23
Nov
08

Kepemimpinan Gajah Mada

 

 

(Jejak Nasionalisme Gajah Mada, DR Purwadi MHum)

 

Prinsip Asta Dasa Kotamaning Prabu

  1. Wijaya artinya seorang pemimpin harus mempunyai jiwa yang tenang, sabar dan bijaksana serta tidak lekas panik dalam menghadapi berbagai macam persoalan karena hanya dengan jiwa yang tenang masalah akan dapat dipecahkan

  2. Mantriwira artinya seorang pemimpin harus berani membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan tanpa terpengaruh tekanan dari pihak manapun

  3. Natangguan artinya seorang pemimpin harus mendapat kepercayaan dari masyarakat dan berusaha menjaga kepercayaan yang diberikan tersebut sebagai tanggung jawab dan kehormatan

  4. Satya Bakti Prabu artinya seorang pemimpin harus memiliki loyalitas kepada kepentingan yang lebih tinggi dan bertindak dengan penuh kesetiaan demi nusa dan bangsa

  5. Wagmiwak artinya seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan mengutarakan pendapatnya, pandai berbicara dengan tutur kata yang tertib dan sopan serta mampu menggugah semangat masyarakatnya

  6. Wicaksaneng Naya artinya seorang pemimpin harus pandai berdiplomasi dan pandai mengatur stratehi dan siasat

  7. Sarjawa Upasama artinya seorang pemimpin harus rendah hati, tidak boleh sombong, congkak, mentang-mentang jadi pemimpin dan tidak sok berkuasa

  8. Dirosaha artinya seorang pemimpin harus rajin dan tekun bekerja, pemimpin harus memusatkan rasa, cipta, karsa dan karyanya untuk mengabdi kepada kepentingan umum

  9. Tan Satresna maksudnya seorang pemimpin tidak boleh memihak dan pilih kasih terhadap salah satu golongan atau memihak saudaranya, tetapi harus mampu mengatasi segala paham golongan, sehingga dengan demikian akan mampu mempersatukan seluruh potensi masayarakatnya untuk mensukseskan cita-cita bersama

  10. Masihi Samasta Buwana maksudnya seorang pemimpin mencintai alam semesta dengan melestarikan lingkungan hidup sebagai karunia dari Tuhan/Hyang Widi dan mengelola sumber daya alam dengan sebaik-baiknya demi kesejahteraan rakyat

  11. Sih Samasta Buwana naksudnya seorang pemimpin dicintai oleh segenap lapisan masyarakat dan sebaliknya pemimpin mencintai rakyatnya

  12. Negara Gineng Pratijna maksudnya seorang pemimpin senantiasa mengutamakan kepentingan Negara dari pada kepentingan pribadi ataupun golongan, maupun keluarganya.

  13. Dibyacita maksudnya seorang pemimpin harus lapang dada dan bersedia menerima pendapat orang lain atau bawahannya (akomodatif dan aspiratif)

  14. Sumantri maksudnya seorang pemimpin harus tegas, jujur, bersih dan berwibawa

  15. Nayaken Musuh maksudnya seorang pemimpin harus dapat menguasai musuh-musuh, baik yang dating dari dalam maupun dari luar, termasuk yang ada didalam dirinya sendiri (nafsunya/sadripu)

  16. Ambek Parama Arta maksudnya seorang pemimpin harus pandai menentukan prioritas atau mengutamakan hal-hal yang lebih penting bagi kesejahteraan dan kepentingan umum

  17. Waspada Purwa Arta maksudnya seorang pemimpin selalu harus waspada dan mau melakukan mawas diri (introspeksi) untuk melakukan perbaikan

  18. Prasaja artinya seorang pemimpin seharusnya berpola hidup sederhana (aparigraha), tidak berfoya-foya atau serba gemerlap

 

 

 

Visi Politik Negarawan Gajah Mada

 

  1. Visi Laku Hambeging Bathara

    1. Laku Hambeging Bathara Indra, seorang pemimpin hendaknya seperti hujan yaitu senantiasa mengusahakan kemakmuran bagi rakyatnya dan dalam setiap tindakannya dapat membawa kesejukan dan penuh kewibawaan

    2. Laku Hambeging Bathara Yama, seorang pemimpin hendaknya meneladani sifat-sifat Dewa Yama yaitu berani menegakkan keadilan menurut hukum atau peraturan yang berlaku demi mengayomi masyarakat

    3. Laku Hambeging Bathara Surya, seorang pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat seperti matahari (surya) yang mampu memberikan semangat dan kekuatan pada kehidupan yang penuh dinamika dan sebagai sumber energi

    4. Laku Hambeging Bathara Candra, seorang pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat seperti bulan yaitu mampu memberikan penerangan bagi rakyatnya yang berada dalam kegelapan/kebodohan dengan menampilkan wajah yang penuh kesejukan dan penuh simpati sehingga masyarakatnya merasa tentram dan hidup nyaman.

