Archive for November, 2008

30
Nov
08

“Mocaf” Substitusi Gandum, Devisa Dihemat Rp 900 Miliar

Detail News | Back

ZOOM “Mocaf ” Substitusi Gandum, Devisa Dihemat Rp 900 Miliar

[JAKARTA] Kebergantungan Indonesia pada impor gandum sebetulnya bisa dikurangi karena saat ini telah ada mocaf (tepung singkong yang sudah difermentasi, Red) yang bisa menjadi substitusi bahan pangan impor tersebut. Jika pemerintah memfasilitasi petani dan industri untuk memproduksi mocaf, sekitar 50 persen gandum tak perlu di- impor.

Berdasarkan data Departemen Perdagangan, nilai impor gandum pada 2007 mencapai US$ 180 juta (sekitar Rp 1,8 triliun), sehingga penggunaan mocaf bisa menghemat devisa Rp 900 miliar.

Menurut Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir yang dihubungi SP Sabtu (29/11), bentuk, warna, dan rasa mocaf sama dengan tepung gandum. “Kita bisa mengurangi 50 persen impor gandum karena bisa diganti dengan mocaf,” tegasnya.

Selain mampu mengurangi impor gandum, lanjutnya, potensi sebagai negara agraris seharusnya membuat Indonesia mampu mencukupi kebutuhan pangan, sekaligus mengurangi, bahkan menyetop impor bahan pangan.

Beras, misalnya, pada tahun ini sudah bisa swasembada. Kemudian, jagung sudah hampir 95 persen diproduksi di dalam negeri. Kemudian, untuk mengembangkan kedelai, lanjutnya, memang diperlukan waktu lama. Tetapi, jika ada usaha keras, pasti bisa swasembada.

Terkait hal itu, Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengatakan, pemerintah terus mengembangkan dan memperluas produksi tanaman pangan, termasuk beras, jagung, kedelai, dan kentang. Tahun ini, katanya, beras untuk pertama kali sejak 1984 sudah bisa swasembada. Sedangkan jagung sudah bisa swasembada pada 2009.

Sementara itu, Dirut Perum Bulog Mustafa Abubakar menyatakan dengan tidak mengimpor beras karena bisa swasembada tahun ini, Indonesia bisa menghemat lebih dari US$ 500 juta (sekitar Rp 5 triliun). Sedangkan data dari Departemen Perdagangan menunjukkan nilai impor gandum, kedelai, dan jagung selama 2007 mencapai US$ 332,082 (sekitar, Rp 3,3 triliun) dan hingga Februari 2008 mencapai US$ 69,069 (sekitar Rp 690 miliar).

Industri Pangan Lokal

Sebelumnya, Winarno dan Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Witoro meminta pemerintah serius mengembangkan berbagai komoditas bahan pangan agar tidak bergantung pada impor yang menguras devisa sangat besar. Industri pangan harus dibangun dan menggunakan bahan baku lokal. Selain memajukan sektor pertanian, kebijakan ini dapat menyerap jutaan tenaga kerja.

“Sebagai negara agraris, seharusnya Indonesia unggul di sektor pertanian. Tetapi anggaran pertanian sangat kecil, tidak sampai lima persen dari APBN, bagaimana kita mau maju dan mandiri?” tanya Winarno.

Witoro menambahkan, kebijakan di sektor pangan sangat lemah. Dia memberi contoh, di Indonesia kini mi instan telah menjadi makanan pokok setelah beras, semen- tara gandum sebagai bahan bakunya hampir 100 persen diimpor. Jika saja mi dibuat dari bahan baku lokal, eko- nomi pedesaan akan berkembang pesat.

Dia menyarankan pemerintah dan swasta membangun industri pangan di perdesaan. Selain itu, petani harus dipenuhi hak-haknya agar dapat meningkatkan produksi berbagai macam bahan pangan lokal. Jika ini berjalan baik, rakyat akan terbebas dari kemiskinan dan kelaparan.

Winarno dan Witoro menyarankan dilakukan kampanye diversifikasi pangan agar rakyat tidak bergantung pada satu jenis bahan pangan, apalagi harus mengimpor. Kampanye bisa dimulai dari para pejabat negara. Mi dan roti misalnya, bisa dibuat dari tepung beras atau ubi jalar.

