ini diterjemahkan menjadi manfaat yang bisa lebih dirasakan rakyat. Nanti detailnya setelah kabinet terbentuk, tentu lebih konkret. Tetapi, intinya, kita harus menyiapkan mana-mana dari kendala terhadap percepatan pembangunan ini yang harus ditangani, apakah itu di bidang infrastruktur, iklim usaha, atau yang lain, akan kita lihat lagi simpul-simpul strategis. Jika itu kita tangani, perekonomian akan maju lebih cepat lagi.

Kedua, oke perekonomian bisa naik lebih cepat, tetapi muaranya kan pada kesejahteraan rakyat. Pertumbuhan bagus, inflasi bagus, tetapi apa manfaatnya bagi kesejahteraan rakyat? Saya kira nanti kita akan tetap meningkatkan program-program yang terkait langsung dengan kesejahteraan rakyat. Sekarang ini sudah ada beberapa program itu, tetapi akan kita lihat lagi. Dengan demikian, akan nyambung antara program pertumbuhan dan kesejahteraan rakyat.

Tentu saja, melandasi itu semua, seperti dalam pidato saya, pemerintahan yang bersih itu adalah kunci di mana-mana. Apa pun yang kita lakukan untuk dua hal itu, pertumbuhan dan kesejahteraan rakyat, adalah pemerintahan yang bersih untuk bisa melaksanakan amanat rakyat dalam kenyataan di lapangan. Ini memang memerlukan birokrasi yang baik dan sebagainya.

30
Jun
09

Teknologi Informasi : Hadirnya Generasi Ke-4 Komunikasi Nirkabel

TEKNOLOGI INFORMASI
Hadirnya Generasi Ke-4 Komunikasi Nirkabel

Selasa, 30 Juni 2009 | 03:41 WIB

Yuni Ikawati

Sejak diperkenalkan pada awal dasawarsa tahun 1980-an, sistem komunikasi bergerak nirkabel mengalami perkembangan pesat dari sisi kecepatan, jenis dan kualitas data, serta jarak jangkauannya. Kini pengembangan teknologi ini telah sampai generasi keempat.

Sejak muncul secara komersial pada awal 1983, sistem komunikasi nirkabel yang mobil yang memunculkan telepon genggam telah mengalami revolusi. Dengan memuat serangkaian inovasi teknologi di dalamnya, telepon genggam menjadi kian mungil tetapi berkapasitas tinggi dan makin berkualitas.

Pengecilan ukurannya tercapai karena berkembangnya teknologi mikroelektronika. Dengan ditunjang oleh teknologi informasi dan komunikasi, memungkinkan munculnya jangkauan layanan komunikasi telepon genggam yang kian luas. Fitur atau jenis data beragam juga dapat dipertukarkan, tidak hanya berupa suara, tetapi multimedia hingga ke video.

Layanan telekomunikasi bergerak ini umumnya menggunakan jaringan telepon seluler (ponsel). Jaringan ini tersusun dari banyak sel berbentuk heksagonal. Tiap sel dilayani oleh satu menara pemancar disebut base station (BS) yang meneruskan sambungan komunikasi hingga radius tertentu.

Oleh karena itu, agar komunikasi ponsel tidak terputus perlu menara dalam satu wilayah jangkauan tertentu (sel) bersinggungan dengan jangkauan sel lainnya.

Di daerah perkotaan, tiap sel memiliki jangkauan rata-rata 0,5 mil atau 0,8 kilometer, sedangkan di pedesaan jangkauannya mencapai 5 mil atau 8 km. Di areal terbuka, pengguna dapat menerima sinyal dari lokasi seluler dengan jarak 25 mil.

Regenerasi sistem ponsel dimulai sekitar 38 tahun lalu ketika telepon seluler pertama berhasil diterapkan secara komersial dalam jaringan ARP (auto radio phone) di Finlandia pada tahun 1971. ARP tergolong jaringan seluler generasi 0 (0G).