    5. Laku Hambeging Bathara Bayu, seorang pemimpin hendaknya ibarat angin, senantiasa berada ditengah-tengah masyarakat-nya, memberikan kesegaran dan selalu turun kebawah untuk mengenal denyut kehidupan masyarakat yang dipimpinnya

    6. Laku Hambeging Bathara Danada, seorang pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat utama dari bumi yaitu teguh menjadi landasan berpijak dan memberi segala yang dimiliki untuk kesejahteraan masyarakatnya

    7. Laku Hambeging Bathara Baruna, seorang pemimpin hendaknya bersifat seperti samudra yaitu memiliki wawasan yang luas, mampu mengatasi setiap gejolak (riak) dengan baik, penuh kearifan dan kebijaksanaan

    8. Laku Hambeging Bathara Agni, seorang pemimpin hendaknya memilki sifat mulia dari api yaitu mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan, tetap teguh dan tegak dalam prinsip dan menindak/menghanguskan yang bersalah tanpa pilih kasih.

 

  1. Visi Panca Titi Darmaning Prabu

    1. Handayani Hanyakra Purana, seorang pemimpin senantiasa memberikan dorongan, motivasi dan kesempatan bagi para Generasi Mudanya atau anggotanya untuk melangkah kedepan tanpa ragu-ragu

    2. Madya Hanyakrabawa, seorang pemimpin ditengah-tengah masyarakatnya senantiasa berkonsolidasi memberikan bimbingan dan mengambil keputusan dengan musyawarah dan mufakat yang mengutama-kan kepentingan masyarakat

    3. Ngarsa Hanyakrabawa, seorang pemimpin sebagai seorang yang terdepan dan terpandang senantiasa memberikan panutan-panutan yang baik sehingga dapat dijadikan suri tauladan bagi masyarakatnya

    4. Nir bala wikara, seorang pemimpin tidaklah selalu mengunakan kekuatan dan kekuasaan didalam mengalahkan musuh-musuh atau saingan politiknya. Namun berusaha menggunakan pendekatan pikiran, lobi, sehingga dapat menyadarkan dan disegani pesaing-pesaingnya.

    5. Ngarsa dana upaya, seorang pemimpin sebagai ksatria senantiasa berada terdepan dalam mengorbankan tenaga, waktu, materi, pikiran, bahkan jiwanya sekalipun untuk kesejahteraan dan kelangsungan hidup masyarakat.

 

  1. Visi Kamulyaning Nerpati Catur

    1. Jalma Sulaksana, seorang pemimpin hendaknya memiliki/menguasai ilmu pengetahuan baik ilmu pengetahu-an dan teknologi maupun ilmu pengetahuan agama spiritual secara teori ataupun praktek

    2. Praja Sulaksana, seorang pemimpin hendaknya mempunyai perasaan belas kasihan kepada bawahan/rakyat dan berusaha mengadakan perbaikan kondisi masyarakat (Catur Paramita : Maitri, Karuna, Mudita dan Upeksa)

    3. Wirya Sulaksana, seorang pemimpin hendaknya mempunyai keberanian untuk menegak-kan kebenaran dan keadilan dengan prinsip berani karena benar dan takut karena salah

    4. Wibawa Sulaksana, seorang pemimpin hendaknya memiliki kewibawaan terhadap bawah-an/rakyat, sehingga perintahnya dapat dilaksanakan dan program yang direncanakan dapat teralisasi.

