23
Nov
08

Riwayat Gedung Joang45, Jakarta

 

Awal Abad-21

 

Peradaban Nusantara diyakini telah terbentuk sejak 2000 tahun sebelum Masehi dan kini, 2000 tahun setelah Masehi, ternyata Nasionalisme Indonesia sedang diuji menghadapi Supremasi Globalisasi yang berciri NeoLiberalisme. Hal ini mengenangkan kembali suasana Unfair Trade oleh para Penguasa-Pedagang Eropah Barat sejak abad ke-16. Sehingga adalah menjadi relevan untuk kembali memutar ingatan masa lalu ketika keberadaan Wawasan Nasional di Kepulauan Nusantara Raya ini diawali oleh Negara Sriwijaya sejak abad ke-7 Masehi, dilanjutkan kemudian oleh Negara Majapahit sejak abad ke-14 Masehi dan ditampilkan secara mengesankan oleh Aliansi Nusantara Raya bentukan Negara-negara Samudera Pasai, Demak dan Ternate pada abad ke-15 Masehi ditengah tradisi Fair Trade berbuah Jalur Sutera Antar Benua, serta kemudian dikukuhkan oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

 

Sebagai peristiwa hukum, Proklamasi Kemerdekaan itu juga dikatakan sebagai buah sinergi dan harmonisasi antara aspirasi pejuang yang bekerjasama dengan Jepang sebagai penguasa saat itu, dalam hal ini diwakili oleh Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUKI, dibentuk tanggal 29 April 1945 dan diresmikan tanggal 28 Mei 1945, diketuai oleh Dr Radjiman Wediodiningrat) dan kemudian Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI, dibentuk tanggal 7 Agustus 1945, diketuai oleh Ir Sukarno), dengan aspirasi Pemoeda pejuang mandiri, dalam hal ini diwakili oleh Gerakan Angkatan Baru Indonesia yang dibentuk tanggal 3 Juni 1945, diketuai oleh B.M. Diah dan lalu bermarkas di Menteng 31 a.l. melaksanakan pendidikan politik kebangsaan.

 

Kontribusi penting dari para Pemoeda Menteng 31 itu kemudian antara lain adalah penegasan sikap politik kebangsaan bahwa Kemerdekaan Indonesia adalah hak dan soal rakyat Indonesia sendiri dan tidak tergantung dari bangsa atau Negara lain (15 Agustus 1945).

 

Peranan penting lainnya dari para Pemoeda Menteng 31 selanjutnya adalah pembentukan Komite van Aksi pada tanggal 18 Agustus 1945, diketuai oleh Sukarni, dalam rangka mengisi Proklamasi, mempertahankan dan menyempurnakan susunan pemerintahan dan ikut menggerakkan seluruh rakyat Indonesia, dengan puncak kegiatannya yakni prakarsa Rapat Raksasa di Lapangan IKADA pada tanggal 19 September 1945.

 

Dalam pengertian inilah tampaknya adagium “experientia docent sapientiam atau melalui pengalaman kita dapat menjadi bijaksana” dan “experientia est optima rerum magistra atau pengalaman adalah guru yang baik” adalah tepat sekali guna menemukan sikap sinergi dan harmonisasi atas situasi dan kondisi dilematis antara Nasionalisme Indonesia versus Supremasi Globalisasi itu.

 

Adapun sikap sinergi dan harmonisasi itu sendiri sesungguhnya kini telah dengan bertang-gungjawab dirumuskan sebagai Nilai-nilai Kejuangan 45, sementara satu kesepakatan global yakni yang dikenali sebagai kebijakan Pembangunan Berkelanjutan juga telah terbentuk baik.