Sebelumnya, pengusaha yang juga importir bungkil kedelai, Anton J Supit menjelaskan di utara Tiongkok yang lebih dingin memang bisa diproduksi gandum. Sedangkan di wilayah selatan tidak bisa, sehingga diputuskan semua tepung dibuat dari beras, termasuk untuk membuat bakpao dan mi.

“Masyarakat Tiongkok tidak mempermasalahkannya. Indonesia juga bisa, asal ada kemauan dan keseriusan, apalagi tahun ini sudah swasembada beras. Dulu, ada pejabat kita yang membiasakan diri menyediakan makanan resmi berupa jagung, ubi, singkong, dan pisang rebus, juga telur rebus dan susu sapi. Harus ada kampanye makanan berbahan baku lokal pada acara-acara resmi,” tegasnya. [S-26/RRS/DMP/A-16]

30
Nov
08

Berdayakan 7 Daya Dukung Bela Negara

 

Menjelang Hari Bela Negara 19 Desember 2008, secara kontekstual kita dihadapkan kepada ancaman seperti terjadinya proyeksi dampak krisis 2009 yakni rakyat miskin 45 juta [LP3S, Suara Pembaruan 24 Nopember 2008] yang dapat mengarah kepada kehidupan HanKamNas melengah, ancaman terjadinya kiamat tahun 2012 akibat ledakan besar di atmosfer Matahari (Coronal Mass Ejection) berdaya setara 66 juta kali ledakan bom atom Hiroshima yang dapat mengarah kepada bahaya bagi keselamatan umat [Kompas 26 Nopember 2008], maka sebagai antisipasi antara lain perlu ditekadkan pemberdayaan nasional meliputi pembinaan, penggalangan dan pengerahan di semua komponen masyarakat, bangsa dan negara terhadap 7 (tujuh) daya dukung Bela Negara yakni (1) Sumberdaya Manusia, (2) Sumberdaya Alam, (3) Sumberdaya Buatan, (4) Sumberdaya Sarana & Prasarana, (5) Sumberdaya Kearifan Lokal Yang Menasional, (6) Sumberdaya Tiga Pilar Kenegarawanan, (7) Sumberdaya Lima Pilar Bela Negara.

Sumberdaya Alam meliputi semua potensi yang terkandung dalam bumi, air dan dirgantara yang dalam wujud asalnya dapat didayagunakan untuk kepentingan pertahanan negara. Sumberdaya Buatan mencakupi semua sumber daya alam yang telah ditingkatkan dayagunanya untuk kepentingan pertahanan negara. Sumberdaya Sarana dan Prasarana melingkupi hasil budi daya manusia yang dapat digunakan sebagai alat penunjang untuk kepentingan pertahanan negara dalam rangka mendukung kepentingan nasional. Sumberdaya Kearifan Lokal Yang Menasional adalah Tatanilai Kearifan Lokal yang dapat berkemampuan merekatkan Persatuan dan Kesatuan bangsa. Sumberdaya Tiga Pilar Kenegarawanan yaitu Tiga Pilar Kebangsaan (9 Pusaka Bangsa Indonesia, 7 Strategi Ketahanan Bangsa, Kepemimpinan Kebangsaan 45), Tiga Pilar Kepemimpinan Amanah (Pemimpin Umat atau Khalifah, Akhlak Mulia, Cinta Kasih Sayang), Tiga Pilar Kejuangan TRISAKTI (Politik Berdaulat, Ekonomi Berdikari, Budaya Berkepribadian). Sumberdaya Lima Pilar Bela Negara yakni Tiga Pilar Tataran Kiprah Bela Negara, Tiga Pilar Cinta Tanah Air, Tiga Pilar Kesadaran Berbangsa dan Bernegara, Tiga Pilar Keyakinan bahwa Pancasila sebagai Ideologi Negara, Tiga Pilar Kerelaan Berkorban bagi Bangsa dan Negara.

Keberdayaan 7 daya dukung tersebut diatas diyakini akan turut mengkondisi nilai tambah bagi Stimulus Penyelamatan Ekonomi Rp 120 T [Suara Pembaruan, 25 Nopember 2008] sekaligus memungkinkan upaya2 pemberdayaan pertanian lokal guna pengurangan jumlah impor 7 komoditas seperti kedelai (1,2 juta ton), gandum (5 juta ton), kacang tanah (800 ribu ton), kacang hijau (300 ribu ton), gaplek (900 ribu ton), sapi (600 ribu ekor), susu (964 ribu ton). Pengganti Kedelai seperti Karabenguk yang mampu tumbuh produktif di lahan kering dan bisa jadi tanaman tumpang sari [Kompas 26 Nopember 2008] dan “Mocaf” Subsitusi Gandum [Suara Pembaruan 29 Nopember 2008 adalah sungguh strategik dan perlu segera kiprah pemberdayaan masyarakat sekaligus gerakan rakyat semesta agar Ekologi tidak gersang, dengan bersemangat Bela Negara.