 

  1. Visi Catur Praja Wicaksana / Catur Naya Sandhi

    1. Sama yaitu selalu waspada dan siap siaga untuk menghadapi segala ancaman musuh baik yang dating dari dalam maupun dari luar yang merongrong kewibawaan pemimpin yang sah

    2. Beda yaitu memberikan perlakuan yang sama dan adil tanpa perkecualian dalam melaksanakan hokum/peraturan bagi bawahan/rakyat sehingga tercipta kedisiplinan dan tata tertib dalam masyarakat (penegakan supremasi hukum)

    3. Dana yaitu mengutamakan sandang, pangan, pendidikan dan papan guna menunjang kesejahteraan/kemakmuran bawahan/rakyat serta memberikan penghargaan bagi warga yang berprestasi. Memberikan upah/gaji bagi para pekerja sebagai balas jasa dari pekerjaan yang dibebankan sesuai dengan peraturan yang berlaku agar dapat mencukupi kehidupan keluarganya

    4. Danda yaitu menghukum dengan adil kepada semua yang berbuat salah/melanggar hokum sesuai dengan tingkat kesalahan yang diperbuatnya

  2. Visi Sad Guna Upaya

    1. Sidi Wasesa artinya pemimpin harus berkemampuan untuk menjalin persahabatan dengan rakyat, sesame dan Negara tetangga

    2. Wigraha Wasesa artinya pemimpin harus berkemampuan untuk memilah-milah persoalan dan mampu untuk mempertahankan hubungan baik

    3. Wibawa Wasesa artinya pemimpin harus memiliki kewibawaan atau disegani baik oleh rakyat, Negara tetangga ataupun musuh-musuhnya

    4. Winarya Wasesa artinya pemimpin harus cakap dan bijak dalam memimpin sehingga memuaskan semua pihak

    5. Gasraya Wasesa artinya pemimpin harus berkemampuan untuk menghadapi musuh yang kuat dan tangguh dengan menggunakan strategi/muslihat dalam berdiplomasi atau perang

    6. Stana Wasesa artinya pemimpin harus dapat menjaga hubungan dan perdamaian dengan baik dan memprioritaskan tentaranya untuk menjaga kedaulatan Negara dan menjaga perdamaian serta menghindari peperangan

  3. Visi Panca Tata Upaya

    1. Maya Tata Upaya, artinya seorang birokrat harus melakukan upaya dalam mengumpulkan data atau permasalahan yang belum jelas faktanya sehingga didapat informasi yang akurat (hal ini dapat lewat telik sandi atau intelijen)

    2. Upeksa Tata Upaya, artinya seorang birokrat harus berusaha untuk meneliti dan menganalisa secara mendalam semua data-data/informasi yang diperoleh guna dapat memecahkan masalah secara proporsional dan menarik kesimpulan yang obyejtif

    3. Indra Jala Wisaya, artinya seorang birokrat hendaknya senantiasa berusaha untuk mencari jalan keluar/pemecahan terhadap setiap permasalahan yang dihadapi secara maksimal dan berpihak kepada kepentingan rakyat

    4. Wikrama Wisaya, artinya setiap birokrat hendaknya berupaya untuk melaksanakan semua usaha yang telah diprogramkan/dirumuskan untuk mencapai tujuan, yakni kesejahteraan lahir batin

    5. Lokika Wisaya, artinya setia tindakan dan ucapan seorang birokrat harus dipertimbangkan sebelumnya secara akal sehat, ilmiah dan logis serta tidak boleh bertindak/berucap berdasarkan emosi semata

 

  1. Visi Tri Jana Upaya / Tri Upaya Sandhi

    1. Rupa Upaya, artinya seorang pemimpin harus dapat mengenali atau mengamati wajah masyarakat yang dipimpinnya. Wajah masyarakat dapat menggambarkan apakah rakyat yang bersangkutan dalam keadaan senang, sejahtera atau kesusahan. Pemimpin yag dapat mengetahui keadaan masyarakatnya dengan baik akan lebih mudah dapat mengatasi permasalahannya yang dihadapi rakyatnya

    2. Wamsa Upaya, artinya seorang pemimpin harus dapat mengetahui susunan stratifikasi social masyarakatnya. Seorang pemimpin yang mengenali adat istiadat masyarakatnya dengan baik akan lebih mudah dapat menentukan sistim pendekatan atau motivasi yang harus digunakan dalam mencapai dan mendorong pembangunan menuju kemajuan