 

Sehingga pertanyaannya kemudian adalah apakah Generasi Penerus Kemerdekaan Republik Indonesia mampu mengendarai isu sentral Pembangunan Berkelanjutan itu dengan bertumpu pada Nilai-nilai Kejuangan 45 sebagai satu Kekayaan Nasional untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia seutuhnya baik secara spatial-teritorial maupun secara mutu wilayah hidup politis-kultural Bangsa Indonesia sekaligus menyelenggarakan sikap sinergi dan harmonisasi antara Nasionalisme Indonesia dengan Supremasi Globalisasi ?

 

Bagaimanapun, sekali MERDEKA pada tanggal 17 Agustus 1945, seharusnyalah tetap MERDEKA secara Berkelanjutan disemua bidang Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial dan Budaya serta Pertahanan Keamanan.

Pra 1945

 

13Des37 Jepang merebut Nanking, China

18Jul39 Penerbitan Surat Eigendom No. 1243, bidang tanah Menteng 31

a/n Ny. Caroline Jacob Emilia Nicolinelapp, dikenal sebagai Hotel Schomper

23Des39 Kongres Rakyat Indonesia di Jakarta berlangsung sampai 25Des39

07Des41 Jepang membom Pearl Harbor

sebagai PETANDA SUPREMASI BARAT DAPAT DITAKLUKKAN

08Des41 Kongres Rakyat Indonesia membentuk Majalah Rakyat Indonesia

21Des41 Jepang menguasai Muangthai

11Jan42 Pesawat2 Jepang menyerang Manado dan Tarakan

24Jan42 Pecah Pertempuran Laut di Selat Makassar

15Peb42 Jepang menguasai Singapura

19Peb42 Pecah Pertempuran Laut di Selat Lombok

27Peb42 Pecah Pertempuran Laut di Laut Jawa

05Mar42 Pasukan Jepang mendarat di Banten kemudian Batavia dikuasai Jepang

08Mar42 Perjanjian Kalijati ditandatangani, penyerahan Belanda tanpa syarat kepada Jepang

 

Hotel Schomper, Menteng 31 dikuasai Jawatan Propaganda Jepang (Sendenbu)

 

20Mar42 Semua Organisasi Politik dibubarkan

29Apr42 Gerakan 3A (Dai Nippon Cahaya Asia, Pelindung Asia, Pemimpin Asia) dibentuk

dipimpin oleh Mr Syamsudin

13Jul42 Majelis Islam Indonesia dibentuk

 

Menteng 31 tempat pendidikan politik kebangsaan Pemoeda untuk menyokong

Pemerintahan Jepang di Indonesia, dibiayai oleh Gunseikanbu-Sendenbu,

dalam rangka pembentukan kader2 Asia Timur Raya

 

15Jul42 Perkumpulan bersifat Sosial boleh didirikan spt. Kesenian, Olahraga, Pendidikan

Seinendan, Keibodan, Koperasi dibentuk

08Aug42 Pulau Jawa dibagi dalam 17 Keresidenan (Syu) dipimpin Syucokan (setara Gubernur)

 

01Mar43 Jawa Hokokai (Kebaktian Rakyat Jawa) dibentuk, Cabang Jakarta dipimpin

oleh Mr Datuk Djamin bermarkas di Menteng Raya 31

 

09Mar43 Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) dibentuk, dipimpin oleh Ir Sukarno, Drs Moh Hatta,

KH Dewantara, KH Mansyur

03Sep43 Pasukan Romusha Sukarela dibentuk, dipimpin oleh Ir Sukarno

Dibentuk juga Heiho, pasukan prajurist pembantu, bagian dari Tentara Dai Nippon

03Okt43 Pembela Tanah Air (PETA) dibentuk sebagai Tentara Indonesia yang tidak terpisah-

kan dari balatentara Dai Nippon

Dibentuk juga Gyugun, Pusat DikLat Opsir Tentara Sukarela untuk memperkuat

Pertahanan

24Okt43 Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) dibentuk

23Peb44 Pemberontakan di Singaparna, Tasikmalaya dipimpin oleh KH Zainal Mustafa dari