Jakarta, 1 Desember 2008, Pandji R. Hadinoto / eMail : pollkum45@yahoo.com

 

 

 

29
Nov
08

Musik Pencerdas Bangsa

 

MUSIK ADALAH ALAT PENDIDIKAN,

ALAT MENCERDASKAN MANUSIA

Nortier Simanungkalit (*)

 

Dalam ilmu kedokteran, tahun 1980-an disebut sebagai dekade otak, karena pada tahun-tahun itu 4 orang ilmuwan memperoleh hadiah Nobel di bidang fisiologi, kedokteran, dan neurology yaitu :

  1. DR Roger W. Sperry (neurology) mendapat hadiah Nobel pada tahun 1981

  2. Arvid Carlsson (fisiologi) mendapat hadiah Nobel pada tahun 1983

  3. Paul Greengard mendapat hadiah Nobel pada tahun 1983 dan

  4. Eric Kandel (kedokteran) ,mendapat hadiah Nobel pada tahun 1983.

Belahan otak kiri dan belahan otak kanan manusia masing-masing mempunyai bagian-bagian yang mempunyai batas-batas dan fungsi yang jelas, yang disebut lobe (Inggris) atau lobus (Latin). Temporalis berarti yang berhubungan atau mengarah ke pelipis. Dilihat dari anatomi kepala, pelipis itu berada di sekitar depan telinga, alat pendengar. Lobus Temporalis ini dilindungi oleh temporal fascia (selaput otak), temporal musculus (otot temporal) dan temporal bone (Tulang).

Baik lobus temporalis kiri maupun kanan, memuat ratusan juta bahkan miliaran neuron (=bioelektron) yang berfungsi sebagai detector untuk men-decode semua yang didengar. Pada saat itu, terjadilah proses kerja neuron-neuron, yaitu kontak secara neurotransmitter ke segala penjuru jaringan syaraf otak yang merangsang daya ingat sadar atas dan sadar bawah, rasa (emosi), sampai kemampuan memecahkan code input yang masuk. Persoalan yang timbul dari detektor-detektor akan membuahkan suatu solusi atas kontak balik dari segala jaringan sel syaraf.

Untuk lebih jelasnya kita catat penemuan-penemuan tahun 80-an oleh para pemenang hadiah Nobel di bidang fisiologi, kedokteran, yaitu Arvid Carlsson dari Swedia, Paul Greengard dan Eric Kandel dari USA, tentang cara kerja otak. Arvid Carlsson mencatat fungsi dopamine sebagai suatu neurotransmitter yang ditimbulkan oleh senyawa kimia.

Menurut Prof. Gordon Shaw (fisikawan), Neurotransmitter : Seperti diuraikan di depan, lobus temporalis kiri dan kanan memuat miliaran neuron yaitu bioelektron atau energi listrik yang dihasilkan oleh kehidupan. Di dalam keseluruhan otak manusia terdapat ratusan miliar sel-sel syaraf. Seluruh kompleks jaringan syaraf yang luar biasa luasnya ini dihubungkan dengan transmitter kimia yang kita sebut sebagai neurotransmitter.

Pesan-pesan syaraf/impuls atau sinyal dari musik maupun linguistic yang dideteksi oleh neuron-neuron yang disebut neurit (=n) diteruskan oleh ujung neuron itu, disebut dendrite atau axon (=d), ke neuron lain yang fisiknya tidak bersentuhan di sebelahnya. Dua neuron bersebelahan dapat bertemu satu dengan lainnya pada celah persimpangan yang disebut sinapsis, yaitu celah yang memuat senyawa kimia yang membangkitkan energi listrik. Pesan-pesan, impuls, atau sinyal yang diterima neuron-neuron ditransmisikan lewat transmisi kimia itu ke sel-sel syaraf lainnya. Senyawa kimia ini dapat terjadi karena bantuan aliran nutrisi sebagai zat yang dibutuhkan kehidupan. Transmitter kimia inilah yang lazim disebut neurotransmitter. Pesan, impuls, atau sinyal yang diterima neurit dan dendrite dineurotransmisikan ke neuron lainnya, melalui neurotransmitter yang dibawa oleh nutrisi melalui aliran darah ke otak yang dirangsang juga oleh neuroserebrovaskuler (SV) yaitu peredaran darah ke otak yang memuat nutrisi dan oksigen dengan rangsangan neurotransmitter. Karena itu menurut Prof Gordon Shaw (fisikawan) kecerdasan manusia itu adalah kegiatan neurit (n), dendrite (d), dan serebrovaskuler (sv) atau n + d + sv = kecerdasan.