    3. Guna Upaya, artinya seorang pemimpin hendaknya mengetahui tingkat intelektual masyarakatnya termasuk ketrampilan dan keahlian. Dengan mengetahui tingkat kemampuan masyarakatnya seorang pemimpin akan lebih mudah berkomunikasi serta menawarkan ide-ide kepada rakyatnya. Dengan demikian program-program pembangunan akan lebih cepat terealisasi. Disamping program pemenuhan sandang, pangan dan papan, seorang pemimpin harus memprioritaskan program pendidikan kepada rakyatnya, sehingga terjadi keseimbangan antara pembangunan fisik dan peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam rangka membangun nusa dan bangsa dimasa depan (Eka Darma dari berbagai sumber)

 

Visi Sosial Kemasyarakatan Gajah Mada

  1. Ajaran Sad Guna Weweka

    1. Kama (hawa nafsu), hawa nafsu ada dalam diri manusia, dan menjadi musuh bagi setiap orang. Nafsu yang tidak terkendalikan akan membawa manusia ke jurang neraka

    2. Loba (tamak, rakus), loba atau tamak menyebabkan orang tidak pernah merasa puas akan sesuatu. Orang loba ingin selalu memiliki sesuatu yang banyak dari apa yang telah dimiliki. Orang seperti ini akan selalu gelisah karena didorong oleh kelobaannya.

    3. Kroda (marah), kemarahan timbul karena pengaruh perasaan loba yang tidak dapat dikendalikan, sehingga timbul rasa jengkel, muak, tersinggung, dll. Orang yang suka marah tidak baik, sebab kemarahan menyebabkan orang menderita, dan pada umumnya orang tidak senang dimarahi. Sehingga orang yang sering marah, tidak akan disenangi orang lain.

    4. Moha (kebingungan), kebingungan dapat membuat pikiran menjadi gelap, karena pikiran yang gelap tidak dapat membedakan perbuatan yang baik dan buruk. Biasanya lebih cenderung untuk melaksanakan perbuatan yang terkutuk, seperti membunuh orang, atau membunuh diri sendiri. Untuk menghindari kebingungan dalam menghadapi segala persoalan, maka perlu pengendalian pikiran, kuatkan iman, dan harus memiliki rasa pasrah

    5. Mada (mabuk), mabuk akibat minuman keras, penyebab keburukan seperti merusak tubuh, merusak urat syaraf dlsb.

    6. Masarya (iri hati), perasaan iri hati timbul karena seseorang tidak senang melihat orang lain yang lebih daripadanya atau menyamai dirinya. Ia tidak senang melihat orang lain bahagia atau lebih beruntung darinya. Orang demikian merasakan dirinya dikalahkan, lebih rendah, malang dlsb. Akibatnya muncul rencana jahat untuk mencelakakan orang yang dianggap menyaingi dirinya.

  2. Visi Sad Paramuka

    1. Agnida (suka membakar milik orang lain)

    2. Wisada (suka meracun)

    3. Atarwa (melakukan ilmu hitam)

    4. Sastraghna (mengamuk)

    5. Dratikrama (suka memperkosa)

    6. Raja Pisuna (suka memfitnah)

  3. Visi Catur Sarama Gajah Mada

    1. Brahmacari

    2. Grahasta

    3. Wanaprasta

    4. Bikduka atau Sanyasin

  4. Visi Catur Purusa Arta

    1. Darma berarti segala perilaku yang luhur., perilaku manusia yang sesuai ajaran agama. Ajaran agama menuntun, membina, dan mengatur hidup manusia sehingga mencapai kesejahteraan hidup lahir dan batin. Kewajiban untuk berbuat kebajikan adalah Darma. Jadi Darma itu juga berarti kebajikan. Ada 2 (dua) kewajiban yang harus dilaksanakan yaitu :

Swa Darma artinya kewajiban sendiri, karena setiap orang punya kewajibannya sendiri-sendiri.

Para Darma artinya menghormati dan menghargai tugas dan kewajiban orang lain, tidak memandang rendah kewajiban orang lain.

Manfaat Darma adalah alat untuk mencapai surga dan kesempurnaan atau moksa. Darma menghilangkan segala macam penderitaan, sumber datangnya kebaikan bagi yang melaksanakannya, dan dapat melebur dosa-dosa. Darma adalah harta kekayaan orang yang saleh yang tidak bias dicuri dan dirampas. Darma adalah landasan untuk mendapatkan Arta dan Kama.

  1.  
    1. Arta berarti harta benda. Harta benda dapat diartikan kekayaan. Dalam hidup ini manusia perlu harta benda. Dalam ajaran agama Hindu, tidak dilarang untuk memiliki harta benda atau kekayaan asalkan harta benda dan kekayaan itu didapat dengan jalan yang benar, jalan yang sesuai dengan Darma.