Pesantren Sukamanah, Tasikmalaya

April44 Pemberontakan di Indramayu, Karangampel

Juli44 Pemberontakan di Lohbener dan Sindang

 

 

 

1945

 

Awal45 Okinawa, Ryu Kyu, ditaklukkan Tentara Sekutu

14Peb45 Pemberontakan PETA, Kompi Blitar, dipimpin oleh Cudancho Suprijadi

Maret45 Jenderal Tojo, PM Jepang ke Manila dan Jakarta, menjanjikan kemerdekaan bagi

Philipina, Indonesia dan Birma

Apr-Mei45 Penggalangan Persatuan Pemoeda

14Apr45 Pengadilan Militer Jakarta untuk para pemberontak dimulai, berakhir 16Apr45, a.l.

pidana mati bagi dr Ismail, Moeradi, Soeparjono, Halim Mangkudidjaja, Soenarto

dan Soedarmo

29Apr45 Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUKI, Dokuritsu Zyumbi

Cosakai) dibentuk

28Mei45 BPUKI diresmikan dengan 62 anggota

Ketua : Dr Radjiman Wediodiningrat

Ketua Muda : RP Soeroso

Anggota2 : Ir Sukarno, Mr Moh Yamin, Dr Kusumo Atmodjo, Abdul Rahim,

Pratalykrama, R. Arif, KH Dewantara, Ki Bagus Hadikusumo,

BPH Bintoro, AK Moezakir, BPH Poerbojo, RAS Wiranatakusumah,

Ir R Ashar Moenandar, Oey Tiang Tjoei, Drs Moh Hatta, Oei Tjong

Houw, H Agoes Salim, Sutardjo Kartohadikusumo, Margono Djojo-

hadikusumo, KH Abdul Hakim, KH Masjkur, R Soedirman, Prof Dr

PAH Djajadiningrat, Prof Dr Soepomo, Prof Ir Roseno, Mr R Pandji

Singgih, Mr Maria Ulfah Santosa, RMTA Soerjo, Roeslan Wongso-

koesoemo, Mr Susanto Tirtoprodjo, Dr Boentaran Martoatmodjo,

Liem Koen Hian, Mr J. Latuharhary, Mr Hindromartono, Sukardjo

Wirjopranoto, HA Sanusi, AM Dasaad, Mr Tan Eng Hoa, Ir Soe-

rachman, Soemitro Kolopaking, Woerjaningrat, Mr A. Soebardjo,

Prof R Zainal Asikin, Abikoesno, Parada Harahap, Mr Sartono,

KHM Mansoer, Drs Sosrodiningrat, Mr Soewandi, KH Wahid

Hasyim, PF Dahler, Dr Soekiman, Mr Wongsonegoro, Oto Iskandar

Dinata, AR Baswedan, Abdul Kadir, Dr Sjamsi, Mr AA Maramis,

Mr Sjamsuddin, Mr Sastromuljono;

29Mei45 Sidang ke-I BPUKI dimulai, berakhir 01Jun45

01Jun45 PANCASILA dikemukakan oleh Ir Sukarno

 

03Jun45 Gerakan Angkatan Baru Indonesia (GABI) dibentuk di Gedung Gambir Selatan 6

Ketua : B.M. Diah Wartawan

Anggota : Sukarni Angkatan Muda

Anggota : Sudiro Barisan Pelopor

Anggota : Sjarif Tajeb Mahasiswa Kedokteran

Anggota : Harsono Tjokroaminoto Pemuda Islam

Anggota : Wikana (Kaigun Bukanfu)

Anggota : Chairul Saleh (Angkatan Muda)

Anggota : F. Gultom (Seinendan, Pemuda Kristen)

Anggota : Supeno (BAPERPI)

Anggota : Asmara Hadi (Barisan Pelopor)

 

 

 

 

 