Sistem syaraf biasanya dibagi 2 bagian, yaitu system syaraf pusat dan system syaraf tepi (termasuk lobus temporalis). Tugas system syaraf pusat adalah menerima informasi dari semua bagian-bagian tubuh, menganalisis dan menyimpannya, serta mengirim instruksi-instruksi sebagai respons atau solusi. Sistem syaraf tepi terdiri dari syaraf-syaraf yang mengalirkan (neurotransmitter) semua informasi dari semua bagian tubuh ke sistem syaraf pusat dan sebaliknya dari sistem syaraf pusat kembali ke berbagai bagian tubuh.

Jika neuron-neuron (n + d) itu tidak menerima apa-apa, dan serebrovaskuler juga kurang sehat karena misalnya kurang nutrisi (proses asimilasi makanan atau gizi) untuk membangkitkan energi bioelektrik di sinapsis, maka miliaran neuron-neuron itu bisa mati dan otak pun tidak dapat bekerja alias sangat bodoh. Untuk memelihara kestabilan kesehatan berpikir ini kita harus menjaga kesehatan jasmani dan unsur-unsur sistem syaraf melalui musik dan linguistik.

DR. Roger W. Sperry, neurolog, pemenang hadiah Nobel tahun 1981, meneliti tentang misteri musik. Penelitian-penelitian misteri otak manusia makin marak pada dekade otak. Dia meneruskan penelitian tentang perbedaan fungsi belahan otak kiri dan otak kanan. Belahan otak kanan (lobus temporalis kanan) ternyata memang lebih unggul dalam kapasitas berpikir intuitif, tafsir impresi auditif dan pemahaman hubungan spasial.

Penemuan-penemuan mereka diperkuat dan dibuktikan oleh Dr Mark Tramo, neuto-biolog dari fakultas kedokteran Universitas Harvard yang menyimpulkan bahwa kemampuan merasakan dan menikmati musik sudah menjadi kodrat manusia. Jika hewan-hewan menggunakan suara yang unik dan rumit untuk saling mengenal dalam menarik pasangan atau mengirim tanda bahaya, maka manusia malah berhasil mengembangkan kemampuan repertoire musik yang paling kaya dibandingkan dengan spesies-spesies yang mendahuluinya. Otak manusia telah berevolusi sedemikian rupa hingga mengembangkan rangkaian-rangkaian yang terspesialisasi, yang dalam kata lain disebut detektor-detektor khas. Detektor-detektor dapat digunakan untuk men-decode aspek-aspek pembicaraan dan musik (Spreken en muziek). Lobus temporalis sebelah kiri maupun kanan mengandung sel-sel yang dapat mengenal dan mengolah titik nada yang pitch (tepat nada). Jika bahasa digunakan untuk mengalihkan pengetahuan, maka musik dipakai untuk meningkatkan kecerdasan.

DR Jamsed Bharucha, psikolog dari Dartmouth College di Hannover, New Hampshire, menemukan bahwa baik belahan otak kiri maupun kanan mengandung detektor-detektor yang dapat memahami bahasa dan musik. Namun belahan otak kiri lebih terspesialisasi untuk bahasa, sedang otak kanan khusus untuk detektor musik.

DR Gottfried Schlaugh, neurology, bersama-sama dengan DR Helmuth Steinmetz menemukan bahwa planum temporale (bidang lapisan otak luar) kanan manusia yang musical lebih besar dari planum temporale kiri. Perbedaan besarnya planum temporalis ini, mengisyaratkan bahwa makin besar perbedaan ini makin sempurna pengenalan nada/musik.

Dihubungkan dengan penelitian DR Roger W. Sperry, bahwa keunggulan lobus temporalis kanan manusia yang musikal, akan lebih intelektual dari yang nonmusical, sehingga musik itu betul-betul akan berfungsi sebagai alat pendidikan.