    2. Kama yang berarti hawa nafsu/keinginan. Keinginan dapat memberikan kenikmatan dan tujuan hidup. Dalam hidup ini manusia perlu kenikmatan dan kenikmatan itu diperoleh bila keinginan itu sudah dipenuhi. Keinginan/hawa nafsu ini timbul karena manusia memiliki indra. Indra menyebabkan timbulnya keinginan atau hawa nafsu dan manusia memiliki 10 (sepuluh) indra yang disebut Dasa Indra yang terdiri dari :

      1. Panca Budi Indriya

        1. Sruta indriya (indra penilai telinga untuk mendengar)

        2. Twaka indriya (indra penilai kulit untuk rasakan sentuhan)

        3. Caksu indriya (indra penilai mata untuk melihat)

        4. Jihwa indriya (indra penilai lidah untuk mengecap)

        5. Grana indriya (indra penilai hidung untuk membaui)

      2. Panca Karma Indriya

        1. Pana indriya (indra penggerak tangan untuk memegang/mengambil)

        2. Pada indriya (indra penggerak kaki untuk bergerak/berjalan)

        3. Waka indriya (indra penggerak mulut untuk ber-kata2/makan/minum)

        4. Paywa indriya (indra penggerak anus untuk buang air besar/kotoran)

        5. Upasta indriya (indra penggerak kelamin untuk buang air kecil/seni)

Dalam kehidupan manusia, keinginan/nafsu sangatlah perlu dikendalikan. Sebab, bila tidak akan membuat kehancuran pada diri manusia. Seperti nyala api yang disirami minyak, begitulah akibatnya keinginan yang selalu dituruti. Begitulah halnya dengan Kama, Kama harus dikendalikan dengan Darma agar tidak menyebabkan penderitaan.

  1.  
    1. Moksa/Mukhti

  2. Visi Tata Susila Gama

Visi Pendidikan Gajah Mada

  1. Tri Nilai

    1. Nilai Shastratama, yakni norma-norma tentang apa yang disebut Indah dan apa yang disebut buruk

    2. Nilai Buwanatama, yakni tentang kepekaan social, yaitu nilai kebersamaan, empati dan kepedulian terhadap permasalahan kemasyarakatan

    3. Nilai Susilatama, yakni kaidah-kaidah atau norma-norma tentang apa yang benar dan yang salah menurut berbagai jenis ketentuan yang berlaku dalam masyarakat

  2. Visi Empat Perbuatan Luhur

    1. Mitra, artinya kawan, sahabat, saudara atau teman. Jadi mitra berarti sifat-sifat yang menghendaki persahabatan terhadap sesame makhluk. Mitra mengajarkan agar manusia memandang semua manusia seperti keluarga besar. Manusia wajib saling mengasihi, tolong menolong, dan hormat-menghormati.

    2. Tresna, berarti cinta kasih, yaitu perasaan belas kasihan kepada semua makhluk yang menderita. Sifat Karuna adalah suka menolong dan rela berkorban demi kebahagiaan orang lain. Sifat Karuna selalu merasakan penderitaan orang lain, seperti penderitaan diri sendiri. Orang yang menjalankan sifat Karuna, tidak segan-segan menolong orang yang kesusahan dan juga mempunyai sifat suka mengampuni dan memaafkan kesalahan orang lain, karena pada dasarnya manusia tidak bias luput dari kesalahan.

    3. Gumbira, adalah sifat bahagia, puas, dan simpati yang tidak pernah dikotori oleh sifat iri hati, dengki, dan benci. Orang yang memiliki sifat Mudita akan merasa sedih bila melihat orang yang mengalami penderitaan dan mereka berusaha membantunya. Demikian pula sebaliknya mereka merasa bahagia atas kebahagiaan orang lain.

    4. Upeksa, adalah sifat yang tidak mencampuri urusan orang lain. Upeksa mengajarkan kepada manusia untuk selalu waspada dan bijaksana dalam meneliti segala keadaan atau suatu masalah, apakah suatu masalah itu benar atau salah. Sifat Upeksa tidak suka menceritakan kesalahan dan kejelekan orang lain, tidak suka menyinggung perasaan orang lain.