15Jun45 Dasar dan Tujuan GABI terbentuk di Menteng 31 yakni mempersiapkan dan

menyediakan tenaga untuk membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia

yang berdasarkan Kedaulatan Rakyat

Menteng 31 dikenal pula sebagai Ashrama (Internaat) Angkatan Baru Indonesia

untuk menanamkan cita2 kemerdekaan Indonesia

Ketua : Sukarni

Wakil Ketua : Chairul Saleh

Sekretaris : A.M. Hanafi

Bendahara : Ismail Widjaja

Dibentuk pula Departemen2 Pemuda, Tani, Buruh dan Barisan Banteng;

Daftar Pengajar Pusat Pendidikan Politik Kebangsaan sebagai berikut :

Ir Sukarno Ilmu Politik

Drs Moh Hatta Ilmu Ekonomi Umum

Mr Sunario Ilmu Negara

Mr Achmad Subardjo Hukum Internasional

Mr Amir Sjarifuddin Ilmu Sosiologi Psychologi & Filsafat Timur

M. Zein Djambek Agama Islam

Mr Moh Yamin Ilmu Sejarah

M.R. Dajoh Bahasa & Kesusasteraan Indonesia

Prof Bekki Geo Politik

Prof Nakatani Bahasa Jepang

H. Shimizu Pengetahuan Umum

Menyusul kemudian dibentuk Barisan Pelopor (Shuishintai) dipimpin oleh

Sudiro, Dr Muwardi, Mr Wilopo, sebagai bagian pemuda Jawa Hokokai untuk

KaderVorming;

Kelompok Kaigun (Mr Achmad Subardjo, Sudiro, Wikana, E Chaeruddin,

Djojopranoto)

Kelompok PETA (Latif Hendraningrat, Kasman Singodimedjo, Subeno, Singgih,

Setiadi, Muchaeni, Umar Bachsan, Dr Sutjipto)

Kelompok Ika Daigaku, Jl. Prapatan 10 dan Badan Permusyawaratan Pelajar

Indonesia (BAPERPI), Jl. Cikini 71 (Sjarif Tajeb, Sujoko, Djohar Nur, Darwis,

Kusnandar)

Kelompok Buruh Kereta Api (Harjono, Tjokropuspito, Suharjo, Zulkifli)

Kelompok Sekolah Tinggi Pelayaran (Daeng Mangata, Ali Sadikin)

 

22Jun45 Piagam Jakarta dirumuskan

10Jul45 Sidang ke-II BPUKI dibuka, berakhir 17Jul45, dibentuk panitia perumus UUD

diketuai Ir Sukarno, kemudian dibentuk panitia kecil diketuai Mr Soepomo,

dengan anggota2 Mr Soebardjo, Mr Maramis, Mr Wongsonegoro, Mr Pandji Singgih,

Dr Soekiman, H Agoes Salim;

07Aug45 Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), Dokuritsu Zyunbi Iinkai) dibentuk

Ketua : Ir Sukarno

Wakil Ketua : Drs Moh Hatta

Anggota2 : Radjiman, Oto Iskandar Dinata, Hadikusumo, Wahid Hasyim,

Surjoamidjojo, Purbojo, Sutardjo, Suroso, Supomo, Abdul Kadir,

Yap Tjwan Bing, Moh Amir, Teuku Moh. Hasan, Abd. Abas,

Ratulangi Andi Pangeran, I Gusti Ktut Pudja, J. Latuharhary,

Subardjo;

 

 

 

 

PPKI bertugas melaksanakan Kemerdekaan Indonesia dan menetapkan UUD yang

telah dirancang BPUKI. Panitia ini kemudian membentuk Panitia-8 yaitu Ir Sukarno,

Ki Bagus Hadikusumo, KH Wahid Hasyim, Mr Moh. Yamin, Sutardjo, Maramis,

Oto Iskandar Dinata dan Drs Moh Hatta.