 

(*) Pemegang Bintang Gerilya, mantan Komandan Tentara Pelajar SubTer VII, Sumatera Timur Selatan, Komando Sumatera, 1948-1949; sekarang dikenal sebagai Komponis Pejuang’45 dan Bapak Paduan Suara Indonesia.

 

Dunia internasional mengakui kepiawaiannya di bidang paduan suara. Ia diangkat oleh International Music Council sebagai anggota Selection Committee dalam Festival Paduan Suara Mahasiswa International di New York. Selain itu, ia menciptakan lagu mars dan himne SEA Games, menjadi anggota The International Music Council dibawah naungan UNESCO, menjadi juri The International Student Choral Festival yang diselenggarakan oleh Lincoln Center for The Performing Arts di New York, dan juri dalam acara musik Rostrum di Alma Ata, Kazakhstan. Yang tak kalah pentingnya, ia menciptakan himne Palang Merah Amerika : The Hymne of American Red Cross (1999) dan himne VEM (Vereinte Evangelische Mission Wupertal), Jerman (2004).

29
Nov
08

Tiada Guna Salahkan Global

Tajuk Rencana Suara Pembaruan 

Tiada Guna Salahkan Global
Globalisasi telah membuat aktivitas ekonomi di setiap negara bagai bejana berhubungan. Krisis finansial di sebuah negara akan terjadi juga di negara lain. Sebagai bagian dari ekonomi global, Indonesia tidak perlu mempersalahkan negara lain dan meminta perlakuan khusus. Sebab, ketika ekonomi global bergairah dan pertumbuhan ekonomi melaju kencang, ekonomi Indonesia juga ikut terangkat.

Dengan pemahaman ini, kita prihatin mendengar pernyataan Menkeu Sri Mulyani Indrawati, beberapa hari lalu. Menkeu yang kini merangkap sebagai Pelaksana Jabatan Menko Perekonomian itu, mengatakan, Indonesia adalah innocent victim atau korban tidak bersalah dalam krisis global ini. Karena itu, Indonesia berhak mendapat prioritas bantuan lembaga keuangan internasional. Kita sepakat dengan Menkeu bahwa kondisi ekonomi Indonesia, saat ini, jauh lebih baik dari sejumlah negara, apalagi AS, negara pemicu krisis global. Namun, kita tidak bisa luput dari pengaruh krisis ekonomi global, apalagi sejumlah negara tujuan ekspor telah memasuki fase resesi ekonomi.

Meski masih kecil, asing sudah menarik dananya dari pasar modal. Hasil penjualan saham itu ditukarkan ke dolar AS, sehingga menekan nilai tukar rupiah. Momentum ini dimanfaatkan para spekulan, dalam dan luar negeri, untuk menarik untung. Ketika rupiah melemah, para ibu rumah tangga yang tidak ada urusan dengan devisa ikut memburu rupiah.. Rupiah pun melemah hingga di atas Rp 12.000 per dolar AS.

Depresiasi rupiah membengkakkan biaya impor. Dalam pada itu, kontraksi ekonomi yang dialami Eropa, Jepang, RRT, ASEAN, dan sejumlah negara Asia, mengurangi ekspor Indonesia. Kondisi ini diperparah oleh kenaikan suku bunga pinjaman, krisis likuiditas, dan iklim usaha dalam negeri yang tak kunjung membaik. Banyak perusahaan yang mengurangi produksi dan mem-PHK karyawan.

Kini, saatnya pemerintah menunjukkan kemampuannya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pertama, selain membiayai impor dan membayar utang luar negeri, jangan ada lagi transaksi dalam dolar AS. Semua transaksi dalam negeri wajib dalam rupiah. Kedua, batasi impor dengan melarang impor barang konsumsi. Ketiga, upaya habis-habisan mendorong ekspor dengan memberikan berbagai kemudahan.

Keempat, pemerintah membantu mengurangi biaya produksi dengan menurunkan harga solar, elpiji, dan premium. Penurunan harga premium, pekan silam, yang hanya Rp 500 per liter tidak memadai, apalagi harga minyak mentah kini sudah di bawah US$ 50 per barel. Semua ekonomi biaya tinggi dipangkas dan pelayanan birokrasi dipermudah. Kelima, pemerintah wajib mempercepat belanja modal dan belanja barang yang pada Oktober 2008 baru 50%. Bagaimana mungkin pajak yang ditarik dari rakyat dan hasil penjualan SUN hanya disimpan di BI ketika pada saat yang sama kita mengeluh kekurangan dana? Kita tidak perlu meminta bantuan IMF.

Keenam, pemerintah tidak boleh terlalu percaya diri dengan tidak mau memberikan full blanket guarantee. Dana simpanan Rp 400 triliun yang tidak dijamin bukan angka kecil. Hari ini, Bank Century dinyatakan krisis likuiditas dan harus dirawat Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Ini sinyal makin kuat bahwa seluruh dana simpanan masyarakat di bank harus dijamin pemerintah. Keterpurukan ekonomi Indonesia, jangan- jangan, lebih disebabkan oleh salah kelola ketimbang pengaruh global.

29
Nov
08

Menarik Simpati “Swing Voters”

Menarik Simpati “Swing Voters” [Tajuk Rencana Suara Pembaruan]
Salah satu ukuran keberhasilan penyelenggaraan pemilu adalah seberapa besar tingkat partisipasi masyarakat yang telah memiliki hak pilih. Hal ini sangat penting, karena tingkat partisipasi yang rendah adalah cermin apatisme publik terhadap proses demokrasi. Publik tidak peduli dengan hak politik yang melekat padanya sebagai bagian pemegang kedaulatan tertinggi di negeri ini. Akibat lebih jauh, pemerintahan hasil pemilu dianggap lemah legitimasinya, karena dukungan tidak maksimal. Sebaliknya, tingkat partisipasi yang tinggi akan memberikan dukungan politik yang kuat bagi pemerintah.

Tantangan itu yang membayangi pelaksanaan Pemilu 2009. Baik pemilu legislatif maupun pemilu presiden, sama-sama berpotensi meraup partisipasi yang tidak maksimal. Rendahnya partisipasi publik, setidaknya tercermin dari sejumlah pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada), akhir-akhir ini, yang mencatat cukup banyaknya warga yang tidak menggunakan hak pilihnya, alias memilih golput. Bahkan di beberapa pilkada, jumlah golput melebihi jumlah perolehan suara pemenang pilkada.

Sungguh ironis mendapati masyarakat enggan menggunakan hak suaranya sebagai implementasi dari kedaulatan rakyat. Mengapa masyarakat kini tak peduli dengan pemilu? Jawabannya, mereka muak dengan kiprah partai politik beserta segenap jajaran elitenya.

Pengabdian elite parpol tidak lagi pada kepentingan bangsa, tetapi pada kepentingan politik kekuasaan. Belum lagi wajah parlemen yang dipenuhi politisi busuk. Alhasil, masyarakat kecewa dengan proses seleksi parpol, yang mengakibatkan pemilu yang teramat mahal, hanya melahirkan koruptor kakap yang kerap memanipulasi tanggung jawab sebagai wakil rakyat. Kondisi tersebut pada akhirnya melahirkan masyarakat yang gamang menentukan pilihan pada pemilu kelak. Kelompok ini lebih dikenal dengan swing voters atau kelompok suara mengambang. Mereka inilah embrio sejati yang tinggal selangkah lagi untuk menjadi golput. Mereka belum menentukan pilihan, lebih disebabkan hilang selera untuk ikut berdemokrasi, melihat ulah para politisi parpol baik di legislatif maupun mereka yang memegang jabatan eksekutif.

Inilah tantangan bagi parpol, bagaimana menarik simpati swing voters. Menyimak sekian banyak pemilu yang telah dilalui serta mencermati apa yang menjadi kekecewaan dan harapan publik terhadap kehidupan politik dan demokrasi di Tanah Air, parpol seharusnya sudah menyadari apa yang harus dilakukan. Parpol harus mampu memetakan apa yang menjadi harapan publik, dan bekerja keras untuk mewujudkan harapan-harapan tersebut. Hal yang paling krusial, publik menghendaki perubahan seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu, hanya parpol yang menawarkan perubahan, dalam arti perbaikan, yang akan mampu menarik suara swing voters.

Belajar dari pemilu di beberapa negara, satu hal yang harus disadari parpol bahwa faktor figur calon presiden kini sangat menentukan sikap publik. Tak bisa dielakkan, pemilihan presiden langsung telah menempatkan ketokohan sebagai tema sentral bagi calon pemilih. Apabila parpol cermat memilih tokoh yang benar-benar membawa harapan publik untuk diusung menjadi presiden, bukan perkara yang susah meraup suara sebanyak-banyaknya, baik di pemilu legislatif maupun pilpres. Jadi, kata kuncinya agar tingkat partisipasi pemilu memuaskan adalah berorientasi pada harapan dan kepentingan publik.

29
Nov
08

Tiada Guna Salahkan Global

Tajuk Rencana Suara Pembaruan 

Tiada Guna Salahkan Global
Globalisasi telah membuat aktivitas ekonomi di setiap negara bagai bejana berhubungan. Krisis finansial di sebuah negara akan terjadi juga di negara lain. Sebagai bagian dari ekonomi global, Indonesia tidak perlu mempersalahkan negara lain dan meminta perlakuan khusus. Sebab, ketika ekonomi global bergairah dan pertumbuhan ekonomi melaju kencang, ekonomi Indonesia juga ikut terangkat.

Dengan pemahaman ini, kita prihatin mendengar pernyataan Menkeu Sri Mulyani Indrawati, beberapa hari lalu. Menkeu yang kini merangkap sebagai Pelaksana Jabatan Menko Perekonomian itu, mengatakan, Indonesia adalah innocent victim atau korban tidak bersalah dalam krisis global ini. Karena itu, Indonesia berhak mendapat prioritas bantuan lembaga keuangan internasional. Kita sepakat dengan Menkeu bahwa kondisi ekonomi Indonesia, saat ini, jauh lebih baik dari sejumlah negara, apalagi AS, negara pemicu krisis global. Namun, kita tidak bisa luput dari pengaruh krisis ekonomi global, apalagi sejumlah negara tujuan ekspor telah memasuki fase resesi ekonomi.

Meski masih kecil, asing sudah menarik dananya dari pasar modal. Hasil penjualan saham itu ditukarkan ke dolar AS, sehingga menekan nilai tukar rupiah. Momentum ini dimanfaatkan para spekulan, dalam dan luar negeri, untuk menarik untung. Ketika rupiah melemah, para ibu rumah tangga yang tidak ada urusan dengan devisa ikut memburu rupiah.. Rupiah pun melemah hingga di atas Rp 12.000 per dolar AS.

Depresiasi rupiah membengkakkan biaya impor. Dalam pada itu, kontraksi ekonomi yang dialami Eropa, Jepang, RRT, ASEAN, dan sejumlah negara Asia, mengurangi ekspor Indonesia. Kondisi ini diperparah oleh kenaikan suku bunga pinjaman, krisis likuiditas, dan iklim usaha dalam negeri yang tak kunjung membaik. Banyak perusahaan yang mengurangi produksi dan mem-PHK karyawan.

Kini, saatnya pemerintah menunjukkan kemampuannya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pertama, selain membiayai impor dan membayar utang luar negeri, jangan ada lagi transaksi dalam dolar AS. Semua transaksi dalam negeri wajib dalam rupiah. Kedua, batasi impor dengan melarang impor barang konsumsi. Ketiga, upaya habis-habisan mendorong ekspor dengan memberikan berbagai kemudahan.

Keempat, pemerintah membantu mengurangi biaya produksi dengan menurunkan harga solar, elpiji, dan premium. Penurunan harga premium, pekan silam, yang hanya Rp 500 per liter tidak memadai, apalagi harga minyak mentah kini sudah di bawah US$ 50 per barel. Semua ekonomi biaya tinggi dipangkas dan pelayanan birokrasi dipermudah. Kelima, pemerintah wajib mempercepat belanja modal dan belanja barang yang pada Oktober 2008 baru 50%. Bagaimana mungkin pajak yang ditarik dari rakyat dan hasil penjualan SUN hanya disimpan di BI ketika pada saat yang sama kita mengeluh kekurangan dana? Kita tidak perlu meminta bantuan IMF.

Keenam, pemerintah tidak boleh terlalu percaya diri dengan tidak mau memberikan full blanket guarantee. Dana simpanan Rp 400 triliun yang tidak dijamin bukan angka kecil. Hari ini, Bank Century dinyatakan krisis likuiditas dan harus dirawat Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Ini sinyal makin kuat bahwa seluruh dana simpanan masyarakat di bank harus dijamin pemerintah. Keterpurukan ekonomi Indonesia, jangan- jangan, lebih disebabkan oleh salah kelola ketimbang pengaruh global.