  3. Visi Menghormati Catur Guru

    1. Guru Sudarma, orangtua yang melahirkan manusia.

    2. Guru Surasa, bapak dan ibu guru didalam/luar sekolah juga disebut orangtua kedua, karena beliau sebagai pengganti orang untuk mendidik dan membimbing anak-anak didalam/luar sekolah.

    3. Guru Wisesa, pemerintah membuat Undang-undang atau peraturan untuk kepentingan bersama. Pemerintah juga mengatur kekayaan alam untuk kepentingan manusia bersama. Yang disebut pemerintah adalah mantra, nindya mantra, darma jaksa, dlsb. Melanggar peraturan pemerintah disebut alpaka guru wisesa.

    4. Guru Swadaya, Tuhan. Beliau menciptakan alam semesta beserta isinya. Tuhan pembimbing sekalian alam atau Tuhan itu guru sejati. Manusia perlu makan, minum, perumahan, pakaian, dlsb. Semua itu manusia dapatkan dari ciptaan Tuhan.

 

Visi Spiritual Gajah Mada

  1. Visi Tri Hita Wacana

    1. Hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan

    2. Hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia lainnya

    3. Hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam atau lingkungannya

Ketiga hubungan harmonis itu diyakini akan membawa kebahagiaan dalam kehidupan ini, yang diwujudkan dalam 3 (tiga) unsur yaitu (1) Parahyangan atau tempat suci, (2) Pawongan atau manusia itu sendiri, (3) Palemahan atau alam semesta atau lingkungan.

  1. Visi Tri Karya Parasada

    1. Manacika (berpikir yang baik dan benar)

    2. Wacika (berkata yang baik dan benar)

    3. Kayika (berbuat yang baik dan benar)

  2. Visi Tri Guna Sukmaya

    1. Sifat Satwam (sifat tenang, suci, bijaksana, cerdas, terang, tentram, waspada, disiplin, ringan dan sifat-sifat baik lainnya)

    2. Sifat Rajah (sifat lincah, gesit, goncang, tergesa-gesa, bimbang, dinamis, iri hati, congkak, kasar, bengis, panas hati, cepat tersinggung, angkuh dan bernafsu)

    3. Sifat Tamak (sifat paling tidak sadar, bodoh, gelap, pengantuk, gugup, malas, kumal, kadang-kadang suka berbohong)

  3. Visi Tri Parama Arta

    1. Cinta Kasih, artinya menyayangi dan mengasihi sesame makhluk sebagaimana mengasihi diri sendiri. Manusia harus saling asah, saling asih dan saling asuh. Tujuannya agar terwujud kerukunan, kedamaian dan keharmonisan dalam hidup ini

    2. Punia, artinya perwujudan cinta kasih dengan wujud saling menolong dengan memberikan sesuatu atau harta benda yang manusia miliki secara ikhlas dan berguna bagi yang diberi. Punia atau pemberian dengan ikhlas dapat dibedakan menjadi 4 (empat) yakni (1) makanan dan minuman, (2) pakaian dan perhiasan, (3) pelayan atau istri, (4) ilmu pengetahuan

    3. Bhakti, artinya perwujudan hati nurani berupa cinta kasih dan sujud Tuhan, orangtua, guru dan pemerintah. Bhakti Marga yaitu cara atau jalan untuk melakukan hubungan kepada Tuhan dengan jalan sujud bhakti kepada-NYA.

  4. Visi Tri Rena Tata

    1. Hutang jiwa kepada Tuhan, karena Tuhan yang memberi hidup kepada semua makhluk yang ada didunia ini

    2. Hutang jasa kepada leluhur, yakni orangtua dan nenek moyang yang telah disucikan

    3. Hutang ilmu pengetahuan kepada para guru, karena para guru adalah orang yang bijaksana dan menurunkan ilmunya kepada siswanya.

  5. Visi Tat Twam Asi

 

About these ads

2 Responses to “Kepemimpinan Gajah Mada”


  1. 1 arman
    January 7, 2009 at 3:53 pm

    dian, sebagai org bugis, kenapa tdk tampilkan juga visi leadership menurut lontara….he…he, sekadar usul bos, utk mengingatkan kampung halaman

  2. 2 rennymasmada
    December 30, 2009 at 12:43 am

    tulisan yang penuh makna, sarat filosofi.

    Salam Nusantara..!

    Renny Masmada
    http://www.rennymasmada.com
    http://rennymasmada.wordpress.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,101,838 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 114 other followers

%d bloggers like this: