Detail News | Back
“Mocaf ” Substitusi Gandum, Devisa Dihemat Rp 900 Miliar
[JAKARTA] Kebergantungan Indonesia pada impor gandum sebetulnya bisa dikurangi karena saat ini telah ada mocaf (tepung singkong yang sudah difermentasi, Red) yang bisa menjadi substitusi bahan pangan impor tersebut. Jika pemerintah memfasilitasi petani dan industri untuk memproduksi mocaf, sekitar 50 persen gandum tak perlu di- impor.
Berdasarkan data Departemen Perdagangan, nilai impor gandum pada 2007 mencapai US$ 180 juta (sekitar Rp 1,8 triliun), sehingga penggunaan mocaf bisa menghemat devisa Rp 900 miliar.
Menurut Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir yang dihubungi SP Sabtu (29/11), bentuk, warna, dan rasa mocaf sama dengan tepung gandum. “Kita bisa mengurangi 50 persen impor gandum karena bisa diganti dengan mocaf,” tegasnya.
Selain mampu mengurangi impor gandum, lanjutnya, potensi sebagai negara agraris seharusnya membuat Indonesia mampu mencukupi kebutuhan pangan, sekaligus mengurangi, bahkan menyetop impor bahan pangan.
Beras, misalnya, pada tahun ini sudah bisa swasembada. Kemudian, jagung sudah hampir 95 persen diproduksi di dalam negeri. Kemudian, untuk mengembangkan kedelai, lanjutnya, memang diperlukan waktu lama. Tetapi, jika ada usaha keras, pasti bisa swasembada.
Terkait hal itu, Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengatakan, pemerintah terus mengembangkan dan memperluas produksi tanaman pangan, termasuk beras, jagung, kedelai, dan kentang. Tahun ini, katanya, beras untuk pertama kali sejak 1984 sudah bisa swasembada. Sedangkan jagung sudah bisa swasembada pada 2009.
Sementara itu, Dirut Perum Bulog Mustafa Abubakar menyatakan dengan tidak mengimpor beras karena bisa swasembada tahun ini, Indonesia bisa menghemat lebih dari US$ 500 juta (sekitar Rp 5 triliun). Sedangkan data dari Departemen Perdagangan menunjukkan nilai impor gandum, kedelai, dan jagung selama 2007 mencapai US$ 332,082 (sekitar, Rp 3,3 triliun) dan hingga Februari 2008 mencapai US$ 69,069 (sekitar Rp 690 miliar).
Industri Pangan Lokal
Sebelumnya, Winarno dan Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Witoro meminta pemerintah serius mengembangkan berbagai komoditas bahan pangan agar tidak bergantung pada impor yang menguras devisa sangat besar. Industri pangan harus dibangun dan menggunakan bahan baku lokal. Selain memajukan sektor pertanian, kebijakan ini dapat menyerap jutaan tenaga kerja.
“Sebagai negara agraris, seharusnya Indonesia unggul di sektor pertanian. Tetapi anggaran pertanian sangat kecil, tidak sampai lima persen dari APBN, bagaimana kita mau maju dan mandiri?” tanya Winarno.
Witoro menambahkan, kebijakan di sektor pangan sangat lemah. Dia memberi contoh, di Indonesia kini mi instan telah menjadi makanan pokok setelah beras, semen- tara gandum sebagai bahan bakunya hampir 100 persen diimpor. Jika saja mi dibuat dari bahan baku lokal, eko- nomi pedesaan akan berkembang pesat.
Dia menyarankan pemerintah dan swasta membangun industri pangan di perdesaan. Selain itu, petani harus dipenuhi hak-haknya agar dapat meningkatkan produksi berbagai macam bahan pangan lokal. Jika ini berjalan baik, rakyat akan terbebas dari kemiskinan dan kelaparan.
Winarno dan Witoro menyarankan dilakukan kampanye diversifikasi pangan agar rakyat tidak bergantung pada satu jenis bahan pangan, apalagi harus mengimpor. Kampanye bisa dimulai dari para pejabat negara. Mi dan roti misalnya, bisa dibuat dari tepung beras atau ubi jalar.
Sebelumnya, pengusaha yang juga importir bungkil kedelai, Anton J Supit menjelaskan di utara Tiongkok yang lebih dingin memang bisa diproduksi gandum. Sedangkan di wilayah selatan tidak bisa, sehingga diputuskan semua tepung dibuat dari beras, termasuk untuk membuat bakpao dan mi.
“Masyarakat Tiongkok tidak mempermasalahkannya. Indonesia juga bisa, asal ada kemauan dan keseriusan, apalagi tahun ini sudah swasembada beras. Dulu, ada pejabat kita yang membiasakan diri menyediakan makanan resmi berupa jagung, ubi, singkong, dan pisang rebus, juga telur rebus dan susu sapi. Harus ada kampanye makanan berbahan baku lokal pada acara-acara resmi,” tegasnya. [S-26/RRS/DMP/A-16]

Recent Comments