08Aug45 Hiroshima dibom atom oleh Amerika

09Aug45 Menyusul Nagasaki dibom ataom oleh Amerika

13Aug45 Pengumuman Pemerintah Jepang atas Kemerdekaan Indonesia di Markas Besar

Panglima Tertinggi Angkatan Perang Jepang, Marsekal Terautji, Dalat, Saigon,

dihadiri oleh Ir Sukarno dan Drs Moh Hatta, selaku Ketua dan Wakil Ketua PPKI

14Aug45 Jepang menyerah kalah kepada Tentara Sekutu tanpa syarat

15Aug45 Rapat GABI di Jl. Pegangsaan Timur 13 dipimpin oleh Chairul Saleh, berkeputusan

bahwa Kemerdekaan Indonesia adalah hak dan soal rakyat Indonesia sendiri dan tidak

tergantung dari bangsa atau Negara lain, kemudian Delegasi Pemoeda, Wikana dan

Darwis ke Pegangsaan Timur 56 untuk penyampaian keputusan ini ke Ir Sukarno;

Pemoeda Subadio dan Subianto datang ke Drs Moh Hatta meminta agar pengucapan

Kemerdekaan Indonesia lepas dari PPKI bentukan Jepang;

Malamnya tetap terjadi beda pendapat antara kelompok PPKI dan Kelompok Pemoe-

da, sehingga para Pemoeda melanjutkan rapat di Jl. Cikini 71, dipimpin Chairul Saleh.

Hadir juga Dr Muwardi, Dr Sutjipto, Singgih, Jusuf Kunto, Sukarni dan keputusan

tetap Kemerdekaan harus dinyatakan sendiri oleh rakyat Indonesia serta Sukarno-

Hatta dibawa menyingkir keluar kota.

16Aug45 Ir Sukarno dan Drs Moh Hatta dibawa ke Rengasdengklok oleh Pemoeda, ditemui

oleh Dr Sutjipto, Cudancho PETA di Krawang.

Rapat GABI di Kantor Achmad Subardjo, Jl. Prapatan Gambir 59;

Rapat PPKI di Kantor Dewan Sanyo Kaigidi, Pejambon jam 10 pagi, pengundang Mr

Subardjo ditunda malam harinya namun Major Jenderal Nisjimura melarang Sidang

PPKI dilanjutkan karena sejak jam 1 siang Tentara Jepang menerima perintah tidak

boleh merobah status quo, namun akhirnya disepakati bahwa Jepang tidak akan

menghalangi diadakan Sidang tetapi diluar PPKI.

17Aug45 Pada akhir Sidang jam 3 pagi bertempat dikediaman Laksamana Muda Mayeda

disaksikan pula oleh Kolonel Mijoshi, usul Sukarni agar penandatangan naskah

proklamasi itu hanyalah Sukarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia, disepakati, dan

jam 10 pagi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan di Pegangsaan

Timur 56 oleh Ir Sukarno;

18Aug45 Piagam Jakarta 22 Juni 1945 diperbaiki

Sidang Panitia Kemerdekaan Indonesia di Pegangsaan Timur 56 memutuskan :

1. Mensahkan berlakunya Undang-undang Dasar, yang sebelumnya telah dipersiapkan

(undang-undang Dasar 1945)

2. Memilih Ir Sukarno sebagai Presiden dan Drs Moh Hatta sebagai Wakil Presiden

 

Komite van Aksi dibentuk dalam rangka mengisi Proklamasi, mempertahankan dan

menyempurnakan susunan pemerintahan dan ikut menggerakkan seluruh rakyat Indo-

nesia, dengan susunan pengurus

Ketua Umum : Sukarni

Wakil Ketua : Chairul Saleh

Wakil Ketua : Wikana

Anggota2 : Adam Malik, Pandu Wiguna, Maruto Nitimihardjo, Kusneini,

Djohar Nur, Darwis, Hanafi, Armunanto

 

 

 

 

 

19Aug45 Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dibentuk, berfungsi sebagai Dewan Perwa-

kilan Rakyat (DPR) sebelum terbentuk DPR hasil pilihan rakyat.

Kabinet Presidensiil dibentuk

20Aug45 Badan Keamanan Rakyat (BKR) terbentuk

21Aug45 Kekuasaan Laut direbut dari Jepang dan kini diperingati sebagai Hari Maritim RI

 

22Aug45 Komite van Aksi bermarkas di Menteng 31, seijin Mr Datuk Djamin, Ketua

Cabang Jakarta “Jawa Hokokai”

Dibentuk SubKomite, Urusan Khusus (Sukarni, Chairul Saleh, Wikana), Urusan

Pemerintahan dan Luar Negeri (Adam Malik), Urusan Sekretariat (Hanafi),

Urusan Penyelidikan dan Penghubung (Armunanto)

Juga dibentuk Angkatan Pemoeda Indonesia (API), Ketua Wikana dan Wakil

Ketua Chairul Saleh, Barisan Buruh Indonesia (BBI), Ketua Kusnaeni dan

Wakil Ketua Pandu Wiguna, Barisan Rakyat Indonesia (BARA), Ketua Maruto

Nitimihardjo dan Wakil Ketua Sjamsuddin.

Press Release pertama adalah SUARA RAKYAT :

1. Negara kesatuan Republik Indonesia telah berdiri tanggal 17 Agustus 1945

dan rakyat telah merdeka, bebas dari pemerintahan bangsa asing

2. Semua kekuasaan harus ditangan negara dan bangsa Indonesia

3. Jepang sudah kalah dan tak ada hak menjalankan kekuasaan lagi diatas bumi

Indonesia

4. Rakyat harus merebut senjata dari tangan Jepang

5. Segala perusahaan, kantor-kantor, pabrik, tambang, kebun dan lain-lain ha-

rus direbut dan dikuasai oleh rakyat Indonesia dari tangan Jepang

 

29Aug45 Komite Nasional Indonesia dibentuk, diketuai oleh Mr Kasman Singodimedjo

01Sep45 Pekik “Merdeka” pertama-tama dijadikan Salam Jumpa secara Nasional

03Sep45 Rapat Buruh Kereta Api di Stasiun Manggarai, hadir tokoh2 Menteng 31 (Kusnaeni,

Maruto, Pandu, Djohan Nur) dengan keputusan :

1. Membentuk Komite van Aksi untuk merebut seluruh Jawatan Kereta Api dan pere-

butan dilakukan hari itu juga

2. Pimpinan Jawatan Kereta Api dan bagian-bagian harus diserahkan kepad orang

yang dipilih

15Sep45 Kapal Inggris HMS Cumberland merapat di Tanjung Priok, dipimpin oleh

Rear Admiral WR Patterson, beserta Dr CO van der Plas, Deputy Luitenant

Governeur Netherlands Indie

17Sep45 Palang Merah Indonesia (PMI) dibentuk, diketuai oleh Drs Moh Hatta

19Sep45 Rapat Raksasa di Lapangan IKADA diprakarsai Komite van Aksi Menteng 31

Penurunan Bendera Jepang dan Pengibaran Merah Putih di Hotel Yamato, Surabaya

20Sep45 Markas Besar Menteng 31 diduduki oleh Tentara Jepang

30Sep45 Pengakuan “de facto” kekuasaan Republik Indonesia oleh Tentara Sekutu pimpinan

Jenderal Christison

02Okt45 Luitenant Governeur General van Mook mendarat di lapangan terbang Kemayoran

05Okt45 Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk dan kini diperingati sebagai hari ABRI

07Okt45 Netherlands Indies Civil Administration (NICA) dibentuk Belanda

20Okt45 Tentara Inggris mendarat di Semarang

03Nop45 Pemerintah memberi kekuasaan kepada Rakyat untuk membentuk Partai Politik