Sistem analog

Generasi pertama lahir di Amerika Serikat melalui tangan para insinyur di Laboratorium Bell AT&T. Generasi pertama yang menggunakan sistem analog ini disebut AMPS (Advanced Mobile Phone System) yang diperkenalkan Motorola pada tahun 1983.

Teknologi analog masih memiliki beberapa keterbatasan, antara lain dari segi mobilitas dan roaming antarnegara. Untuk mengatasinya, negara Eropa membentuk organisasi Group Special Mobile (GSM) untuk memelopori munculnya teknologi digital seluler yang kemudian dikenal dengan nama Global System for Mobile Communication (GSM).

Sistem analog pada generasi pertama ini kemudian digantikan dengan sistem digital yang lebih baik dari segi keamanan dan kapasitasnya dan biaya layanannya pun lebih rendah. Generasi kedua ponsel ini diwakili oleh munculnya GSM (Global System for Mobile Communication).

GSM muncul pada pertengahan 1991 dan akhirnya dijadikan standar telekomunikasi seluler untuk seluruh Eropa. Sistem ini telah dikembangkan hingga memiliki kapasitas 1800 MHz dan sanggup menyediakan 375 kanal.

Pemakaian GSM kemudian meluas ke Asia dan Amerika, termasuk Indonesia. Indonesia awalnya menggunakan sistem telepon seluler analog yang bernama AMPS (Advanced Mobile Phone System) dan NMT (Nordic Mobile Telephone) kemudian beralih ke GSM. Pada akhir tahun 2005, pelanggan GSM di dunia telah mencapai 1,5 triliun pelanggan.

Pengembangan sistem 2G kemudian melahirkan generasi 2,5 G berupa berupa GPRS (General Packet Radio Service) dengan kecepatan pengiriman data hingga 307 kilobit per detik.

Pada tahun 2001 3G pertama kali diluncurkan secara komersial di Jepang oleh NTT DoCoMo pada standar Wideband CDMA (Code Division Multiple Access). Setalah itu jaringan 3G dengan teknologi CDMA diluncurkan pertama kali di Korea Selatan dan AS.

Sistem komunikasi tanpa kabel generasi ketiga hingga sistem WiFi (Wireless Fidelity) yang telah diterapkan di Indonesia digunakan untuk jaringan lokal nirkabel (Wireless Local Area Networks/WLAN).

Sistem ini awalnya ditujukan untuk penggunaan nirkabel jaringan area lokal (LAN), tetapi kini lebih banyak digunakan untuk mengakses internet.

Belum lama ini mulai diperkenalkan WiMAX (Worldwide Interoperability for Microwave Access) yang merupakan teknologi nirkabel yang menyediakan hubungan jalur lebar dalam jarak jauh. WiMAX merupakan teknologi broadband berkecepatan akses yang tinggi hingga 70 Mbps dan berjangkauan luas.

International Telecommunication Union (ITU) memperkirakan pelanggan ponsel di dunia akan mencapai 4,1 miliar pelanggan menjelang akhir tahun lalu. Akhir tahun 2007 pengguna jaringan 3G di dunia mencapai 295 juta orang. Layanan 3G bisa memberi keuntungan hingga lebih dari 120 miliar dollar AS selama tahun 2007.

Generasi keempat

Di samping kelebihannya, generasi kedua dan ketiga ini masih memiliki beberapa kekurangan, antara lain masalah interferensi dan kualitas pengirimannya yang masih rendah untuk komunikasi bergerak dalam kecepatan tinggi, kata Masashi Yano, Deputy General Manager Kyocera Corporation Jepang, dalam Forum International iBurst, di Jakarta, medio Juni lalu.

Kendala ini kemudian mendasari lahirnya generasi keempat yang disebut iBurst atau HC-SDMA (High Capacity Spatial Division Multiple Access). IBurst adalah teknologi kanal frekuensi lebar atau broadband nirkabel yang dikembangkan ArrayComm.

Optimalisasi lebar kanal dicapai dengan menggunakan beberapa rangkaian antena paralel yang dikembangkan perusahaan Jepang, Kyocera. IBurst diadopsi sebagai standar antarmuka radio HC-SDMA oleh Alliance of Telecommunications Industry Solutions (ATIS).

Dengan rangkaian antena yang dijajar melingkar dapat meningkatkan cakupan frekuensi radio, kapasitas, dan performansi sistem.

Sekarang sistem iBurst memungkinkan konektivitas hingga 1 Mbit per detik dan memungkinkan ditingkatkan hingga 5 Mbit per detik dengan protokol HC-SDMA.

Dengan iBurst dimungkinkan koneksi langsung bergerak baik di dalam dan luar ruangan seperti intranet di perusahaan, jaringan hotspot, dan modul komunikasi pada kendaraan dan telematik otomotif.

IBurst secara komersial telah diterapkan di 12 negara, yaitu di Afrika Selatan, Azerbaijan, Norwegia, Irlandia, Kanada, Malaysia, Lebanon, Kenya, Ghana, Mozambik, Kongo, dan AS.

Di AS, layanan komersial iBurst dimulai Mei 2007 di Dakota Selatan pada areal seluas 174 kilometer persegi yang diliputi oleh 10 BS.

Di kawasan perkotaan dari satu BS dapat melayani pengguna hingga radius 2,4 km dengan kecepatan 850 kbps. Adapun di daerah pinggiran downlink 1 Mbps mencapai hingga radius 5 km.

Perkembangan di Malaysia

Malaysia mendapat lisensi iBurst April 2007 dan mulai masuk tahap layanan komersial Oktober 2007 di Kuala Lumpur. Cakupannya meliputi 1.500 kilometer persegi areal di Lembah Klang dengan 78 BS.

Jaringan ini akan dikembangkan ke Penang, Johor Bahru, dan Kuching.

Layanan itu akan diluncurkan di delapan negara lainnya, termasuk Indonesia, pada tahun ini. Tahun ini iBurst di kelas 4G mulai diuji coba di Bandung dan Surabaya dan selanjutnya akan diterapkan di pedesaan, kata Ida Bagus Danny Premadhi, President Commissioner PT Pata Informatika Nusantara.

Uji coba iBurst dilakukan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya di kampung nelayan di sebelah timur kampus itu untuk menjadi SMA dan SMP.

Layanan yang akan diuji coba meliputi e-learning, telemedicine dan pemantauan lingkungan, dan video conference, urai Gamantyo Hendrantoro dari Pusat Penelitian ICT dan Multimedia ITS.

”Broadband Wireless Access ini ditujukan untuk mengatasi masalah kendala akses komunikasi masyarakat di pedesaan,” jelasnya.

Itu untuk mendukung pelayanan kesehatan di pedesaan dalam hal meningkatkan efisiensi dan cakupan layanan, mengeliminasi biaya transportasi, mendeteksi dini penyakit, mengurangi waktu menunggu, mendukung pendidikan kesehatan.

E-learning digunakan untuk memberi pelajaran pada kelompok khusus, memberikan pelajaran tambahan yang tidak tersedia pada kurikulum reguler, memfasilitasi siswa yang memerlukan pengulangan pelajaran, mendukung kebijakan wajib belajar untuk tingkat SMA di pedesaan.

Bila dipadukan dengan teknologi game, ini akan dapat memajukan pendidikan anak-anak di pedesaan. Mengatasi masalah di SD dan SMP di pedesaan seperti kekurangan staf pengajar dan materi pembelajaran serta metode pembelajaran yang kurang menarik. Pemantauan lingkungan di pedesaan bertujuan untuk meningkatkan produk pertanian dan deteksi dini bencana alam. Pengguna telepon mobile pada tahun 2003 menurut ITU lebih dari 1,1 miliar diperkirakan akan menjadi 3 miliar menjelang tahun 2015.

Di antara pengguna ponsel saat ini, MAS (Multi-antenna signal) processing, termasuk iBurst, telah dioperasikan pada lebih dari 300.000 BS di 17 negara.




Blog Stats

  • 1,089,549 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.