29
Nov
08

Langkah Konkret Hadapi Krisis Ekonomi

Tajuk Rencana Suara Pembaruan 28 Nopember 2008 

Langkah Konkret Hadapi Krisis Ekonomi
Indonesia tengah didera sejumlah krisis serius, yakni hancurnya harga saham dan surat berharga di pasar modal, merosotnya nilai tukar rupiah, dan krisis likuiditas yang dihadapi perbankan. Ketiga krisis ini sudah melahirkan krisis lanjutan, yakni ambruknya sektor riil. Kini, semakin banyak perusahaan yang menciutkan kegiatan usaha dan bangkrut. Gelombang PHK terus meningkat.

Menghadapi situasi sulit ini, Indonesia tidak bisa mengharapkan negara lain. AS, Eropa, dan semua negara maju kini lebih terpukul. Dalam situasi sulit ini, kita harus mampu menyelesaikan persoalan kita sendiri. Tidak bergantung pada pihak lain, baik negara maupun lembaga keuangan dunia, seperti IMF dan Bank Dunia.

Dalam situasi tidak normal seperti ini, kita perlu melakukan terobosan, termasuk menempuh kebijakan yang tidak sesuai dengan kesepakatan WTO atau APEC. Dalam situasi darurat, langkah untuk menghindarkan negara dari kebangkrutan bisa dibenarkan meski itu bertentangan dengan kesepakatan internasional. Dalam kondisi sulit, negara maju, seperti AS dan Eropa juga lebih mengutamakan kepentingan nasionalnya.

Oleh karena itu, sejumlah saran yang dikemukakan para pengamat dan pelaku usaha perlu dipertimbangkan. Pertama, ambruknya harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) perlu dicegah. Saran pengusaha nasional Mochtar Riady agar pemerintah membeli saham-saham bluechips berkinerja dan berprospek bagus perlu ditindaklanjuti.

Disarankan, pemerintah menyuntikkan dana pinjaman kepada para pemegang saham mayoritas perusahaan bluechips yang harganya sudah sangat rendah, yakni saham dengan price earning ratio (PER) di bawah lima kali. Mekanisme pengembalian dana ini bisa diatur.

Kedua, kepercayaan masyarakat terhadap perbankan harus dijaga. Kita perlu belajar dari krisis finansial di mancanegara. Siapakah yang enam bulan silam menduga bahwa Citigroup -yang memiliki Citibank, bank terbesar di diunia itu-bisa bangkrut dan akhirnya di-bailout negara? Belum terlambat bagi Indonesia untuk memberlakukan blanket guarantee. Lihatkah suntikan Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) yang sudah mencapai Rp 2 triliun.

Ketiga, sistem lalu lintas devisa dan sistem nilai tukar rupiah perlu diubah. Pemerintah tidak perlu ragu mengontrol lalu lintas devisa. Perlu diatur agar para pemilik dana tidak leluasa membawa devisanya ke luar negeri berapa pun besarnya. Misalnya, minimal selama tiga bulan, devisa tidak boleh dibawa ke luar negeri. Jumlah yang dibawa pun dibatasi. Sistem nilai tukar yang mengambang bebas (free float exchange rate) perlu diubah menjadi manage floating dengan pita intervensi, atau batas atas dan batas bawah.

Langkah ini perlu dilengkapi dengan pertama, pembatasan impor semua produk yang sudah dihasilkan di Indonesia. Yang boleh diimpor hanyalah produk yang tidak bisa diproduksi di dalam negeri dan produk yang memiliki multiplier effect tinggi, seperti: kedelai, gandum, dan susu. Harus ada gerakan masif penggunaan produk dalam negeri.

Kedua, paket stimulus ekonomi. Selain memberikan keringanan pajak dan berbagai kemudahan investasi, pemerintah perlu mempercepat belanja modal dan belanja barang. Semua BUMN sehat didorong untuk meningkatkan belanja modal dengan prioritas membeli produk dalam negeri. Peningkatan belanja pemerintah dan BUMN akan menggerakkan sektor riil.

Ketiga, meski dana terbatas, pemerintah perlu mulai mendorong pembangunan industri pengolahan dalam negeri agar kita tidak mengekspor bahan mentah dan bergantung pada impor barang jadi. Kita mulai dengan industri CPO, mumpung saat ini harga CPO lagi jatuh.




Blog Stats

  • 2,342,277 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 133 other followers