10Nop45 Pertempuran Heroik di Surabaya dan kini diperingati sebagai Hari Pahlawan

17Nop45 Pertemuan Segitiga Pertama antara RI, Belanda dan Inggris

21Nop45 Pertempuran Ambarawa, prakarsa penyerangan oleh laskar RI

 

 

Pasca 1945

 

24Jan46 Tentara Keamanan Rakyat ganti nama menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI)

19Jul46 Konperensi Tentara Republik Indonesia (TRI) di Lawang

25Mar47 Persetujuan Linggarjati ditandatangani oleh wakil-wakil Indonesia dan Belanda

03Jun47 Tentara Nasional Indonesia (TNI) disyahkan oleh Presiden RI

21Jul47 Agresi I Belanda

06Des47 Perundingan Indonesia-Belanda diatas kapal Renville, Jakarta

19Des48 Agresi II Belanda

Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dibentuk di Sumatera Barat, dipimpin

oleh Sjarifuddin Prawiranegara

23Aug49 Konperensi Meja Bundar (KMB) dimulai di Den Haag

23Des49 Delegasi Indonesia diketuai Drs Moh Hatta di KMB Den Haag menerima pengakuan

kedaulatan RI oleh Belanda

27Des49 Bendera Belanda diturunkan dan Bendera Merah Putih dikibarkan di Istana Negara

30Des49 Batavia berubah nama jadi Jakarta, pengumuman MenPen Arnold Monoputu

Gedung Menteng 31 seterusnya digunakan untuk kegiatan2 peringatan perjuangan 45,

Selain menjadi domisili Asrama Wanita Indonesia, Departemen Pengerahan Tenaga

Rakyat untuk pembangunan, dipimpin Menteri A.M. Hanafi, dlsb.

1960 Dewan Harian Angkatan 45 terbentuk diketuai oleh Chairul Saleh

04Aug68 Musyawarah Ke-1 Dewan Paripurna Nasional Angkatan 45 sampai dengan 08Aug68,

dihasilkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta kepengurusan yang

diketuai oleh H. Adam Malik

06Des71 Musyawarah Dewan Angkatan 45 di Brastagi menghasilkan kepengurusan diketuai

oleh Suharto, Lembaga Pembina Jiwa 45 diketuai oleh Prof Sunario, SH dengan

tugas-tugas sebagai berikut :

1. Menyelidiki dan membahas sarana-sarana dan mengumpulkan bahan-bahan data-

data yang diperlukan untuk merumuskan nilai-nilai jiwa dan semangat 45

2. Menggali, meneruskan dan mengembangkan Jiwa, Nilai-nilai dan Semangat 45 ke-

pada Angkatan Muda dan Angkatan-angkatan selanjutnya

3. Penulisan dan penerbitan sejarah Perjuangan 45

 

Daftar Pustaka

 

1. Deklarasi Komite Anak Bangsa Indonesia, September 2002

 

2. H.M. Iwan Gayo, Buku Pintar Seri Senior, Januari 2000

 

3. Mardanas Safwan, Dinas Museum Dan Sejarah, Daerah Khusus Ibukota Jakarta,

Peranan Gedung Menteng Raya 31 Dalam Perjuangan Kemerdekaan, Juli 1973

(Koleksi Pustaka Pribadi Almarhum Prof Ir Kusudianto Hadinoto)

 

4. Pandji R. Hadinoto, Model Politik Produktif Membedah Hukum Nusantara 20 Abad,

Tesis Magister Hukum, STIH IBLAM, Desember 2000

 

5. R.Z. Leirissa, Ternate Bandar Jalur Sutra, Desember 2001

 

Jakarta, 10 Nopember 2005

 

 

 

eMail : masbeta45@yahoo.com

 

About these ads

0 Responses to “Riwayat Gedung Joang45, Jakarta”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,103,372 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 114 other followers

%d bloggers like this: